Berawal dari tidak kenal, tidak peduli, dan bersikap bodo amat dengan orang-orang di sekitar menjadikan sebuah perubahan jadi saling bergantung, ingin selalu bersama, rindu canda tawa, ingin terus ditemani dan mulai takut untuk berpisah. Bagaimana bisa terjadi? Tentu saja karena waktu. Waktu yang membuat kita terbiasa bersama, terbiasa untuk saling melindungi, membantu sesama dan tak pernah membiarkan yang lain menangis. Itulah yang terjadi dari zaman maba sampai semester akhir. Sikap "tak peduli" dan "ah terserah lah!" berubah menjadi "are you okay?" dan "aku di sini".

Masih kuingat bagaimana awal kita bertemu, malu. Tapi kini? Nggak tau malu!

Duduk bersama bersembilan di manapun dan kapanpun kita selalu tertawa macam orang gila. Bahkan ketika cuma tersisa tiga orang, kita masih bisa mendominasi. Ruangan yang sepi jadi ramai, bertiga berasa berlima. Bisa kalian bayangkan bagaimana ramainya kita kalau bersembilan kumpul?

Di situ kita belajar untuk nggak egois, belajar untuk saling membantu dan menghargai. Kebayang nggak sih kamu gimana rasanya nahan lapar sampe 4 jam karena nungguin temanmu yang di PHP dosen waktu mau sidang skripsi? Sudah mau kabur beli makan, tapi salah satu bilang "Aku di sini aja, kasian Ibor sendirian. Kalian makan aja"

Dan kalian tau akhirnya apa, kita milih untuk sama-sama menahan lapar dan ada di sana untuk Ibor yang mau sidang. Ngedumel otomatis, siapa nggak yang emosi gegara lapar? Tapi kalo laparnya barengan ya nggak masalah, anggap aja kita lagi puasa. Not too bad lah.

Advertisement

***

Aku sudah selesai!

Sidang sudah, yudisium kelar, SKL sementara sudah keluar. Aku nggak punya alasan untuk ke kampus lagi, sebenarnya.

Tapi selalu ada pengecualian untuk hidup. Dan selalu ada pengecualian untuk nggak punya alasan datang ke kampus. Siapa yang jadi alasan? Atau mungkin apa?

Mereka! Teman-temanku yang selalu ada untukku kapanpun. Itu yang jadi alasan buatku datang ke kampus. Nggak guna sebenarnya, orang di sana juga cuma ngobrol nggak jelas dan berakhir dengan gibah. Tapi mau gimana lagi, mereka sudah jadi candu buat aku sendiri. Aku lebih merasa nggak guna kalo cuman diam di kosan dan main di depan laptop. Seenggaknya saat aku ke kampus aku lihat dunia luar, menghirup udara segar, merasakan hangat matahari, dan otomatis bertemu orang yang benar-benar orang. Itu yang penting.

Ketemu sama orang di luar ruangan merupakan anugerah. Kamu nggak bakal bisa dapatin pengalaman itu kalo diam di dalam kamar. Beneran! Makanya senggak bergunanya aku ke kampus, aku selalu punya alasan yang membenarkanku untuk selalu datang ke kampus. Aku nggak pengin stres sendiri, kalaupun harus stres aku pengin stres bareng teman-temanku.

Kalau ada yang bilang aku adalah manusia yang sok waras di depan orang lain dan bakal balik gila di depan teman-temanku mungkin nggak salah. Karena benar deh, aku bisa jadi diri aku sendiri, ngomong nggak karuan tanpa khawatir bakal ada yang sakit hati, tanpa khawatir nggak dipedulikan mereka karena memang kita sudah terikat sebuah kontrak tak tertulis kalo nggak boleh sakit hati sama omongan teman sendiri. Mereka ngomong pake mulut, nggak pake hati. Jadi balas aja pake mulut, jangan di simpen di dalam hati. Itulah salah satu sebabnya kenapa kita kalo kumpul selalu ramai. Karena kita bakal selalu menyuarakan apa yang ada di mulut kita, bahkan kita nggak pernah mikir kalimat itu bakal nyakitin dia apa nggak. Siapa yang peduli kalau kita sudah hidup dalam lingkaran yang sama dan mematuhi peraturan tak tertulis itu.

Satu ketika pernah kita lagi kumpul di gazebo kampus. Kebetulan cuma ada tiga orang termasuk aku. Di seberang aku liat ada salah satu teman sekelas yang jalan sendiri. Aku coba ingat-ingat apa aku disapa sama dia tadi waktu ketemu di fakultas? Dan ternyata nggak.

"Rek, kalian tadi disapa sama Okta ga?"

"Engga. Kenapa, pengin disapa? Biar aku aja yang nyapa."

"Bukannya gitu, cuma kan kita teman sekelas."

"Nggak jaminan Shyn temen sekelas bakal selalu nyapa kamu. Jangan sakit hati, karena itu berarti masa aktifmu sama dia sudah habis."

"Sudah abis?"

"Iya, masa bertemanmu sama dia sudah selesai. Sampai situ aja, dia nggak pengin perpanjang lagi."

"Sudah, nggak usah terlalu dipikir. Macam kamu sendirian aja, Nggak punya temen lagi. Kamu nggak anggep aku sama Jon di sini?"

Senyum. Cuma itu yang bisa aku kasih waktu ingat pembicaraan singkat kita. Macam nggak mutu, tapi penuh makna.

Sekarang tinggal menghitung bulan. Maksimal empat bulan kita punya waktu untuk barengan, itupun aku yakin nggak full macam dulu. Karena di otak kita sudah mulai memikirkan "Abis ini ngelamar kemana? Aku stay di Malang, balik kampung halaman apa ngerantau ya?".

Sedih? kok, sudah waktunya aja. Marah? Sama siapa dan buat apa? Nggak punya alasan buat marah.

Aku nggak mungkin halangin jalan temanku, sama halnya mereka juga nggak mungkin halangin jalanku. Kita sama-sama bakal jalan di jalur yang berbeda dan berharap bisa mencapai puncak yang sama. Dan selalu terselip dalam doa di bibir masing-masing, "Please, kasih kesempatan buat kita kumpul dan ngomong receh macam dulu lagi. Please jaga mereka untuk momen itu, mudahkan jalan mereka serta jalanku. Dan please, jangan biarkan masa akif pertemanan kami habis. Karena aku bakal dengan senang hati selalu isi pulsa dan kuota biar tetap aktif dan nggak bakal biarin masuk masa tenggang."