Ku telusuri pasir putih dengan langkah kaki perlahan sambil menerawangkan pikiranku yang melayang ke masa 17 tahun silam. Saat aku berusia 8 tahun.

Ya, waktu dimana aku & teman-teman masa kecilku tengah menikmati keindahan daerah tempat tinggal kami. Sebuah dusun terpencil yang jauh dari hiruk pikuk keramaian dan tak terjamah oleh tangan-tangan kotor manusia perkotaan (saat itu).

Kami tanggalkan baju dan hanya tersisa celana seadanya. Bertelanjang dada, menceburkan diri ke laut. Jernihnya air mampu menembus langsung ke pori-pori kulit, menyegarkan raga yang sebelumnya telah terlumuri oleh butiran pasir bercampur peluh.

Aku, Bejo, Tole, dan Usman merupakan empat serangkai yang tumbuh bersama sebagai anak-anak dari para pelaut tangguh. persahabatan kami telah terjalin saat masih dalam kandungan para Mamak. Orang tua kami sudah menjalin kekerabatan layaknya sebuah keluarga besar sesama perantauan yang terdampar dan dipertemukan oleh nasib.

Sekarang sudah 17 tahun berlalu sejak kami meninggalkan tanah kelahiran. Berpisah menempuh jalan masing-masing demi meraih cita serta harapan Bapak & Mamak yang menginginkan hidup kami lebih baik dari mereka.

Advertisement

Tanpa disadari, saat dimana kami melangkahkan kaki untuk pergi adalah awal dimana kami telah menggadaikan tanah kelahiran yang masih asri itu. Mengikuti arus para pendahulu kami yang terlebih dahulu telah tergoda oleh iming-iming kehidupan kota yang terlihat menjanjikan.

Kampung halamanku tak seelok dahulu.
Kini tempat tinggal kami telah jauh berubah. Seiiring dengan masuknya para penjamah bertangan besi. Disusul oleh para kaum pemilik modal yang turut serta membawa alat-alat berat.

Kampung halamanku tak seelok dahulu.
Pemandangan nyiur kelapa dan pepohonan yang dulunya rimbun kini telah berganti menjadi bangunan-bangunan beton bertarif yang semakin banyak menarik para pelancong berdatangan.

Kampung halamanku tak seelok dahulu.
Air laut kini sudah tak lagi sejernih dulu. Sampah-sampah terlihat berserakan & menumpuk di sepanjang pesisir pantai menutupi pasir yang tak lagi putih.

Alam seakan turut merasakan kepedihanku melihat kenyataan ini. Sang Surya yang perlahan terbenam telah berganti menjadi lembayung senja, sebagai pantulan dari jiwaku yang meredup.

Hai, apa kabar wahai para sahabat kecilku? Dimana sekarang kalian berada? Kini keelokan kampung halaman kita dahulu tinggal lah menjadi bagian dari memori indah masa kecil untuk diceritakan kepada anak cucu.

Aku berharap dapat segera melihat kembali Sang Mentari. Terbangun dari mimpi buruk ini. Merapatkan barisan bersama kalian untuk mengambil sebuah langkah yang dapat menyelamatkan tempat masa kecil kita dulu. Doa & Harapku.

Salam rindu,
Samudera