Cinta…
Memang, tak akan ada habisnya bicara tentang cinta. Entah cinta tehadap orang tua, saudara, sahabat, ataupun lawan jenis. Tapi kali ini, aku ingin bicara sedikit tentang cinta dengan lawan jenis. Ku akui memang, cinta adalah sumber inspirasi terbesar dalam berkarya. Tak jarang berkat cinta, ide-ide cemerlang muncul dan kreativitas pun berkembang. Itulah efek cinta yang positif.

Namun sayang, jika cinta tak mampu diolah dengan baik, cinta hanya akan menjatuhkan dan menyakiti. Dalam kondisi seperti ini bukan cinta yang salah, tapi manusianya yang tak mampu memahami dan menyikapinya dengan baik. Karena itulah, kuputuskan aku tak menajalin cinta hingga saat ini mungkin sampai nanti, saat di mana aku telah selesai dengan diriku sendiri dan siap berbagi hidup dengan orang lain.

Karena cinta butuh kesabaran dan keikhlasan untuk berbagi, bukan hanya sekadar saling memiliki dan selalu berada di sisi..

Di usia yang baru menginjak 20-an ini, harus kuakui bahwa aku belum mampu untuk membagi hidupku denganmu. Karena aku sadar, egoku masih tinggi, masih banyak keinginan yang ingin aku capai dan aku masih ingin pergi sendiri tanpa batasan. Aku tak ingin menyakitimu karena sifatku ini. Kamu harus tahu, bahwa aku bukanlah makhluk yang suka diatur dan manja. Banyak hal yang ingin aku kejar, karena itulah aku tak ingin ada pertengkaran antara kita, jika aku tak mampu selalu berada di sampingmu dan begitupun sebaliknya.

Banyak hal ingin aku capai termasuk study yang ingin aku selesaikan, dan aku yakin kamu pun demikian…

Advertisement

Dua belas tahun orang tua membiayai sekolahku. Dan inilah saatnya aku belajar untuk bertanggung jawab akan hidupku sendiri. Saat ini, aku masih meraba akan hidupku, mencari pijakan yang tepat untuk terus dapat mempertahankan hidup demi masa depan yang baik. Pendidikan bagiku bukan hanya sekadar tentang gengsi ataupun gelar di belakang nama. Tapi lebih dari itu, aku sadar kodratku nanti adalah sebagai seorang ibu, karena itu aku ingin bisa mendidik anakku dengan sebaik-baiknya. Menjadi manusia yang berbudi dan bertanggung jawab tentunya. Untuk itulah aku pun harus menjadi wanita yang berkualitas demi untuk anak-anak yang berkualitas pula.

Aku tak ingin egois dengan kebahagiaanku sendiri, ada orang tua yang menjadi tanggung jawabku..

Tak terhitung sudah pengorbanan orang tua untuk anaknya. Begitupun orang tuaku. Aku tak ingin egois dengan kebahagiaanku sendiri. Untuk saat ini, fokusku adalah orang tua, study, dan karierku. Bukan maksud menempatkan cinta diurutan paling akhir, tapi untuk saat ini cinta bukanlah prioritas. Sebab, ada orang tua yang harus aku rawat, study yang harus aku selesaikan, dan karier yang ingin aku rintis. Karena itulah, aku tahu tanggung jawabku besar, dan aku sadar belum mampu membaginya untuk cinta.

Karena aku tahu cinta adalah rasa yang agung, aku tak ingin main-main untuk hal ini…

Sejujurnya, penghargaanku akan cinta sangatlah besar. Cinta bukanlah mainan, karena cinta berhubungan langsung dengan hati. Karena alasan itulah, aku tak ingin main-main dengan cinta di usiaku yang masih 20 ini, karena aku tahu egoku masih tinggi, amarahku pun belum sepenuhnya dapat aku kontrol dengan baik.

Untuk itu, mengertilah calon imamku. Seperti itulah cinta bagiku. Aku tak ingin membatasi gerakmu saat ini, kupersilakan kamu untuk menyelesaikan segala rencanamu terlebih dahulu, karena aku pun ingin selesai dengan diriku sendiri dulu. Aku tak ingin kamu menemukanku di saat aku masih se-menyedihkan seperti ini. Untuk itu, ijinkanlah aku menemukan hidupku dulu, hingga nanti Tuhan menemukan kita dalam keadaan yang jauh lebih baik daripada hari ini, dan semoga semesta mengamini segala harapanku ini.