Kamu yang awalnya menyebalkan, tiba-tiba saja berubah menjadi pusat perhatian. Saya bertanya-tanya, apakah saya sedang jatuh cinta?

Saya sering memikirkan, apakah orang yang sedang jatuh cinta juga seperti saya. Mencintai Senin karena ia adalah permulaan setelah Minggu yang terasa panjang dan membosankan. Bagi saya Senin adalah hari dimana saya bisa melihatnya lagi. Memperhatikannya dari jauh. Mendengar suara tawanya yang aneh. Dan melihat kelakuan-kelakuan konyolnya yang selalu berhasil membuat saya senyum sendiri.

Ini adalah cerita lama. Tentang dia dan saya pada masa-masa SMA. Berawal dari MOS, saya mengetahui namanya, memberanikan diri untuk memperhatikannya lebih dari satu menit–untuk pertama kalinya–dan mengetahui tentang sesuatu.. Apakah saya tertarik padanya? Mungkin iya, sebuah nama yang terdengar sangat menarik di telinga saya, jangan bertanya alasannya, karena sampai sekarang pun saya belum berhasil menemukan alasan yang tepat dan benar. Yang saya tahu, saya menyukai namanya, dan langsung menjadikannya tokoh utama dalam buku harian saya.

Saya tidak tahu apakah takdir sedang menari diatas saya, karena saya selalu percaya tidak pernah ada yang kebetulan. Tuhan sudah merencanakan. Kami berada dikelas yang sama, dan dia duduk tidak jauh dari tempat saya duduk.

Hari demi hari berlalu. Pun saya yang masih dan terus memperhatikannya setiap hari.

Pernah suatu hari, dia menemukan sebuah alasan untuk saya sebagai objek bully-an-nya. Entah apa itu, tapi membuat saya cukup sebal. Karena kata-kata yang keluar dari mulutnya, membuat satu kelas tertawa. Saya merasa.. Apakah pantas saya terus menyimpan rasa tertarik untuknya? Disaat seseorang itu telah menjadi alasan saya untuk malas pergi ke Sekolah.

Kelas sepuluh telah berlalu. Saya cukup lega, karena akhirnya saya yakin saya tidak akan bertemu dia kembali di kelas berikutnya. Senyum mengembang saat saya mengetahui saya berada dikelas yang sama dengan teman sebangku saya, tapi senyum itu tiba-tiba berubah menjadi cemas saat melihat namanya diatas nama saya. Dia kembali menjadi teman kelas saya. Kami berada dalam jurusan dan kelas yang sama untuk dua tahun kedepan.

Hari pertama untuk kedua kalinya pun dimulai. Dia masih dengan bercandaannya yang menurut saya tidak lucu sama sekali, dan suara tawa khas-nya yang membuat saya ingin menutup telinga rapat-rapat.

Pernah mendengar tentang;

Perlakukanlah sesuatu yang kau suka dengan biasa-biasa saja, karena nanti bisa saja kau akan membencinya. Begitu juga sebaliknya, perlakukanlah sesuatu yang kau benci dengan biasa, karena jika itu berlebihan maka suatu saat ia bisa saja menjadi sesuatu yang sangat kau sukai.

Saya yang pada awalnya tertarik, karena sesuatu kesalahan fatal yang dibuat olehnya, rasa tertarik itu menjadikannya rasa benci yang tidak termaafkan. Tingkah lakunya yang dulu yang mampu membuat saya senyum salah tingkah, kini berubah menjadi rasa kesal yang tidak berkesudahan.

Sampai suatu hari, kami diletakkan didalam satu kelompok yang sama. Kelompok yang akan menyita waktu kami untuk beberapa hari kedepan karena kami akan melakukan penelitian. Belum-belum, saya sudah memasang wajah-tidak-suka-padamu, padanya. Dia yang saat itu juga melihat saya menjadi salah tingkah, entah apa yang dipikirkannya tentang saya.

Hal pertama yang terlintas di kepala saya ketika saya menerima sebuah pesan singkat darinya yang berisi, "Maaf," adalah karena dia bukan tipe orang yang suka bekerja sama dalam diam. Saya berani jamin sifatnya sama seperti saya, karena kami berdua adalah Taurus untuk bulan lahir yang sama.

Pertama-tama, saya tidak bisa memaafkannya. Tapi.. Perhatian dan pesan singkatnya yang berisi permohonan maaf membuat saya luluh. Saat penelitian kami telah berada pada hasil akhir, saat itu juga kami saling memaafkan.

Dia kembali menjadi pusat perhatian saya. Dia kembali lagi menjadi alasan saya mencintai hari Senin dan menganggap hari Minggu itu membosankan. Dan juga kembali menjadi alasan saya tersenyum sendiri ketika sedang menatap layar ponsel.

Awalnya saya biasa-biasa saja, tapi karena satu alasan yang tidak akan pernah bisa saya pikirkan dengan logika, saya menyelipkan sebuah harapan. Harapan untuk rasa yang sama, dan menjadi 'kita'.

Saya tidak ingin tahu tentang perasaanmu, untuk saat ini. Biarkan saya menjadi akrabmu lebih lama lagi.

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan ketika kau bisa berada dalam jarak terdekat dengan orang yang kau cintai. Seperti saat ini. Ketika dia duduk disamping saya untuk sekadar menjelaskan materi pelajaran yang belum saya pahami. Tidak perduli dengan 'cie-cie' dari teman-temannya, dia bahkan memilih untuk berlama-lama duduk disamping saya. Setidaknya sampai bel masuk berdering kembali.

Hari-hari berlanjut seperti itu. Membuat rasa tertarik saya bertambah lagi dan lagi. Kali ini sudah pada tahap yang tidak bisa saya tangguhkan. Saya menjadi salah tingkah dihadapannya, ada rasa malu ketika dia duduk disamping saya, dan menjadi sangat cemburu ketika dia duduk dengan anak perempuan.

Tapi saya tidak berani untuk memastikan perasaannya terhadap saya. Saya takut dengan kemungkinan ditolak dan merasa patah hati.

Jadi untuk saat ini, keputusan yang saya pilih adalah bermain dengan perasaan dan berakting baik-baik saja. Akrab saja sudah cukup, bonus adalah ketika dia bisa membalas perasaan saya dengan rasa yang sama.

Hari berganti menjadi bulan. Bulan-bulan berlalu sampai pada tahun. Dan ini adalah tahun terakhir kami di SMA. Kesempatan terakhir saya untuk menyatakannya.

Ungkapkan lah, sepahit apapun kenyataannya. Ditolak dan patah hati adalah resiko ketika kau memutuskan untuk berani jatuh cinta. Dan dibalas dengan perasaan yang sama adalah resiko bonusnya.

Dahulu saya pernah menonton sebuah film. Di film itu, menceritakan tentang seorang perempuan yang jatuh cinta dan tergila-gila kepada teman lelakinya, tetapi karena ragu dengan perasaan masing-masing, maka mereka membiarkan perasaan itu sampai pada batas akhir. Akhir yang juga tidak dimanfaatkan untuk menyatakan perasaan, lalu berakhir dengan kehilangan.

Saya membayangkan, apakah nanti kisah saya juga seperti itu?

Malam adalah waktunya kami menceritakan sepanjang hari tadi. Saya dan dia. Saya merasa bahwa kami sudah seperti orang yang pacaran. Karena dia menceritakan segala hal kepada saya, pun saya yang merasa bebas dan leluasa untuk menceritakan semua keburukan dan kejelekan saya tanpa malu lagi.

Memutuskan untuk menyatakannya sekarang, saya mulai mengubah topik pembicaraan lebih kepada pertanyaan-pertanyaan tentang perasaannya pada saya. Dia membalasnya dengan kata-kata singkat yang membuat harapan saya perlahan-lahan mulai pupus.

Apakah ini waktunya saya menyerah? Setelah berjuang menahannya selama tiga tahun? Tanpa terasa sesak di dada membuat airmata saya mengalir tanpa saya sadari. Saya tidak ingin melanjutkan percakapan kami malam itu, memilih untuk mematikan ponsel dan menguburnya dalam malam yang panjang.

Dalam kesendirian masing-masing, saya bertanya-tanya, apakah dia sedang memikirkan saya? Seperti saya yang sedang memikirkannya. Mungkin sepi adalah definisi untuk rindu yang tepat bagi saya. Saya merindukannya. Dia yang kini tidak terjangkau.

Setelah kemungkinan-kemungkinan yang membuat saya terpuruk, sebatang mawar merah dan sekotak coklat akhirnya datang.. Dia!

Malam itu karena suatu penyakit, saya diharuskan untuk datang kerumah sakit dan memiliki perawatan intens. Sedikit dari teman-teman yang tahu, dan saya berharap dia juga tidak mengetahuinya. Saya tidak ingin terlihat jelek dengan mata sayu dan bibir pucat dihadapannya.

Saat ini saya tidak butuh obat. Saya butuh kamu sebagai penyemangat!

Lalu dia datang dengan sebatang mawar merah dan sekotak coklat dihadapan saya. Dia memberikan senyum malu-malunya pada saya untuk pertama kalinya! Saya tahu, dia mencintai saya seperti saya mencintai dia. Dia menginginkan saya seperti saya yang juga sangat menginginkannya. Dia memendam rasa sama seperti saya yang memendamnya hingga ingin meledak. Saya mencintai dia, pun sebaliknya, dia yang juga mencintai saya.

Advertisement

Terkadang, semuanya tidak harus diungkapkan dengan kata-kata. Ekspresi dan perilaku juga bisa menggambarkan apa yang sedang berkutat dan tidak ingin hilang dari dalam kepalamu. Maka, saya memutuskan untuk memberikan senyum sebagai jawaban 'Iya', sama seperti dia yang membawa mawar dan coklat sebagai pengganti.. 'Maukah kau bersama dengan saya?'

For this ending.. Kita.