Fakultas Sastra (kini Ilmu Budaya) Universitas Padjadjaran mungkin bukan pilihan menarik untuk para lulusan SMA dalam menimba ilmu. Orientasi habis lulus langsung gawe menjadikan Fakultas Sastra pilihan kedua saat seleksi masuk perguruan tinggi negeri, kecuali beberapa jurusan. Namun, di salah satu dari 14 fakultas yang ada di Unpad Jatinangor ini, Fakultas Sastra memiliki segala kisah dan bangunan yang tidak akan kamu lupa. Menyimpan banyak kenangan, terutama bagi mereka mahasiswa yang lama berjuang menimba ilmu di sini. Apa saja?

1. Di Blue Stage, Kita Bisa Nonton Gratis Konser Musik Hingga Pertunjukan Teater!

Blue Stage pasti nggak bisa lepas dari ingatan para alumni Fakultas Sastra. Bagi yang bukan anak Sastra, Blue Stage itu bangunan serupa panggung besar permanen. Warnanya dominan biru. Di sini, kamu bisa dapet tontonan gratis konser musik hingga teater. Biasanya, fakultas ngadain acara-acara kayak begini, hampir setiap tahun. Di jejeran tangga yang berfungsi sebagai kursi setengah melingkar, kamu bisa menikmati pertunjukan dengan santai, sambil ngeceng.

2. Pakilun, Jajanan Anak Sastra Murah Meriah Sekaligus Tempat Nongkrong dan Ngutang.

Pakilun adalah singkatan pedagang kaki lima Unpad. Kebetulan, pas di seberang gerbang Sastra, agak naik sedikit lah, pakilun pada mangkal. Jajanan dari rujak, batagor, hingga warung rokok kecil ada di sini. Mereka berjejer di bawah pohon. Biasanya anak Sastra sering mejeng di sini dulu sembari godain anak Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) yang lewat, hehehehe. Sekarang, pakilun dipindah ke belakang Gedung C Fakultas Ilmu Budaya.

Advertisement

3. Yel-yel Pembangkit Semangat Saat Pengenalan Fakultas Sastra

Angkatan 2000-an awal dulu, dan sebelumnya, pasti nggak lupa sama yel-yel pembangkit semangat saat dibariskan di lapangan depan Gedung Dekanat Sastra. Kakak-kakak yang ngospek saat Pengenalan Fakultas Sastra (PFS) selalu membimbing mahasiswa baru meneriakan yel-yel ini. Nah, masih inget gimana yel-yelnya? “I Wanna Go, Sastra Go! I Wanna Fight, Sastra Fight! I Wanna Win, Win, Win, Sastra Win! Oooo…Sastra!” sembari baris panas-panasan.

4. Hymne yang Bikin kamu Terharu Kalau Mendengarnya Lagi

Hymne Sastra juga pasti bakal nyantol terus di kepala para jebolan Fakultas Sastra Unpad. Lagunya yang membumi, cenderung melankolis, tapi maknanya mendalam banget, membuat kita ingin meneteskan air mata bangga kalau menyanyikan atau mengingatnya lagi. “Tercatat namanya, dalam kebanggaan nusa bangsa. Tercatat namanya, dalam tonggak negara. Dia lahir perkasa, dan berwibawa. Sebuah nama, sebuah nama, Fakultas Sastra Unpad.” Lagu yang daya magisnya luar biasa ini diciptain oleh seniman legendaris Bandung, almarhum Harry Roesli. Sekarang, seiring pergantian nama fakultas menjadi Ilmu Budaya, saya nggak tau lagunya kayak gimana, deh.

5. Kansas: Tempat Nongkrong, Makan, Minum, Ngegosip, Nyanyi-nyanyi.

Kansas adalah singkatan dari Kantin Sastra. Kantin ini, dulunya berada persis di sebelah Gedung Dekanat. Di sini, mahasiswa yang kelaparan dan galau bisa berkumpul. Ada beberapa payung dengan meja bundar. Aneka jajanan, mulai dari nasi dan segala sayuran maupun makanan ringan dijual. Kini, Kansas berubah menjadi gedung Pusat Bahasa. Terakhir, Kansas dipindah ke belakang pos satpam fakultas. Segala memori indah di Kansas, pasti masih terekam jelas. Bagaimana kamu kecewa sama dosen karena memberi nilai jelek, curhatan seorang mantan, berlatih baca puisi, makan dan minum sampe puas, dll. Selain di Unpad, ternyata Kansas juga jadi sebutan untuk kantin di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

6. Student Center, Tempat Ngumpul Anak Himpunan, Gonjrang Gonjreng Sampe Diskusi Serius.

Di bagian atas Blue Stage terdapat gedung bertingkat dua, yang terkotak-kotak. Itu adalah student center atau himpunan mahasiswa. Di sini, di tiap kotak ruangannya, dipakai sebagai “kantornya” mahasiswa tiap jurusan. Di sini biasanya mahasiswa baru didata di himpunan, dan dibariskan saat jelang ospek jurusan (dahulu). Di sini, kita biasa nongkrong-nongkrong sampe larut malam, berdiskusi masalah ospek, atau bahkan menginap kalau sudah malam sekali. Tiap ruangan punya ciri khas masing-masing, sesuai jurusan. Ngopi dulu…

7. Barudak Sastra Pastilah Kenal Orang Paling Tenar se-Sastra: Atep!

Sejatinya, Atep berprofesi sebagai pedagang asongan. Waktu saya kuliah tahun 2002, Atep berdagang dengan kotak dagang di belakang Gedung B. Kalau nongkrong, Atep lah tempatnya. Atep jualan makanan ringan, roti, bacang, permen, dan rokok. Selain gampang gaul sama mahasiswa, Atep yang suka ngelucu ini menjadi semacam ikon Sastra. Menurut cerita alumni angkatan 1992, Atep ini pedagang dari Subang, Jawa Barat. Dia bersama pedagang dari kampungnya, awalnya berjualan di kampus Unpad Dipatiukur, Bandung. Terus pindah ke Sastra tahun 1990-an awal. Tempat dagang Atep pindah-pindah. Di Sastra, awalnya dia berdagang di depan Gedung B. Lalu ke belakang Gedung B. Kemudian dapat ruangan salah satu kelas tak terpakai di Gedung B. Lalu pindah lagi ke ruangan belakang Blue Stage. Nah, sekarang ada di belakang Gedung C. Mau tanya apa sama Atep? Tanya aja, dia tau semua soal kampus, hehe.

Tentu masih banyak sekali kenangan tak terlupan di Fakultas Sastra, yang kini berubah jadi Fakultas Ilmu Budaya itu. Ada Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) dengan mahasiswinya yang cakep-cakep, perpustakaan tempat membaca buku, dan kelas-kelas tempat kita belajar. Kamu kangen Sastra? Ayo, renunian!

Fandy Hutari, wartawan dan penulis lepas. Bisa ditemui di www.fandyhutari.com, twitter @fandyhutari dan Facebook Fandy Hutari.