Kisah ini di mulai dari hujan. Hujan yang tiba-tiba datang sore itu. Hujan yang tak pernah terlupakan dalam hidup. Yang membuat semua terasa nyaman, sejuk, sesejuk hujan sore itu. Entah, apakah hujan itu pertanda bahwa ada rindu yang tak sengaja datang dalam pelukan. Rindu pada sepotong tulang rusuk yang akan melengkapi hidupku.

Yah, sore itu ketika senja hendak menampakkan dirinya. Tak sengaja datang segumpal awan yang pekat dari kejauhan. Sore itu, aku yang sedang menunggu senja di tepian jalan di atas sebuah bukit di kota ini. Sore itu, aku berharap akan melihat senyuman sang senja padaku, pada jiwa yang sedang direnggut oleh rindu. Rindu pada dia yang tak pernah mampu untukku sentuh dengan tangan ini. Rindu ini senantiasa memberikan kehangatan dalam jiwa, tetapi tidak untuk dia. Dia di sana sudah bahagia tanpa aku.

Dia bidadari cantik, sempurna dan penuh dengan energi. Dia yang pernah aku ceritakan tempo hari kepada sekawanan burung merpati. Waktu itu yang aku ceritakan sangat ceria. Betapa tidak, hati ini bagaikan sekumpulan bunga yang sedang mekar, lalu datang kumbang-kumbang untuk mempersuntingkan bunga itu. Yah seperti itulah hatiku saat itu, berbunga, mekar, dan berharap akan ada orang yang akan mengambil, lalu menempatkanku dalam bingkai hidupnya yang paling indah. Waktu itu aku berharap besar kepadanya, dan hanya dia yang aku harapkan untuk mengambil sepotong hati yang telah mekar ini.

Itu dulu, tempo hari, ketika aku ceritakan harapan-harapan, mimpi-mimpi indahku kepada sekawanan merpati yang singgah di tempat itu. Tetapi saat ini mimpi itu, harapan itu, telah sirna. Hilang tanpa jejak bersama kata-katanya yang mampu membuatku terpuruk. Semua telah hilang bersama kata yang dia ucapkan kepadaku, bahwa saat ini dia lebih bahagia bersama orang lain.

Dan sama sekali tak berkurang sedikitpun kebahagiaannya tanpa aku. Semua telah terjadi, dia bahagia di sana. Tetapi berbeda dengan aku di sini. Aku setiap saat menderita karena cinta ini tak kunjung enyah dari benakku. Cinta yang membawa penderitaan ketika aku tak mampu untuk meraihnya.

Advertisement

Yah, hari ini aku sedang merasa kehilangan. Setiap saat aku merindu, tetapi apalah dayaku. Jangankan beranjak untuk menemuinya, bertanya kabarnya saja sudah tak mampu. Yang aku mampu hanya merindu dengan dalam. Yang aku mampu hanya menangis tanpa air mata, menjerit tanpa suara, bahkan tersiksa tanpa ada yang menyentuh sedikitpun. Itu aku saat ini.

Andai aku bisa menjadi orang yang spesial dalam hidupnya, yang tak perlu waktu lama menunggu pintu hatinya terbuka buat aku. Andai aku adalah berlian yang indah di matanya, yang memberi kehangatan, kenyamanan dalam setiap detik di hidupnya. Dan andai aku bisa menjadi satu-satunya orang yang mampu membuatnya bahagia. Tetapi semua itu hanya andai saja.

Aku tidak pernah menjadi orang yang spesial di kehidupannya, aku tak pernah menjadi sebutir berlian yang mampu memberikan keindahan di matanya, aku tak pernah menjadi orang yang bisa membuatnya bahagia walau sedetikpun. Bahkan, aku tak pernah menjadi siapa-siapa dalam hidupnya.

Yah, aku bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Aku hanya orang yang punya sepotong hati yang ingin aku persembahkan untuknya. Aku hanya laki-laki yang punya rindu di setiap saat dalam hari-hariku. Aku hanya lelaki yang tak mampu berbuat apa-apa ketika kau bilang bahwa bahagiamu bukanlah aku, dari dulu hingga sekarang dan sampai kau menutup mata. Aku tak mampu lagi, aku hanya bisa bersuara dalam hati, aku hanya ingin bilang dua kata untukmu. Aku hanya ingin bilang AKU KECEWA. Itu saja yang bisa aku katakan dalam hati, bahkan aku tak berani untuk mengatakan kepadanya. Karena cinta yang tulus melebihi segalanya.

Selamat tinggal akan ku ucapkan nanti ketika aku mampu untuk pergi, ketika aku mampu untuk benar-benar pergi jauh darimu, dan bahkan dari siapapun yang pernah aku kenal. Semoga dia yang kau pilih mampu untuk membuatmu menahan nafas karena tertawa bahagia, bukan menahan nafas karena tangis dan air mata.