Hai, aku memang tidak mengenalmu, bahkan bertatap muka saja belum pernah sekalipun. Tapi dengan besar hati aku ucapkan selamat untukmu. Sselamat karena ternyata hatinya memilih kamu. Hati yang sangat aku harapkan untuk suatu saat bersanding dengan hatiku, hati yang selalu aku jaga dalam doa-doaku, dan hati yang ternyata tak menambatkan pilihannya terhadapku.

Sejak aku tahu dia sudah menjalin komitmen untuk berserius menjalani hubungan denganmu, semenjak itu pula mimpiku runtuh. Aku coba tak terlarut lebih lama dalam berpatah hati, karena aku sadar jika sayang itu tak pernah egois. Sekalipun itu berat dengan sangat rela aku melepasnya untuk kau jaga. Kini doaku tidak hanya untuknya, tetapi kalian. Semoga kalian saling menjaga hingga apa yang sudah kalian rencanakan dapat tercapai.

Jika berbicara tentang aku, sudahlah… Hingga detik ini aku masih mampu bernafas, semua hariku masih sama hanya saja tidak dengan mimpiku. Ternyata selain jatuh cinta, diam-diam aku lupa mempersiapkan diri tentang resiko buruknya. Hatiku sudah cukup patah, satu mimpiku untuk menjalani masa depan dimana ada kamu disana juga sudah hilang. Tidak mudah bagiku mencari jalan baru untuk meneruskan hariku. Aku memilih untuk berputar balik sambil terus berlalu.

Kepadamu yang beruntung karena hatinya memilihmu…

Aku dengar berbagai keluh kesahnya tentangmu, bagaimana dia dengan cemas menunggu jawabanmu atas komitmen yang ingin dia jalani bersamamu. Jika aku boleh memohon, jangan acuhkan dia, aku yakin dia bisa membahagiakanmu. Aku kenal betul sosoknya, kamu sungguh beruntung jika mampu mendapatkan cintanya. Untuk itu aku mohon jangan acuhkan dia. Aku hanya tak tahan dia terus gelisah menunggu jawaban darimu.

Advertisement

Beberapa waktu lalu aku sempat tak mendengar kabarnya,aku yakin itu pertanda bahwa dia baik-baik saja. Namun tiba-tiba dia hadir dalam chat pesanku dan bercerita bahwa kalian berakhir, benarkah hal itu? Adakah alasan yang kuat untuk keputusanmu ini selain berlalu meninggalkannya begitu saja? Menurutmu apakah aku harus berbahagia karena hal ini?

Bisa saja jika aku sangat berambisi untuk memilikinya. Tapi sayangnya aku tak setega itu. Harus aku akui dia sangat jahat karena berulang kali menceritakan hubungan kalian tanpa dia sadari aku pernah patah hati karena hal ini. Anehnya telingaku seakan kebal, dia tetap setia mendengar semua keluh kesahnya. Saking setianya aku menyimak segala yang diceritakan, aku serasa terhanyut dengan kisah kalian.

Hatiku seketika getir saat mengetahui hatinya patah olehmu. Harapan yang dia bangun dan pertahankan runtuh. Dan yang paling membuatku terenyuh saat mengetahui dia sedang mempersiapkan sesuatu untuk hubungan kalian yang lebih serius. Jika boleh berandai, seandainya semua itu dipersiapkannya untukku. Tapi disini aku harus terima realitanya jika semua bukan untukku. Disini aku hanya sebagai "figuran" yang hadir saat dibutuhkan. Dan sebagai figuran yang baik, aku terus memperhatikan kalian secara diam. Berharap kisah yang ada tetap berjalan sesuai skenario yang kalian buat.

Tahukah dia saat ini patah hati? Dan bukan hanya dia, ada aku yang entah mengapa sekali lagi turut berduka. Aku dulu merelakan dia bersamamu untuk berbahagia, bukan untuk kembali dengan cerita yang menyedihkan seperti ini. Terkadang aku tak kuat melihatnya bersedih, rasanya batinku ingin menangis.

Seandainya bisa, ingin sekali aku menepuk bahunya dan berada di belakangnya sampai Ia bangkit. Hanya cukup di belakangnya saja. Aku masih menjaga space di sampingnya agar tetap kosong barangkali kamu berubah pikiran atas keputusanmu dan memilih untuk kembali dengannya lagi.

Andai saja kamu tahu jika ada yang ingin berada di posisimu sebagai hati yang dia pilih. Mungkin kamu akan berpikir ulang untuk mematahkan hatinya seperti ini. Percayalah, dia sangat menyayangimu. Dan sebagai orang yang menyayanginya diam-diam, aku berdoa yang terbaik untuk kalian. Jika aku boleh berpesan, jangan siakan yang menyayangimu karena kamu tak pernah tahu bagaimana di luar sana ada yang sangat ingin berada di posisimu.

Teruntuk kamu yang berpatah hati, jangan pernah menyerah selagi belum ada ujung jalan yang buntu. Aku selalu di belakangmu