Yakinlah, Kesucian cinta telah kau dapatkan bahkan ketika hari pertama kau hadir di bumi. Masih bertanya-tanya juga? Tak lain dan tak bukan ialah cinta orang tua kepada anaknya.


Pada hari itu, ketika kehidupan di dalam kandungan telah usai dan kehidupan di dunia segera di mulai, aku memang belum bisa melihat bagaimana rupa wajah ayah dan ibu namun hangat kurasa kesucian cinta terpancar dari senyum mereka ketika melihat tubuh mungilku bergeliat dan renyah suara tangisku mengisi ruangan putih di dalam rumah sakit. Suara indah Adzan  ayah yang mengisi telingaku untuk pertama kali merupakan awal perjalananku sebagai seorang manusia. Lalu aku mulai tumbuh dengan kasih sayang dan ketulusan cinta yang mereka beri. Seringkali aku rewel dan susah diatur. Mulai dari belajar berjalan, berbicara, menulis, hingga menyanyi. Orangtua merupakan guru pertama. Sudah sepatutnya kita sadar, maka ucapkanlah “terimakasih Ayah, Ibu” 


Semakin ku tumbuh besar, semakin engkau diuji oleh rasa sabar, Maka sadarkan lah aku.


Seiring berjalannya hari, masa remaja itu datang dan aku mulai tak acuh dengan petuah-petuah ayah dan mengabaikan perhatian-perhatian tulus ibu. Sedangkan aku diluar sana sibuk dengan duniaku, bersenang-senang dengan teman sebaya, sering bolos sekolah, melupakan orangtua yang susah payah mencari nafkah, dan meminta uang tanpa mengerti kondisi orang tua. Kerap ku lupa akan kewajibanku sebagai seorang anak, yang harusnya membanggakan dengan nilai rapot di kelas, bukan malah membuat masalah di sekolah hingga terpaksa membuat ayah atau ibu datang ke sekolah. “Aisssh maafkan anakmu ini Pak,Bu.”

Dengan cinta tulus mereka yang tiada tandingnya, mereka rela melakukan apapun demi kita, senakal dan sebandelnya kita sebagai anak, orang tua lebih memilih mengabaikan kebahagiaan mereka bahkan kesehatan mereka demi si anak yang selalu minta dipenuhi.

Advertisement


Gerbang masa depan telah datang, dan aku telah sadar. Maka saatnya aku harus membayar.


Sesungguhnya masa remaja ku yang bahagia itu tak ada artinya jika kalian juga tak bahagia Pak, Bu”.

Maka dari itu ketika gerbang masa depan telah datang dan dewasa sudah di depan mata, kini saatnya aku harus membuat kalian bahagia. Maafkan anak kecilmu yang nakal ini, sungguh tak ingin ku melihat air mata jatuh di pipimu yang mulai menua itu. Rasanya hati ini tercabik dan jiwa ini teroyak. Sudah cukup untuk aku membuat kalian gusar dengan perilaku diriku yang kasar. Kini akan aku buktikan bahwa aku, anak kecilmu yang selalu membuatmu mengeluh kala itu, akan membuatmu terharu. Bukan lagi menangis karena perilaku nakalku dulu, melainkan menangis karena prestasi dan masa depanku yang akan kau banggakan.

Doa-doamu yang membuatku bisa berada di titik ini, semangat mu yang membuat aku selalu kuat, dan harapan-harapannmu yang mendorongku untuk menjadi nomor satu. Ijinkan aku mempersembahkan sesatu yang memang seharusnya kulakukan untukmu. Ijinkan aku membahagiakan mu di sisa waktu bersama yang kita miliki ini. Aku sadar bahwa apa yang ku beri tak sebanding dengan apa yang pernah kalian beri. Air susu ibu yang membuatku bisa sekuat ini, cucuran keringat kerja keras ayah yang membuatku tumbuh menjadi tangguh. Kupastikan kalian adalah hidupku, tujuan dari mimpi – mimpiku.


Pak, Bu. Bimbinglah aku menuju hidupku yang baru.


Jika suatu saat telah kutemukan pendamping hidup, ijinkan lah aku untuk memulai hidupku yang baru. Janganlah kau ragu dan khawatir, aku tetap anak kecilmu yang dulu, yakinlah takkan ada yang berubah dari kita, hanya saja kini ku telah tumbuh menjadi manusia dewasa. Yang tetap saja butuh kau bimbing dan kau dampingi entah sampai kapanpun itu. Doakan anakmu ini untuk menjadi manusia dewasa yang kuat, yang  kelak akan menjadi orang tua layaknya kalian. Doakan aku mampu menjadi orangtua yang kuat sekuat kalian mengahadapiku dulu, dan kelak akan ku ceritakan kepada anak-anakku bahwa aku mempunyai orangtua yang cintanya luar biasa tulus tak ada tandingannya. Sungguh Bangga sekali memiliki orangtua seperti kalian.


Adakah hal yang lebih menyaktitkan didunia ini selain kehilangan orangtua? Kurasa tidak !


Beruntunglah kalian jika masih dianugerahi kedua orang tua yang lengkap, masih sehat, masih bisa melihat senyumnya  mengembang, masih bisa mendengar gelak tawanya yang renyah namun ringkih, masih sering diomeli karena telat pulang ataupun sekedar lupa makan. Yah, sebesar apapun kalian, sedewasa apapun dan sesibuk apapun, kalian tetap saja anak kecil bagi mereka.

Suatu saat kalian  akan rindu siapa yang setiap pagi mengantar ke depan pintu ketika  berangkat sekolah, kuliah ataupun kerja. Tak terbayangkan bagaimana rasanya kehilangan orangtua. Takkan ada lagi pelukan malaikat yang menenangkan seperti pelukan seorang ibu, tak ada lagi perlindungan yang kokoh seperti benteng kuat milik ayah. Lalu Tuhan, kepada siapa bahagia ini akan kubagi? Bahagiaku pergi bersama orangtuaku, tak ada lagi semangat-semangat ayah setiap pagi, tak ada lagi perhatian – perhatian ibu di setiap keluh ku. Sesalku kian dalam ketika mereka pergi dan aku tak sempat membuatnya bangga. Doa – doa itu, semangat – semangat itu dan harapan – harapan itu, pupus sudah. Semua terasa begitu cepat, dan yang ku mampu hanya mendoakanmu diatas tanah tempatmu istirahat, sembari memandang nisanmu dan melamunkan hal-hal bahagia kita yang dulu.

Pesanku hanya satu untuk kalian yang masih memiliki kedua orang tua, tengoklah sebentar,


 disetiap kerut wajahnya yang menua, ada lelah yang tak mampu kau bayar.


Maka jangan pernah sekalipun membuat sakit perasaan orang tua, sekaya apapun dan sehebat apapun kalian. Tetap lebih hebat orang tua, karena mereka-lah engkau ada disini, merasakan indahnya dunia, menjadi orang yang hebat. Dan semoga kau tak lupa jalannya pulang Nak.