Setiap hari jadi berbeda. Setiap hari jadi tak sama. Padahal, kalender tetap menunjukan kata yang sama, Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya. Tidak ada yang berbeda pula pada tanggal di kalender, masih setia dengan angka 1, dengan penutup yaitu 30 atau 31. Hari Minggu tetap menjadi hari libur yang penuh dengan kemalasan. Sabtu dengan malamnya tetap menjadi setia peneman sepasang manusia merasakan cinta. Sudah kukatakan, seharusnya tidak ada yang berbeda. Tapi apa yang membuat manusia bodoh ini begitu kuat menyatakan bahwa ini berbeda? Kehadiranmu, adalah pembeda.

Mengenalmu adalah sebuah anugerah. Entah kapan pernah aku berdoa supaya bisa mengenalmu sampai saat ini. Seingatku, dulu tidak banyak yang kuucapkan kala sedang berdoa. Tapi, tiba-tiba atau memang aku yang sengaja membuatnya terjadi, kamu yang dulu asing bagiku, kini aku kenal. Sesaat mengenalmu, aku langsung tahu, tidak ada kata yang pantas tentang kamu, kecuali "aku jatuh cinta padamu". Kalau kata White Shoes And The Couples Company, dalam lagunya yang berjudul Roman Ketiga,

Aku jatuh dan tak bangun lagi

Tenggelam di rayuannya

Menerpa segala angkara murka

Padanya ku 'kan setia

Tenggelam dalam lautan cinta yang merahnya pekat sekali, bahkan luka dan darah pun menjadi samar di sana. Begitulah aku, yang asyik bermain air di lautan cintanya. Situasi dan kondisi tersebut yang menjadikan hujan terasa bak sebuah pelukan, hangat. Semangat yang aku punya menjadi berlebihan. Aku melakukan segala sesuatu atas dasar cinta, cinta, dan cinta. Cinta padamu, adalah pembeda hariku.

Saat kamu berbicara denganku, mata ini hanya tertuju pada matamu. Aku tidak mau kehilangan sedetik pun melihat ciptaan Tuhan yang indah ini. Aku bergetar. Menyimak kamu berbicara dengan hanya melihat matamu, cukup bagiku untuk yakin bahwa, aku ingin jadi milikmu. Bahkan aku sampai berhalunisasi, bisa melihat jalan yang langsung menuju tempat yang tepat, hatimu. Kamu memberikan guyonan, dan aku tertawa karena lucu. Kamu memberikan cerita sedih, dan aku bersimpati dengan itu. Kamu memberikan keanehan yang ada di dirimu, dan aku mendengarkan dengan seksama. Begitu yang terjadi, diatas meja makan tempat kita berbagi perasaan.

Advertisement

Please remember my life is in your hand

-John Lennon-

Sempat aku berpikir, apakah kamu sudi memperbolehkan aku masuk ke dalam hatimu. Aku hanya ingin bertamu saja di dalam hatimu. Siapa tahu saja kamu butuh bantuan untuk menata hatimu. Kalaupun tidak bisa bertamu saat ini, izinkan aku mengetahui di mana letak hatimu. Kiranya hari lain aku bisa menghamipiri dirimu.

Tidak tahu sudah berapa kali aku mengirimi kamu pesan, dan tidak bisa kuhitung pula berapa pesan yang telah kamu sampaikan. Yang aku ingat hanya, kamu dan aku, bertukar pesan yang berkesan. Aku benar-benar terpesona tiap kali kamu antusias membalas pesanku. Hingga akhirnya aku berani mengkhayal bahwa kamu, mencintai aku. Terlalu berani dalam berkhayal itulah aku.

Tapi itu semua berawal dari indah, 'kan? Makanya aku terbuai dengan ekspektasi yang dibuat sendiri. Ekspektasi kala manusia jatuh cinta, tidak terbatas dan berujung.

Seperti gerimis, aku jatuh cinta perlahan-lahan

Seperti badai, aku ingin mencintaimu sampai mati

-Fahd Pahdepie-

Aku bahkan sudah berandai-andai. Sudah menembus masa depan yang belum diketahui. Sudah menjadi orang yang sok tahu tentang segalanya. Kelak, bila kamu menerima hati yang telah kuberikan ini, aku akan setia. Teringat dalam kata "setia" tercetak kata "ia". Hanya ada satu "ia" dalam kata "setia". Maka aku pastikan, satu "ia" itu, kamu. Kamu dan aku, harus "se-ya" pula, ya?

Awan putih, berubah jadi kelabu. Tak lama kemudian, siang hari yang panas menjadi dingin berkat hujan deras yang datang. Dan petir menambah ramai suasana. Perubahan cuaca itu, layaknya terjadi pada aku. Entah apa yang terjadi, entah apa yang sudah kulakukan, entah apa, tapi kau pergi. Benarkah ini? Seolah aku tidak percaya dengan perubahan yang terjadi. Begitu cepat, bahkan terlalu cepat untuk seorang yang pergi. Kamu tidak memberikan aku sedikit tanda akan pergi. Kamu pergi bersama hatiku yang telah kuberikan. Kamu pergi membawanya. Padahal hatiku tidak bisa menjangkau sinyal bila terlalu jauh. Hatiku bukan teknologi nirkabel terbaru. Hatiku ibarat infrared, tersambung bila berdekatan. Tahukah kau, tentang hatiku itu?

Bukankah kesempurnaan kopi itu karena rasa pahitnya?

-Kang Maman-

Aku tidak akan membahas kebaikan yang telah kulakukan padamu, karena mungkin saja memang tidak ada kebaikan yang aku berikan padamu. Tapi juga, aku bukan orang yang suka keburukan. Aku orang, yang suka pada kamu. Tahukah kamu? Aku hanya orang seperti itu, tidak lebih, kurang pun tidak. Cinta yang aku tawarkan padamu memang sederhana. Tapi, tidak pernah kumiskinkan, walaupun memang aku belum bisa meninggikannya juga. Kamu pergi, maka lebih dari dua pertanyaan mengisi memori otakku yang sudah penuh karena telah kamu isi sebelumnya. Apakah kamu pergi agar aku cari? Apakah kamu lari dengan sengaja, agar aku terus mencari? Apakah kamu bercanda dengan hal itu? Aku tidak bercanda dalam menawarkan hatiku ini. Senyumku memang tidak sesempurna orang-orang rupawan yang selalu kamu puji tiap kali kita duduk bersama sambil menyantap makanan dan minuman. Tampangku pun memang tidak seenak layaknya yogurt yang pernah kau makan bersama buah strawberry dan kiwi. Sedari dulu aku sadar, mukaku ini pas-pasan, untungnya aku mudah tersenyum pada orang lain. Mungkin itu tidak cukup bagimu, ya?

Memang, ada banyak alasan kenapa aku harus menyerah, tetapi aku tidak akan melakukannya

-Khrisna Pabichara-

Kamu pergi, itu saja yang aku tahu. Tapi tahukah kamu, tidak secenti pun aku bergerak dari tempatku menunggu kamu. Masih ada rasa dan asaku terhadap kamu. Rasa dan asa ini tidak akan pernah hilang sebelum kamu menjelaskan mengapa pergi. Dan selama kamu masih pergi, kuharap masih ada kata "pulang". Tenang saja, aku orang yang mudah jatuh cinta, tapi tidak mudah melepaskan cinta, meski kamu bawa cintaku dan mematahkannya di ujung sana. Itulah kenapa aku suka baju merah, ia menyamarkan hatiku yang penuh luka dan duka.