Tak ada aroma yang lebih bisa membuatku betah selain tanah. Karena dalam tanah harapanku rebah. Terbujur kaku tanpa hangat menyambut rindu. Aku ringkih, selepas kepergianmu yang tanpa pamit dan tak sempat berikanku pesan harus bagaimana kuhadapi dunia tanpa kamu. Semestapun menangis, memelukku menemani detik-detik terakhir wajahmu mengudara dalam tatapanku.

Tak akan pernah kulupa getirnya luka yang kamu tinggalkan untukku. Saat bibirmu kelu diam membisu. Tak bisa kuterima saat barisan tenaga medis menatapku penuh ratap dan berucap gagal. Dokter hanya sedih karena tak bisa menyelamatkanmu. Tapi aku? Disini, ada hati yang meradang rindu.

Tangisku mengalun riuh memecah hening yang padahal dulu selalu mampu buat kita bercerita tentang cinta sekalipun tanpa suara. Aku terkapar dan sekarat saat yang paling selalu bisa buatku tertawa pergi dipanggil Tuhan begitu saja. Nyaris tak bisa kuterima.

Tak bisakah Kau berikan aku lima menit saja untuk berbincang hangat dengannya Tuhan? Aku hanya ingin bilang bahwa mungkin tak akan pernah kutemukan yang lebih baik dari dia yang telah Kau ambil paksa. Dan kamu. Berani benar kamu pergi setelah kamu berhasil buatku mengantungkan semua yang ku mau pada bahumu. Sungguh.. Aku patah hati tanpa tahu harus menyalahkan siapa. Ada rindu yang dipaksa lumpuh, ada harap yang dipaksa jatuh.

Kenapa tak kamu bawa saja aku pergi bersama? Percayalah, kamu bahagia yang paling aku inginkan didunia. Belum pernah kutemukan hati sesempurna kamu yang mampu membuatku tak lagi menginginkan apa-apa kecuali tetap bersamamu selamanya. Kamulah dekap yang selalu buatku merasa pulang. Ini bukan hanya perkara bagaimana aku bisa bertahan. Tapi ini tentang hati yang luka dan mungkin tak akan bisa disembuhkan.

Advertisement

Padamu telah kutaruh rasa percaya yang tak terhingga, kuharap kamu bisa menjaga selamanya. Tapi aku lupa, bahwa yang terbesar didunia ini bukan hanya kekuatan cinta tapi Pemilik seluruh semesta. Harusnya tak pernah ku minta pada Tuhan untuk membuat kita bisa bersama selamanya, karena bukankah pisah selalu jadi akhir dari setiap kebersamaan? Andai dulu ku minta padaNya untuk bisa buat aku tak sesakit ini bila memang akhirnya pisah harus kuhadapi didepan pintu. Mungkin aku tak akan serapuh ini.

Tangisku mengisi setiap celah dinding kamarku. Dulu saat ratap berkecamuk dalam isak tangisku, kamu pasti sesegera mungkin datang dengan kacau dan memelukku untuk membuat semuanya kembali tenang.

Tapi kini justru kamulah liang kecemasan, yang dulu selalu dengan teduh ku semayamkan dalam hening malam. Berharap kita bisa dipersatukan dalam bahagia yang paling kita impikan. Tapi kini, kamulah impian yang tak sanggup lagi aku semogakan. Kamulah cahaya yang meredup sebelum aku sampai pada tujuan.

Tuhan.. ku mohon sampaikan salam rinduku pada dia yang tak sempat memberiku kecup perpisahan. Adakah dia bisa tenang disana saat malam datang sekalipun tanpa kabar yang aku lontarkan? Semoga saja. Dan untukmu yang tak lagi bisa ku pertahankan.

Kamu harus tahu. Kamulah cinta yang sulit kutemukan ujungnya. Semoga kamu tenang bersamaNya. Percayalah, ada rindu yang luar biasa disini untukmu. Semoga sapaku dalam doa bisa dipertemukan denganmu disurga sana.