Sebut saja kamu, mutiara terkubur sejak lima tahu yang lalu. Hadir di saat yang tepat, tepat bagimu dan bagiku. "Kalaulah memang dia jawaban-Mu itu, pertemukan aku dengannya pada Selasa atau Rabu." begitu pinta keduaku pada Tuhan kala itu.

Aku minta Tuhan menghadirkan seseorang untuk masa depanku dalam 40 hari, itu pinta pertamaku. Tak disangka, dalam rentang waktu 40 hari hadirlah seseorang, satu-satunya, kamu, mutiaraku. Ah, Tuhan selalu punya cara untuk membuat hambanya GR tak karuan. Bagaimana tidak? kamu benar-benar belum pernah ada dalam coretan dream girl-ku. Karena bagiku kamu terlalu mahal untuk diinginkan dan dimiliki.

Baiklah, Tuhan. Bolehkah yakinku bertambah? Yakin bahwa dialah jawaban-Mu atas pintaku, pertama dan kedua. Meminta kepada-Mu memang tak pernah salah, tak pernah mengecewakan. Namun, sesekali aku merasa malu dan takut, takut syukurku kurang, malu akan perbuatanku yang masih kurang ajar terhadapmu. Sementara engkau hadirkan mutiara yang belum tentu sanggup aku beli dan pelihara. Bimbinglah aku menuju jalan yang Engkau ridhoi.

Bukan tidak kenal, kita bahkan pernah duduk bersama dalam satu forum, lomba cerdas cermat. Peranmu sebagai pembaca soal, aku pesertanya. Satu soal yang kamu bacakan, berhasil aku jawab lebih dulu dari peserta lain. Saat itulah kali pertama kita berinteraksi langsung. Sejujurnya, senyum itu, yang kamu tampilkan sesaat setelah aku berhasil menjawab soal yang kamu bacakan, masih tergambar jelas di benak ini. Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa kembali. Tidak pernah bertegur sapa, atau sekedar berbincang barang semenitpun. Hanya senyum, senyum lagi, dan senyum terus. Hingga akhirnya kita dipisahkan untuk waktu yang cukup lama, 5 tahun.

Kamu bilang dulu menyukaiku, begitupun aku. Anehnya, masing-masing dari kita tidak merasakan getaran itu. Oh, mungkin karena mahalnya kamu, menghambat distribusi getaran itu. Ya, itu anggapanku. Kita jauh tapi dekat, dekat tapi jauh. Padahal aku cukup dekat dengan ayahmu, kakakmu pun. Beberapa kali aku sambangi rumahmu. Tak pernah terbesit di pikiran ini ingin mendekatimu. Kamu terlalu mahal, mutiaraku.

Advertisement

Di balik rasa syukurku yang mendalam ini, mengenal sedikit tentang keluargamu malah membuatku berpikir lebih keras, mungkin batupun akan merasa "minder" kalau disandingkan dengan pikiranku saat ini.

Pantaskah aku untukmu, mutiaraku? Akankah aku bisa menjagamu? Mungkinkah aku bisa membahagiakanmu seperti yang orangtuamu lakukan? Masukkah aku dalam kriteria menantu idaman bagi orang tuamu? Ahh.. Malu sekali rasanya. Siapa aku siapa kamu. Jika sudah begini, terkadang hatiku agak liar lalu berbisik "Hentikan candaan ini Tuhan, segera tunjukkan situasi yang lebih menentramkan hati dan pikiran."

"…Hendaklah kamu pilih wanita yang taat agamanya, niscaya kamu akan beruntung", petuah rasul. Maka, tak ada keraguan sedikitkun bagiku untuk meminangmu. Aku tahu ketaatanmu sejak dulu. Dan aku tahu, hanya bersabar yang bisa aku lakukan saat ini, sabar menanti "Ayah restui kalian". Tetapi, sekali lagi, kamukah jawaban Tuhan itu, mutiaraku?