Senja di langit sabtu kala itu, membawamu kepadaku dengan segala kerinduan setelah terbelenggu jarak dan waktu selama berminggu-minggu. Kamu adalah manusia tepat waktu dan tepat janji, dengan begitu kamu datang ke kotaku untuk menuntaskan rindu yang bahkan aku sendiri hampir kesulitan menepisnya selama kamu berada di kejauhan sana.


Menguatkan diri sendiri dengan hanya mengingat senyummu di setiap belenggu rindu yang semakin berkecamuk, percayalah itu tidak mudah sayang. Tentang rinduku yang selalu menjadi do’a untukmu, semoga begitupun dengan rindumu.


Dan hey, akhirnya kita bersua disini di kotaku. Kamu terlihat sedikit lebih kurus dari kamu yang ku temui beberapa minggu lalu. Kita saling tersenyum terasa ada beban yang mulai lebur disana, sosok keras kepala yang selalu menjadi penyemangat juga merangkap sebagai sahabat kini ada di depanku menggenggam tanganku dan bercerita bagaimana kamu bertaruh dengan jarak dan waktu selama berminggu-minggu. Sekali lagi terima kasih sudah berusaha datang untuk membayar rindu.


“ Karena tidak ada yang lebih indah dari kejutan yang datang dari ratusan kilometer.”


Tapi itu adalah tentang senja dilangit sabtu tiga bulan lalu yang tentu saja berbeda dengan senja hari ini. Jika boleh meminta, aku tidak ingin ada senja hari ini karena entah betapapun indahnya yang berlalu akan tetap berlalu.

Advertisement


“ Senja begitu tabah menanti petang, walau senjapun tahu bahwa petang yang akan melenyapkannya dalam sederet malam. Tapi bukanlah senja jika ia tidak bersinar diujung gelap, dan aku selalu menikmati senja dalam bibir pantai yang sama, dengan hal dan kebiasaan yang sama pula, tetapi ada sedikit perbedaan dengan senja sore ini, yaitu senja kemarin aku nikmati sisa penghabisan rasa semesta bersamamu, tetapi hari ini tidak, senja membawamu pergi dariku.” – Fingky Puspita


Kamu, ya kamu si manusia tepat waktu dan tepat janji. Apakah ini juga bagian dari ketepatanmu itu? Apa menurutmu ini waktu yang tepat untuk pergi? Apa ini bagian dari janjimu pada diri sendiri? Maaf jika aku sudah terlalu banyak ingin tau bahkan menuduh, tapi asal kamu tau aku tidak seberuntung kamu!

Bahkan masih jelas nada bicaramu yang terdengar datar namun tegar mengakhiri apa yang pernah kamu mulai dengan kalimat simple “ Perasaanku ke kamu udah nggak sama lagi “, mendengar kalimat itu rasanya tidak ingin berkedip sedetikpun menikmati indahnya goresan kalimat yang mungkin sudah terencana dengan matang sejak berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan lalu.


“ Apakah kau ingat saat kita berjanji untuk saling membahagiakan? Katamu, setiap perasaan yang tumbuh adalah sebuah alasan. Alasan bahwa hati patut dipertahankan. Namun, cinta saja belum cukup menyatukan mimpi yang berbeda di antara kita. Dan, menepati janji ternyata tak semudah mengucapkannya.” – Boy Candra


Selamat! Rencanamu mematahkan hati seorang anak gadis yang mati-matian dibahagiakan oleh orangtuanya berhasil bahkan sempurna. Kamu menciptakan luka yang begitu menakjubkan, semenakjubkan saat kamu memintaku untuk menjadi bagian dari hari-harimu.

Entah apa salahku sampai kamu dengan polosnya pergi berlalu seakan tidak ada yang terlukai. Kamu memang baik-baik saja, tapi bagaimana denganku? Asaku? Semuanya hancur bersama dengan perasaanku. Aku memang mencintai sifat kerasmu itu tapi bukan keras untuk pergi.


“ Karena merelakan kehilanganmu tak semudah suka cita menemukanmu “


Dan pada akhirnya senja yang membawamu datang juga yang membawamu pergi, itu sebabnya mulai saat ini aku akan mencintai senja sekedarnya saja. Tidak untuk berlarut-larut karena senja hanya menampakan keindahannya sementara, begitupun kamu yang pergi berlalu saat sedang indah-indahnya dan aku sedang cinta-cintanya.