Untukmu yang selalu ku pandangi dari jauh,

Untuk kesekian kalinya mataku menatap lurus dirimu yang pergi menjauh, mungkin kau tak sadar tapi pandanganku tak pernah lepas dari punggungmu. Andai kamu tahu, kakiku selalu ingin berjalan beriringan bersamamu. Melangkah disampingmu, dan berada di dekatmu. Mungkin kau tak mengenalku, namaku saja pun kau tak tahu. Tapi tak apa, aku tak akan pernah menuntut dirimu untuk tahu siapa aku. Cukup diriku saja yang mengenalmu sangat jauh, hingga aku tahu semua tentang dirimu.

Untukmu yang saat ini tengah bercanda tawa bersamanya,

Tahukah kamu? aku sangat menginginkan berada di posisinya. Berada di dekatmu, dapat memandang wajahmu dengan lekat, melihat senyummu dan tertawa bersamamu. Tapi aku sadar, saat ini memang waktumu bersamanya, bukan seharusnya aku terlalu berharap untuk menggantikannya. Aku hanya bisa mendoakanmu agar selalu bahagia bersamanya, merajut kisah kalian hingga nanti maut yang memisahkan. Meski butiran – butiran kristal ini mengalir dari pelupuk mataku.

Hai, kamu yang saat ini tampak lelah

Advertisement

Mengapa wajahmu tak ceria? Tak kulihat senyum itu seperti biasanya. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Hanya bersembunyi dibalik dinding untuk mendengar percakapanmu dengan teman – temanmu. Apa yang kalian bicarakan? Aku benar – benar ingin tahu. Apakah ini menyangkut keadaanmu saat ini? Ku pasang telingaku baik – baik, maaf jika akun harus mendengarkan sesuatu yang seharusnya tak ku dengar. Teman – temanmu juga menanyakan apa yang terjadi denganmu saat ini, namun mengapa kau hanya diam? Aku pun ingin tahu apa yang terjadi padamu. Setelah lama menunggu, akhirnya kau membuka suara. Aku mendengar sekilas bahwa kau dikhianati oleh dia yang sangat kau puja. Mendengar itu, betapa sakitnya hatiku. Aku pun merasakan sakit mendengar dirimu yang ku jaga sedang terluka. Apakah dia tidak bersyukur mendapatkanmu? Sedangkan aku disini hanya bisa mengagumimu dari jauh. Mengapa dia yang harus bersamamu jika akhirnya dia akan menyakitimu? Sedangkan aku selalu bersedia menanggung semua sakitmu. Ah, mengapa aku bersikap seperti ini? Sungguh tak pantas jika aku membandingkan diriku dengannya.

Hai kamu yang menjadi alasanku berlama-lama di kampus,

Hari ini kulihat wajahmu tak semendung kemarin, sebuah perubahan yang cukup ku syukuri. Terimakasih Tuhan telah membuatnya bangkit lagi. Hari ini sepertinya kamu tampak sibuk, buku – buku tebal kau bawa dan tas ransel memeluk punggungmu. Ingin rasanya ku bantu dirimu, namun apakah kau tidak merasa aneh jika tiba – tiba aku membantumu sedangkan kau tak kenal siapa aku. Ku ikuti saja langkahmu, ternyata kau menuju perpustakaan. Kau tenggelamkan dirimu dalam bacaan – bacaan yang menurutku akan membosankan jika bukan kamu yang membacanya. Aku mengamatimu lagi, namun sepertinya pandanganmu bukan pada buku yang kau baca. Pandanganmu kosong seperti memikirkan sesuatu yang berat. Ada apa? Apakah kau masih memikirkannya?

Hanya kamu yang mampu membangkitan semangatku,

Hari ini sebenarnya aku malas sekali untuk menampakkan wajahku di kampus. Namun, karena ada rapat BEM yang kutahu bahwa kaulah ketua BEM itu, semangatku pun membara. Meski sang mentari menyengat kulitku, dengan semangat ku langkahkan kakiku menuju kampus untuk sekedar bisa melihat wajahmu. Dengan wibawamu, kau maju ke depan untuk memimpin rapat yang bisa ku pastikan tak ku mengerti isinya. Lalu kau melempar pertanyaan kepadaku, hingga membuatku gelagapan dan tersadar dari lamunanku. Betapa malunya diriku ketika aku tahu semua orang memandang wajahku yang memerah. Kamu pun hanya tersenyum simpul kepadaku. Tapi, benarkah kau tersenyum kepadaku? Dan apakah pada akhirnya kau bisa “melihat” diriku?

Untukmu yang selalu ku sebut dalam doaku,

Mengapa hari ini kau tiba – tiba berjalan ke arahku? Ahh tidak, mungkin aku saja yang terlalu berharap. Tapi mengapa langkahmu semakin mendekat? Aku gugup, aku benar – benar tak siap. Tiba – tiba langkah kedua kakimu berhenti di depanku, dengan senyuman kau lalu berkata, “Andai kamu tahu bahwa aku sebenarnya lebih banyak tahu tentangmu daripada kau tahu tentangku. Aku tahu selama ini kau selalu mengikutiku, aku pun tahu kau menitikkan air matamu ketika aku bersama dia. Dia itu bukanlah orang yang selama ini ku puja, sebenarnya aku mengajak sahabatku untuk berpura – pura menjadi kekasihku agar aku tahu dan yakin bagaimana perasaanmu sesungguhnya padaku. Aku tahu semua tentangmu dan aku akan menghitbahmu nanti malam ke kedua orangtuamu. Apakah kamu mau menjadi calon ibu dari anak – anakku?” Entah harus berkata apa, aku menatapnya dan menitikkan air mata syukur dan bahagia untukmu calon ayah dari anak – anakku kelak.