Berawal dari decak kagum dengan sosokmu yang mampu mengayomi, kau pandai buatku jatuh hati. hampir beberapa tahun lamanya aku tak punya hati untuk mencintai, hanya sekedar berbelas kasih menerima yang mencintaiku, sungguh takdir ini misteri. tanpa keraguan kau pun juga menyambut hangat hadirnya pesonaku. dusta sekali bila aku menolak segudang perhatian yang kau tawarkan. racun memang, kau cerdas akal buatku berpaling dari duniaku sendiri. seketika hariku bertabur bintang rasanya saat kita mulai menjalin hubungan lebih. canda tawa suka cita, kita berbagi banyak hal. darimu aku belajar tentang perbedaan, tentang hidup, cinta dan segala sesuatu yang belum aku ketahui sebelumnya. melalui mu Tuhan memberi kesempatan untuk aku mengerti yang tak ku pahami selama ini.

Suatu ironi, kala perbedaan menjadi jurang pemisah antara kita, aku tak mampu berbuat apa-apa. menangis itu saja yang aku bisa. tak pelak perasaan yang mendalam sempat membuatku ingin berganti Tuhan agar kita tetap bisa bersama dan bersatu. namun apalah dayaku, aku hanya gadis kecil yang selalu mencoba berbakti pada orang tua. ajaran tentang Tuhan yang mereka ajarkan padaku sedari aku masih kecil membuatku yakin bahwa Dialah Tuhan yang memberi hidup. meski sering kali aku tak patuh pada Tuhanku, namun dosa teramat besar jika aku sampai menyakiti orang tua ku karna berganti Tuhan. sebaliknya mungkin begitu pula yang terjadi padamu.

Baiklah kita sudahi saja sampai disini, ini bukan hanya tentang kita tapi tentang keluarga. akan ada banyak hati yang tersakiti pabila kita memaksa untuk bersatu. ada baiknya kita jalan sendiri, kau dengan garis hidupmu sedang aku dengan takdirku. semoga kita dipertemukan kembali di dunia yang berbeda dengan Tuhan yang sama.

Pilu, itu yang terjadi saat ini. saat kita memutuskan untuk mengakhiri, mungkin aku takkan bisa jatuh cinta lagi. perpisahan itu sungguh sangat menyiksa. tiada hari tanpa tangisan. mentari jarang menawarkan senyuman. senja tak lagi hangat seperti biasanya. malam pun menjelang hatiku menjadi rentan terbawa perasaan. ingatan tentang dirimu menjadi tajam bak pisau anti karatan. tak jarang aku ingin bunuh diri, tapi aku mikir berkali-kali. aku masih ingin bertemu kamu lagi. oh Tuhan, hidup segan mati tak mau bak peribahasa itu nyata.

Ah entahlah, hidupku tak beraturan. aku cari pelarian. aku menemukan banyak teman. urusan perasaan memang susah di mengerti. walau banyak yang datang lalu lalang namun tak ada yang bisa menggantikan satu yang telah pergi. inilah yang buatku selama ini susah membuka hati, sekali jatuh hati susah melangkah lagi.

Advertisement

Hati ini masih menyimpan nama yang sama. semoga Tuhan lekas memudarkan segala yang membebani diri. sungguh aku rindu sosok diriku yang dulu tak punya hati. hanya bisa berbaik hati menyambut yang mencintai, karna dicintai itu jarang memakan hati. beda lagi dengan yang jatuh hati sering kali buat sakit sendiri.