Hari ini sekali lagi aku bertemu denganmu. Rasanya, aku benar-benar menginginkanmu. Tapi, bagaimana jika aku tidak bisa memilikimu? Kamu selalu tampak tampan di mataku. Selalu tampak indah di hadapanku. Kamu berdiri di kejauhan sana dan aku tak dapat mendekat.

Ah… sepertinya aku sedikit menyedihkan ya, menyukai kekasih orang lain. Aku tertawa saat kamu bercerita tentang wanita mu denganku. Betapa bangganya kamu dengan dia. Betapa sayangnya kamu dengan dia. Tapi hei, kucari rasa cemburu di hatiku dan itu tidak kutemukan. Apakah aku tidak begitu menyukaimu? Mungkin aku hanya kagum seperti kata seorang sahabat padaku, sore itu.

Aku mengejar bayanganmu yang sebenarnya tak dapat kuraih. Sedikit menyebalkan memiliki perasaan yang sebelah tangan seperti ini. Tapi sungguh, biarpun begini aku menikmatinya.

Ataukah karena aku sadar bahwa aku tidak dapat menangkapmu sehingga aku tidak merasakan sakit ataupun cemburu. Aku selalu, selalu, dan selalu melihatmu dari kejauhan. Memandang mu dari kejauhan. Bagaimana mungkin aku bisa seperti ini? Ah, andai kita lebih dulu saling mengenal. Tapi, tak mengapa semua akan baik-baik saja.

Aku sedikit merasa bahagia ketika kamu mempedulikan aku, memperhatikan aku, menanyakan kenapa aku menangis. Sekali lagi hatiku berbisik bahwa aku benar-benar jatuh hati denganmu. Aku mencari sosokmu di manapun dan kamu tahu, walaupun kamu tidak terlihat oleh orang lain aku selalu, selalu, dan selalu dapat menemukanmu. Bahkan aku dapat membedakan punggungmu dari belakang. Aku terlalu berlebihan ya? Tapi, itu yang aku rasakan. Coba saja kamu berdiri dan bersembunyi dari pandanganku. Aku selalu dapat menemukanmu. Hatiku tahu dimana kamu.

Advertisement

Ah… rasa ini hanya titipan dari Tuhan untukku. Dan sungguh tak ingin ku bagi. Saat aku terpuruk, kamu yang berdiri di sampingku saat itu memberikan getar aneh di dadaku. Padahal aku tidak mengenalmu. Aku mengenalmu hanya dalam 3 bulan saja. Aku mulai mencari tahu tentangmu dan ku temukan kamu dengan kekasihmu di sana. Aku tertawa kecil, menertawai kebodohanku. Aku bahagia ketika kamu mulai memperhatikan aku. Mempedulikan tiap langkah dan gerakan ku. Aku bahagia tapi, juga meringis.

Kamu benar-benar seperti awan untukku. Memenuhi duniaku, tapi tidak dapat kuraih. Tidak dapat ku tangkap. Aku tidak pernah terbersit ingin memilikimu. Ah, aku hanya ingin menikmati perasaan ini sendiri. Tanpa harus kamu tahu betapa aku menyukaimu. Walaupun kamu sudah tahu. Aku hanya bisa merindukanmu dari kejauhan. Merindukan ingin memelukmu.

Kamu yang disana, yang tidak dapat ku tangkap. Tetaplah disana jangan mendekat karena aku takut mengikat. Aku takut ketika ku terlalu mencintaimu, kamu pergi. Rasa ini benar-benar tak ingin ku bagi. Aah.. asal kamu tahu, aku benar-benar tidak ingin memilikimu. Aku tidak ingin menjadi kekasihmu. Aku hanya ingin menikmati rasa ini. Sendiri disini, ditempat ini.

Karena aku tahu bahwa menangkapmu itu tak mungkin. Ah… biarlah aku menikmati rasa ini sendirian bertemankan kopi hitam kesukaanku.