Sebelumnya, aku tidak pernah benar-benar mengharapkan sesuatu, seperti pendamping hidup kepada Yang Di Atas. Tapi, setelah bertemu denganmu, dalam setiap perbincanganku dengan Tuhan, namamu selalu menjadi yang teratas yang kuinginkan, sebagai penyempurna hidupku kelak.

Dari sekian banyak hal yang kusyukuri, bertemu denganmu adalah salah satunya yang aku aminkan.

Tak terasa, ternyata 5 tahun sudah sejak kali pertama aku melihatmu. Hari pertama setelah masa-masa orientasi putih abu-abu, kau dengan tingkah konyolmu begitu banyak mencuri perhatianku. Tidak kupungkiri, bahwa di setiap kesempatan aku mencuri pandang, memperhatikan setiap hal yang kau lakukan, melihat senyummu yang sampai sekarang masih menjadi alasanku jatuh cinta berkali-kali. Diam-diam aku mengamatimu, memutuskan untuk terus melakukan hal yang sama setiap harinya.

Jatuh cinta ternyata sesederhana itu. Memberi dengan tulus, menerima dengan lapang dada.

Dia adalah salah satu kisah terindah di masa putih abu. Cintaku berbalas, dia tidak bertepuk sebelah tangan. Walaupun aku harus menunggu sampai tahun terakhir sekolah, tidak apa-apa. Bukankah cinta begitu, tidak pernah ada kata lelah dalam bersabar.

Seperti aku yang menunggu tanpa jenuh dan jemu, dan kau yang mengungkapkannya tanpa ragu. Bukan tanpa alasan kau terlalu lama mengatakannya padaku, padahal kau tahu benar dari tingkahku yang kaku dan malu-malu. Kau bilang, bukankah hadiah terakhir adalah yang paling mengejutkan? Dan aku ingin menjadi hadiah terakhir itu.

Aku berterima kasih untuk hari-hari yang kujalani. Kau membuatnya menjadi lebih berwarna.

Advertisement

Tahun pertama, kedua, dan ketiga adalah masa-masa penantian yang tidak pernah bosan untuk aku lewati, demi mengetahui akhirnya. Aku yang memberanikan diri memulai perbincangan dan kau yang akhirnya menyerah dari rasa penasaran menjadi suka. Aku akui, akulah yang mencintaimu lebih dulu, tapi sekarang kau mencintaiku lebih dari perasaanku. Untuk itu, aku berterima kasih padamu. Hidupku yang dulu abu-abu, kini berpendar warna-warna bahagia, ketika bersamamu.

Saat jatuh cinta, bukan hanya bahagianya saja yang kau sebut-sebut dalam cerita. Ada saatnya juga menceritakan hati yang terluka.

Entah apa yang membuatku tidak percaya diri, aku mulai ragu akan hubungan kita. Aku tidak pernah merasa menjadi bagian terbaik dalam hidupmu, bahkan ketika kau telah memberikan semua yang terbaik untuk hidupku. Tiba-tiba aku berubah menjadi sosok egois yang bahkan diriku sendiri tidak mengenalinya. Berubah menjadi kekanak-kanakan yang kerap kali membuatmu kesal. Aku goyah. Aku takut.

Lalu, dengan membawa hati yang hancur berkeping-keping, kuputuskan untuk mengakhiri sampai d isini saja. Kujalani semua itu dengan luka di hati yang makin hari makin menganga lebar. Tidak ada yang bisa kulakukan selain kembali mengadu kepada Tuhan. Kalau kami memang benar ditakdirkan untuk bersama, maka kami akan kembali pada waktu yang tepat. Di saat semuanya akan baik-baik saja.

Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali.

Begitulah ungkapan yang sering kali aku baca dan aku dengar.

Di saat aku sudah memantapkan diri untuk kembali denganmu, memilihmu dengan niat yang menggebu-gebu, aku terlambat. Kau telah mencoba hubungan baru yang mungkin lebih menjanjikan ketimbang aku yang selalu merengek dulu. Pada ia yang lebih dewasa, pada ia yang lebih bisa membimbingmu. Aku kehilangan arah, tujuanku yang sebelumnya sudah aku pastikan akan berkahir disana, tiba-tiba berubah haluan. Tidak memiliki akhir, tidak memiliki batas ujungnya.

Terpuruk bukanlah pilihan. Aku tahu, cintaku tidak pernah salah.

Tidak pernah ada cinta yang salah, bahkan untuk kau yang tidak mungkin kujangkau sekalipun.

Sehari, dua hari adalah waktu bagiku untuk menyalurkan semua emosi melalui sedu dan tangis. Tapi terpuruk dan menyesali semuanya bukanlah hal yang benar. Maju selangkah demi selangkah untuk hal yang kau yakini adalah caranya. Ketika kau yakin bahwa pilihanmu adalah tepat, menunggu adalah yang akan kulakukan.

Bukan dengan mengemis atau bermain-main, melainkan dengan doa-doa yang aku kirim ke langit. Bahwa Tuhan akan selalu menepati janji atas jawabannya. Bukankah aku pernah melakukan ini sebelumnya? Menunggu. Bahkan untuk waktu yang sedikit lebih lama dari sebelumnya, aku tak apa. Tidak keberatan sama sekali.

Kesiapan diriku ternyata tidak sia-sia. Setelah memantaskan diri dalam waktu-waktu menunggumu, kau kembali sesuai janji Tuhan atas jawabannya padaku.

Semua orang berhak atas akhir yang bahagia. Sekalipun melalui kesalahan dan kesedihan, bahagia pasti akan datang.

Aku ingat. Malam itu usai aku menunaikan kewajibanku kepada Yang Di Atas, kau menghubungiku kembali. Tidak meminta dan juga memohon, tetapi menjadi perantara atas jawaban Tuhan atas janjinya padaku.

Atas ridha-Nya, kau kembali. Kuharap kali ini aku tidak akan pernah ragu lagi, seperti kau yang berani memutuskan untuk tidak ragu memilihku kembali. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa selain berusaha menjadi yang terbaik untuk doa-doamu. Beri aku waktu, maka tak akan kubiarkan kau menangis pilu. Untuk akhir kita yang pasti akan bahagia, sampai nanti, sampai kita sama-sama saling mengucap nama dalam masing-masing doa.

Jangan biarkan aku jatuh cinta padamu sekali dulu dan saat ini saja. Buat aku terus jatuh cinta padamu. Berkali-kali. Tanpa jeda. Tanpa koma. Hanya titik yang boleh menjadi akhirnya.