Aku mengenalmu lewat larik-larik kata. Meskipun diawali dengan sorot matamu yang membuatku terhening, saat itu aku masih hampa, belum ada rasa. Waktu terus berjalan, tanpa kurekayasa hadirmu semakin lama semakin membuahkan candu, aku mulai merindu. Kepadamu, sosok yang tak kukira akan membawaku kepada sebuah dunia yang sebelumnya aku tak pernah menjamah.

Semua terasa asing di awal, dan aku selalu bertanya-tanya, "Mengapa aku berjalan sejauh ini denganmu, sedangkan dia yang di masalalu masih begitu paten di sudut pikirku?" Namun, seiring berjalannya waktu smeua keraguanku hilang. Kamu mengajakku terbang. Membuatku tertawa dan bahagia. Tak ada sedikitpun sesak dan airmata, hingga aku mulai lupa darimana aku berasal.

Aku menetap pada sebuah dunia yang kuanggap ini hidup baruku, bersamamu, meskipun ikatan itu tak pernah ada. Kaupun tak pernah meminta. Karena memang dari awal aku telah berkata, alangkah indah jika kita melangkah bersama dengan misi yang sama, tak perlu diumbar kepada dunia tentang status kita, karena segala yang berlebihan akan membuahkan sesak yang tak berkesudahan.

Dalam kisaran waktu yang tak singkat, aku mulai lebih jauh mengenalmu. Kamu. Sosok yang periang, kreatif, logis, baik hati, lucu, dan selalu rindu. Suaramu yang selalu kau hadiahkan kepadaku membuatku hilang kendali, aku jatuh hati.

Hingga aku menyadari, kita sudah sama-sama mengerti. Jangan sampai ada sesuatu yang membuat kebersamaan kita terhenti. Aku tak ingin menyudahi. Perhatianmu, kasih sayangmu, aku menyukai semua itu. Caramu memanggilku, mengingatkanku, tersenyum kepadaku, dan menghargaiku. Aku selalu mengingatnya, lekat.

Advertisement

Mimpi-mimpi yang kemarin kita rangkai bersama masih terlentang pada cakrawala batinku. Teramat indah, aku ingin sesegera mungkin mewujudkannya bersamamu, hanya bersamamu. Namun, bukan hidup jika cobaan tidak datang secara tiba-tiba.

Segala yang kita rangkai demikian indah bersama, tiba-tiba seperti kalang kabut. Kamu, setelah beberapa waktu meninggalkanku dengan alasan menyelesaikan tugas yang menjadi prioritasmu, ketika datang tidak lagi menjadi kamu yang periang. Kata-katamu benar-benar membuatku terhempas. Kamu memutuskan untuk pergi.

Kamu membuatku benar-benar sakit hingga tak tau bagaimana caranya untuk bangkit. Begitu tega dirimu meniadakan aku. Setelah itu, diriku selalu bertanya-tanya. Apa yang salah dariku? Apa yang membuatmu berlaku sejahat ini? Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku? Ada apa denganmu, orang yang selalu membuatku bahagia hingga aku lupa seperti apa rasa sedih dan perihnya luka? Haruskah kamu yang melakukan ini? Kenapa kamu? Kenapa disaat aku benar-benar jatuh hati kamu justru menamparku dengan kalimat-kalimat tak berperasaan itu? Kenapa dengan suaramu yang membuatku luluh itu kamu mengatakan segalanya? Kamu berkata tidak bisa bersama lagi denganku, tidak nyaman denganku, dan kamu berbohong kepada dirimu sendiri atas perasaanmu kepadaku. Kenapa harus sejujur itu? Kenapa semuanya harus terjadi kepada kita?

Aku tidak bisa lagi berpikir jernih. Semua mampat. Aku tidak menyangka, tidak percaya. Bahwa pemeran utama yang membuatku berairmata tak henti-henti adalah kamu. Dengan tega sosokmu membakar habis segala mimpi yang pernah kita rangkai. Kau gertak aku untuk tidak lagi mengingatmu. Aku tak percaya. Kamu yang sebelumnya tak pernah berlaku seperti ini, tiba-tiba membuatku berfikiran bahwa kamu sosok terjahat yang ada dalam hidupku. Kamu menenggelamkan aku dalam kubangan luka. Kamu hilang rasa.

Waktu bergulir, aku hanya terdiam. Mengapa sosok yang dulu kubangga-banggakan adalah penjahat yang membuatku takut kembali kepada dunia itu. Aku takut untuk memasuki dunia itu bersama orang baru. Aku takut. Sakit hari lalu masih benar-benar terasa hingga aku tak sanggup lagi berair mata mengingatnya.

Aku percaya, luka secara otomatis akan sembuh. Tapi segala yang membuat luka tidak akan pernah terlupakan, seumur hidup.