Hidup punya cara tersendiri bagaimana mendewasakan manusia. Beberapa orang diuji dengan tercukupinya segala kemewahan kehidupan. Sebagian yang lain diuji dengan kekurangan. Sedang sebagian lainnya diuji dengan tertundanya permintaan untuk menikah segera. Dan di sanalah aku sekarang.

Aku bukan tak sabar menanti datangnya dia yang telah Tuhan tuliskan takdirnya akan membersamaiku. Aku hanya sesekali penasaran tentang sosok yang penuh misteri di masa depan itu. Berbagai pertanyaan sering kali kumain-mainkan dalm pikiranku: apakah dia gendut atau langsing kekinian? Apakah ia sedang atau setinggi tiang? Apakah ia doyan masak sepertiku atau malah doyan makan? Ah, sudahlah…

Aku sadar Tuhan kita, Allah yang maha bijaksana bukan orang yang serampangan sepertiku. Tuhan pasti tidak akan memberi dan menolak hanya karena faktor like and dislike seperti yang biasa kita lakukan. Tuhan juga pasti tak mengenal bad mood. Maka, ketika Tuhan berjanji akan memasangkan yang baik dengan yang baik, segera aku menyambutnya dengan penuh keteguhan hati: aku akan menjemputmu dengan amalan-amalan terbaik yang bisa aku lakukan.

Bukan Kemewahan Yang Kujanjikan, Tapi Perjuangan yang Tak Berpenghabisan

Aku sadar sepenuhnya, usaha mencari penghidupan di masa kita sekarang ini tidak lagi gampang. Persaingan semakin sengit, orang satu dengan yang lain sering kali saling himpit. Beberapa kali usahaku juga pernah mengalami kebangkrutan. Karena itu, bukan kemewahan yang bisa aku janjikan, tapi perjuangan yang tak berpenghabisan yang akan aku tunaikan untuk memastikanmu selalu dalam kebahagiaan.

Advertisement

Orang bilang bahwa uang itu adalah segalanya. Tapi bagiku, aku setuju dengan beberapa lainnya. Uang memang penting, tapi tetap saja bukan segalanya. Jika uang adalah segalanya, betapa merananya orang yang hidup sebelum zaman barter dilahirkan kedunia. Namun nyatanya, mereka toh baik-baik saja. Bahkan kita tak melihat dan mendengar mereka segalau kita di zaman maya ini.

Karena Menjadi Baik Itu adalah Passion Yang Akan Sentiasa Kita Perjuangkan

Dulu, Saat Malaikat menyangsikan kemanfaatan kita di dunia, Tuhan begitu bijaknya dengan berkata: Aku lebih mengetahui segalanya dari pada kalian. Dengan pernyataan ini Tuhan ingin memberi pelajaran bagi kita, bahwa hidup itu ritmis, metodologis, dan tentu saja statis. Konsekuensinya, setiap orang punya peluang untuk menjadi baik. Setiap orang punya peluang terperosok menjadi buruk, kita sendiri yang akan memilihnya.

Mungkin bagi sebagian orang menjadi baik itu adalah hal yang luar biasa. Menjadi baik menurut mereka hanya pantas di kerjakan oleh ustadz-ustadz saja. Tapi bagiku, sebaliknya. Surga dan neraka itu benar adanya. Kita harus berjuang mendapatkan piala terbaik di kompetisi baik-buruk dunia ini: surga tertinggi.

Aku dan kamu duhai calon pendampingku tidak boleh lupa, hidup tak berakhir hanya karena kita hilang nyawa. Hidup memang memberi pilihan atas baik buruknya. Namun kata Tuhan: beruntunglah para pejuang jiwa, mereka itu adalah yang sangat ulet menekan egoisme, meruntuhkan nafsu dunia, dan membangun kebajikan-kebajikan dalam setiap nafas hidupnya. Maka, kenapa kita tidak bersegera menyambutnya dengan semangat menyala?

Dalam Dirimu Surga Terlihat Begitu Mempesona

Diluar sana banyak orang menganggapmu sebagai pribadi sempurna. Hijabmu yang begitu terjaga menurut mereka adalah garansinya. Simpel saja penilainnya. Mereka menganggap hijab dan tata kelola diri selalu satu paket kuota. Seseorang jika hijabnya sempurna berarti hilang sudah sifat manusianya. Tinggallah tersisa sifat-sifat malaikat yang tak berdosa. Padahal sebagai manusia pastilah kau punya kecenderungan untuk berdosa. Sebagai wanita pastilah kau juga seorang yang kadang begitu perasa sampai lupa mempertimbangkan logika dan titah Tuhannya.

Biarkan orang beranggapan bagaimana. Mengharapkanmu begitu sempurna akan membuatku terlena dari keterjagaan diri untuk bersedia menerimamu secara paripurna. Karena dalam pikiranku, jika kau pribadi yang jail proporsional, kau pasti akan menggunakannya dengan bijak, seperti membuat suasana yang beku menjadi ceria. Atau Jika kau seorang dengan sifat manja yang profesional, pastilah kau akan membuat sesuatu yang dingin menjadi begitu mesra. Semua ini tentu sesuai kadarnya. Tidak berlebihan, juga tidak kurang. Bukan ke malaikat-malaikat-an yang suci tak berdosa, tapi juga bukan ke setan-setan-an yang senang berkubang dalam kesalahan yang sama.

Ah, sungguh, membayangkanmu seperti itu surga terasa begitu dekatnya.