Melupakan seseorang yang benar-benar berarti karena dia mengecewakan, memberi harapan palsu, mungkin bagi setiap kita adalah hal yang sangat rumit. Saat hal ini menimpa, selalu saja berpikir bagaimana caranya? Semua cara sudah dilakukan mulai dari menghapus foto-fotonya, mencoba memikirkan hal-hal lain dan bahkan berusaha tak acuh jika ada dia di depan mata, namun semua itu sama sekali tidak membuahkan hasil.

Sudah menjadi hal yang lumrah sebagai kaum hawa pasti kita sangat suka menceritakan apa yang sedang dirasakan dan terjadi kepada handai taulan, hanya sekedar meminta pendapat dan meminta respon mereka. Banyak sekali berbagai macam jawaban, ada yang berkata perbanyaklah dulu pertemanan, fokus dengan pekerjaan / kuliah saja, dan bahkan ada yang berkata satu-satunya cara adalah hadirnya seseorang yang baru. Dalam hati berkata bagaimana bisa ada orang baru, karena di benak ini sudah di-reset hanya dia yang paling baik yang pernah kukenal. Namun pada kenyataannya kita harus percya bahwa Sang Maha Kuasa punya banyak stok yang jauh lebih baik darinya.

Melupakannya bukan hal yang mudah, butuh waktu yang sangat lama. Dan aku tidak pernah menyesal karena telah mempunyai rasa itu walalupun yang aku harapkan tak seindah yang aku mau, namun aku bisa jadikan ini pelajaran dari prosesku. Aku berharap orang yang kau pilih bisa mempunyai rasa sebesar hati ini, bisa menjagamu, dan menyenangkanmu.

Sampai saat itu tiba, hadirnya orang baru. Sosoknya bisa dibilang hampir sama. Aku sempat tertegun bagaimana bisa pengganti dirinya adalah orang yang sangat mirip sifatnya. Walaupun sifatnya hampir sama namun sama sekali tidak ada niatan aku untuk mengaitkan dirinya denganmu. Karena semua orang diberikan kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Aku tidak tahu bahwa ada seorang pria di sekitarku yang tak sengaja mengantarku pulang. Mungkin mulai dari situ aku mulai membuka hati lagi. Selalu terbayang obrolan kami selama diperjalanan pulang, mungkin itu yang membuat beberapa hari ini penuh dengan keceriaan.

Advertisement

Aku sangat brsyukur, karena akhirnya aku bisa lepas darinya. Aku menemukan sosok pengganti yang jauh lebih baik darinya.

"Hai kamu, yang baru saja mengambil hati yang sudah hancur karenanya, aku sangat-sangat berterima kasih, seperti layaknya kertas yang sudah di sobek-sobek, lalu disatukan, dibalut dengan solatip dan dapat bersatu kembali menjadi sebuah kertas yang tertulis, berisikan sebuah makna."

Hati ini mungkin sudah pulih kembali, pulih karna sesuatu yang baru saja hinggap, layaknya seperti seekor kupu-kupu yang menemukan tumbuhan bunga baru untuk dihisap madunya yang mungkin sangat manis. Aku berharap kamu tidak seperti dia, yang hanya hinggap, bermain-main lalu melewatiku begitu saja.