Aku telah memilih menetapkan hati kepadamu, tepat ketika kamu membuat aku jatuh cinta dan membuat semuanya seolah sempurna. Aku selalu berdoa diberikan yang terbaik, dan Tuhan mengirim kamu dengan semua hal darimu yang begitu sangat membuatku bersyukur memilikimu.

Cukup bagiku, tak pernah lagi aku meminta lebih kepada Tuhan-ku. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tak kupedulikan siang atau malam, gelap atau terang, hujan atau panas. Sudah menjadi kewajibanku untuk membuatmu merasa cukup, bahagia dan tetap tinggal. Seperti halnya kamu, yang tanpa melakukan apa-apa pun, membuat aku merasa mau untuk tetap tinggal, tak akan pernah pergi. Kita telah melewati ratusan hari, aku dengan berdarah-darah memberikanmu yang terbaik.

Aku dengan susah payah membuatmu tak pernah ingin pergi, ternyata sudah tak memiliki daya apa-apa lagi, bahkan hanya sekedar berkata ‘Tolong. Jangan tinggalkan aku.’ Hari yang selama ini aku takutkan ternyata datang juga, hal yang selama ini menjadi mimpi burukku ternyata terjadi juga. Dengan semua usaha yang sudah aku perbuat, tidak jugakah menahanmu untuk tak pergi? Sayang. Kamu mencintaiku, itu sudah lebih dari cukup.

Aku tak pernah menuntut apa-apa selain tanggung jawabmu atas semua perkataan-perkataan yang sebelumnya kamu ucapkan. Jauh sebelum semua ini terjadi.. Jauh sebelum tiba-tiba kamu ingin pergi. Jauh sebelum kamu memutuskan untuk mengakhiri… Jauh sebelum aku kebingungan seperti ini, mengapa hatimu tega meninggalkan aku yang jelas-jelas tidak tahu alasan semua ini terjadi.. Yang tidak kau beri tahu, dimana dan apa salahku. Kesalahanku, bukan karena aku terlalu menyayangimu. Tapi karena aku terlalu mempercayaimu.

Aku menggantungkan semua mimpiku, puisiku, hatiku, airmataku bahkan hidupku digenggaman tanganmu. Jika kau pergi.. bayangkan saja kau se-tidak-punya-hati apa. Hari-hari laluku yang kau buat berwarna, bagaimana caranya agar semua terlihat 1 warna saja? Lagu-lagu yang sering kau nyanyikan untukku, bagaimana caranya agar semua terdengar tidak menyedihkan? Film-film yang kita tonton bersama, tempat-tempat yang kita singgahi berdua, hal-hal yang pernah kita jadikan doa. Bagaimana caranya agar semua teringat tanpa luka?

Advertisement

Tolong aku. Aku begitu masih ingat bagaimana indahnya tatapanmu dan senyummu. Aku begitu masih ingat bagaimana harummu, bagaimana caramu memeluk dan menciumku. Aku masih ingat sayang, caramu memperlakukanku.. Apa saja makanan kesukaanmu dan yang tidak kau suka. Aku masih ingat bagaimana raut wajahmu ketika tertidur, aku masih ingat ekspresi bingungmu yang menggemaskan, karena aku menyukainya. Demi Tuhan. Percayalah, tak ada yang tidak ku ingat darimu.

Dan kenyataan kita tak lagi bersama, harus kutelan pelan-pelan? Bahkan ketika aku mencintaimu dengan segala hal yang telah aku lakukan dan berikan, kamu tidak bisa melihat itu? Merasakan itu? Aku telah melakukan semuanya, apapun telah aku berikan untuk membuatmu merasa cukup. Namun nyatanya, aku tak pernah cukup baik untukmu. Mungkin banyak hal yang kau inginkan dan kau butuhkan, dan semua itu tidak ada padaku. Tidak bisa aku berikan padamu. Aku mengerti kamu. Setengah mati aku mencoba mengerti kamu. Meski pada akhirnya, kamu selalu membuat aku seolah tak bisa. Aku bisa apa, sekarang?

Kau jelas-jelas ingin pergi dan semua harus diakhiri. Aku hanya punya mimpi dan hanya bisa mencintaimu. Aku tak bisa menahanmu pergi. Mungkin yang harus aku lakukan adalah merelakanmu? Atau menantimu untuk segera pulang? Selama ini tanpa kau sadari, aku adalah rumahmu. Tempat dimana kau harus kembali. Tempat dimana kau istirahat ketika kelelahan, tempat dimana kau bisa mencurahkan segala keluh kesah. Tempat yang seharusnya tidak kau tinggalkan.

Andai kamu tahu, aku begitu mencintaimu dan sangat mempercayaimu. Aku tidak pernah membayangkan, seseorang yang kucintai setengah mati ternyata pergi juga, tanpa hati dan meninggalkan luka hati. Aku terluka. Kesakitanku karena orang yang paling kupercayai lebih dari diriku sendiri, sudah memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Selama ini aku yang berjuang, mengapa kau yang menyerah? Selama ini aku yang berkeringat, mengapa kau yang lelah? Selama ini aku yang menangis, mengapa kau yang meringis? Sayang, selama ini.

Aku yang mencintai, mengapa kau yang pergi? Aku tidak bisa menerima semua ini, tapi tak ada yang bisa aku lakukan selain menghitung langkah kepergianmu dan melihat punggungmu berlalu meninggalkanku. Kau pergi. Aku belum mau terbiasa tanpa kamu. Aku belum mau melihatmu dengan perempuan lain. Aku belum mau melupakanmu. Aku masih mau menemanimu, seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku masih mau membuatkanmu makanan. Aku masih mau membangunkanmu tidur. Aku masih mau kau peluk. Tolong aku.