Banyak kita dengar istilah “friendzone” di jaman yang mulai kekinian ini. Aku yang awalnya gak paham dan gak mau tau ini mendadak jadi paranoid dengan kata itu. Kenapa bisa ? Ya, karena friendzone memang benar adanya.

Setiap orang tidak bisa menduga apalagi mengelak ini akan terjadi. Suatu perasaan yang susah diterjemahkan dengan bahasa bibir. Hanya sikap dan bahasa tubuh yang bisa menjelaskan. Tapi semua terasa berbeda mana kala kamu yang terlalu cuek dan gak peka untuk mengetahui apa isi hati ini sesungguhnya.

Kita yang awalnya bertukar cerita bersama. Mengeluh dan berbahagia bersama. Berpetualang bersama. Mengerjakan sesuatu bersama. Mendadak terpaut jarak yang memutuskan untuk kembali sendiri lagi. Ya, semua berubah karena kebodohanku sendiri. Keberanian yang ternyata memiliki resiko amat pedih.

Aku terlalu frontal dan terlalu jujur mengungapkan yang seharusnya tidak diucapkan seorang wanita. Ya, aku mencintainya. Itu yang membuat hancur pertemanan yang sudah kita bangun dari awal. Satu kalimat yang kata orang sangat sakral itu memang benar-benar merubah hidupku.

Dia yang tidak memiliki perasaan apa-apa tiba-tiba lebih memilih menjauh. Menjauh dari situasi yang tidak pernah dia inginkan juga. Satu kalimat terakhir yang ku ingat. “Maaf, aku tidak ingin melukaimu lebih dari ini. Biarkan pangeran hati yang benar-benar mencintaimu yang bisa menjagamu lebih baik dari aku.”

Advertisement

Bodohnya aku saat itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain butir demi butiran bening menetes dari pelupuk mata. Dan itulah kata terakhir yang aku dengar. Karena sejak saat itu dia menghilang. Hilang dari peredaran seolah ditelan bumi. Hilang dari pandangan namun tidak dari hati ini. Kita sudah tidak bertemu lagi. Bertegur sapapun tidak. Berbalas pesan seperti dulu mungkin juga dia sudah tidak sudi.

Beberapa bulan yang lalu kita bisa tertawa bersama. Namun hari ini, berucap hallo saja aku tidak tau bagaimana caranya.”

Kita yang mungkin terjebak di situasi ini harus bisa benar-benar menyikapi dengan bijak. Memang tidak ada yang bisa menjelaskan kapan perasaan aneh ini akan datang menghampiri. Semacam tidak memiliki namun takut kehilangan. Semacam tak punya status tapi merasakan kecemburuan jika melihat dia berfoto bersama wanita lain yang katanya itu temannya juga. Tapi apa daya mau protes sesuatu. Toh kita hanya sekedar teman. Yang sekarang mulai menjauh.

Mungkin dia benar. Dia hanya tak ingin aku terlalu larut dengan penantian yang tak mungkin ada ujungnya ini. Jadi dia lebih memilih berjalan dijalur kanan sedangkan aku masih tetap duduk menanti. Namun aku juga berusaha untuk memperbaiki diri. Tak lupa juga berdoa agar segera dipertemukan dengan pangeran hati yang dia bilang tadi. Walaupun rasanya sudah lelah untuk mencari, tapi pasti Tuhan punya cerita sendiri di setiap pertemuan dan juga perpisahan. Tuhan maha asyik.

“Meskipun akhirnya belum tentu bahagia, setidaknya kita pernah tertawa bersama”