Kamu warga Jakarta ya. Keren dong, warganya kota metropolitan!

Kota sibuk yang tiap hari bisa nyumbang 2 trending topic di Twitter. Tiap hari ada aja kejadian yang menyita waktu. Menyita perhatian orang-orang pinter yang egois untuk komentar. Sampe-sampe komentarnya kagak puguh, komentar yang gak jelas. Ya, seperti kamu itu. Kan warga kota metropolitan.

Kalo menurut saya, Jakarta sih bukan kota metropolitan. Tapi kota METRO-PELETAN. Kota dengan sejuta kesempatan, kota yang mudah melet untuk siapapun. Kota yang warganya mudah tergiur, mudah tersulut emosi. Kota yang penuh daya tarik kamuflase. Iya, kota METRO-PELETAN. Kayak kamu itu ciri-cirinya hehehe.

Kamu setuju gak kalo Jakarta kita sebut kota metro-peletan?

Gak setuju ya. Gak apa-apa sih. Yang bener itu, Jakarta kota metropolitan. Kota besar yang menjadi satelit bagi kota-kota penyangganya. Sebagai pusat bisnis, sekaligus pusat pemerintahan. Ohh ya, betul. Itu mah kata buku pelajaran. Kamu tuh sombong mentang-mentang pinter, buku pelajaran dibawa-bawa.

Metro-peletan. Karena sekarang, Jakarta wajahnya udah berubah, udah bergeser. Gak hanya metropolitan, tapi udah jadi “kota metro-peletan”. Lha kok metro-peletan?

Ya, gimana nggak. Kota ini, tidak hanya dicintai oleh warganya. Tapi juga warga dari daerah lain. Punya daya pikat tersendiri. Kota yang makin mempesona hingga membuat warganya “bisa” lupa jati diri sebagai manusia biasa. Kota ini menjanjikan kata-kata manis. Untuk memikat hati tiap orang. Mampu membujuk orang yang tidak berdaya menjadi lebih tidak berdaya lagi. Ciri-ciri itu, persis kayak orang di-pelet. Apalagi kalo bukan kota metro-peletan. Kayak kamu itu ….

Advertisement

Orang-orang metro-peletan itu. Macet 4-5 jam di jalan dibilang sudah biasa. Orang salah malah dia yang marah-marah. Keluar penjara malah jadi artis. Bahkan ada 1 RS Jiwa di Jakarta, yang kini melayani 200 pasien per hari.

Akibat gangguan jiwa, entah karena frustasi, stress, atau depresi. Tapi apakah kota ini makin dijauhi? Tidak, malah makin ramai. Karena kota metro-peletan. Kamu malah makin cinta, makin sayang. Dasar kota metro-peletan …. kota yang ciamikk.

Maaf ya, saya sih gak pernah melet. Apalagi di-pelet. Gak ada yang mau kelesss.

Tapi kalo kata Mbah Jenar, orang yang di-pelet itu perilakunya mulai berubah. Konon, ciri-cirinya: sering terbangun di malam hari, lalu bingung sendiri. Nafsu birahinya terlalu mudah muncul. Sering pusing kepala. Makan minum berasa gak enak. Sering tidak nyambung kalo ditanya.

Sering bepergian tapi gak tau tujuannya. Suka tertawa, tersenyum dan menangis tanpa sebab yang jelas. Sering jalan di malam hari. Sering keluar air mata padahal gak sedih. Kayak kamu itu, warga metro-peletan.

Coba ukur deh, Kalo kamu punya salah satu ciri tersebut ? Nah itu berarti warga metro-peletan. Jujur aja, gak usah bohong. Dosa tau …. Nah kalo ada, berarti kita sedang kena pelet. Dari siapa? Dari makhluk yang namanya “kota metro-peletan” hehe. Ngeri juga ya metro-peletan…

Di kota metro-peletan ini, 70% perputaran uang di Indonesia ada di sini. Bagi pendatang, kota ini disebut kota sejuta kesempatan. Jadi pengemis di kota ini bisa dapat uang 750 ribu sampe 1 juta sehari. Kerenn kan?

Biar banyak orang miskinya, tai kota metro-peletan punya 13% warga yang penghasilannya di atas 1.000 dollar AS per bulan. Itu setara dengan warganya Singapura, Shanghai atau Kuala Lumpur. Hebatnya lagi, dari 17 Gubernur yang pernah ada, hanya 1 orang yang asli darah Betawi. Emang luar biasa, kota kamu ini ya…

Kamu itu warga kota metro-peletan.

Kalo dipikir-pikir, walau agak males sih mikirinnya. Apa sih yang gak ada di kota metro-peletan? Mulai dari seks bebas, narkoba, KDRT, tawuran, bullying, hingga perkosaan, pembunuhan. Semuanya ada dan terjadi. Seremmm banget. Tapi itulah kota metro-peletan. Belum lagi gaya hidup yang glamour. Mahal. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Sungguh, memprihatinkan jadi warga metro-peletan ya.

Sebagian orang, lalu bilang, kalo gak sabar tinggal di kota metro-peletan, orang bisa gila. Hahaha bukannya udah gila? Orang benar jadi salah, orang salah jadi benar. Dimana lagi kalo gak di kota ini. Sampe salah ngangkat pejabat. Tampilan malaikat, hatinya setan. Di mana adanya? Ya, di metro-peletan. Kotanya kamu …

Lha, terus apa dong yang bisa kita lakukan?

Gak usah lakukan apa-apa sih. Orang ini cuma tulisan doang. Belum tentu bener, iya gak. Jalani saja hidup kita sebaik-baiknya. Gak perlu dipikirin. Orang lain juga gak mikirin. Gah usah repot-repot, seperti tamu yang ditawarin minum hehe.

Tapi kalo boleh bilang, siapapun kita apapun pangkat kita, mari kita sedikit ngerem untuk tidak egois, tidak individualis. Di mana saja, di rumah, di kantor, di jalan, di pergaulan. Agar kota ini tidak makin terbebani. Kasihan, kota ini makin berat beban yang harus dipikulnya. Kita tak hanya wajib, tapi berhak meringankannya. Kan kamu warga metro-peletan.

Sungguh, kota ini tidak cukup untuk dihuni kaum hedonis. Tidak cukup untuk meraih kesenangan sesaat. Kota ini harus mampu menjadi kota yang ramah dan tertib. Kota yang lebih beradab untuk warganya seperti kamu.

Kamu dan warga kota metro-peletan harus apa adanya. Jadi diri sendiri dan gak usah terbuai dengan gaya hidup yang berlebihan. Be yourself because pretending is so painful – Jadilah dirimu sendiri karena berpura-pura itu menyakitkan." Itu saja sudah cukup buat kamu yang hidup di kota metro-peletan.

Lalu, apa pentingnya buat kita?

Ya gak penting lah. Yang penting itu bayar pajak, ama punya KTP kalo udah berumur 17 tahun. Betul gak? Tapi kan gak salah, kalo kita memulai yang baik dari diri kita sendiri. Biar Jakarta, bisa jadi kota metropolitan sesungguhnya, bukan kota metro-peletan.

Karena kalo bukan kita siapa lagi …? Au ahh elappp.

#BelajarDariOrangGoblok