Sebenarnya saya agak risih dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Maklum,saya tinggal di kampung. Sebagian perempuan muda, saya sudah dianggap tua, sudah menikah. Bahkan sejak baru lulus SD. Beberap teman SD saya saja rata-rata sudah memiliki dua anak, bahkan ada yang sudah sekolah Taman Kanan-Kanak. Ah, saya benar-benar ‘tertinggal’.

Saya juga ingin menikah!!! Menikah kan memang sunnah (bisa wajib juga!), karena saya juga ingin melihat bagaimana bentuk rupa dan wajah cucu dari orang tua saya dan (calon) mertua saya. Tetapi saya tidak serta – merta memutuskan menikah dengan hanya mengedipkan mata dan langsung cling saya menikah! Banyak yang harus saya siapkan, pikirkan, dan hadapi. Gemas juga kalau terus-terusan mikirin kata orang. Tapi apa mau dikata, omongan itu terdengar juga.

Persiapan mental dan ekonomi menjadi alasan pertama yang harus membuat saya menunda (belum terpikirkan) untuk menikah. Saya (dan pacar saya) harus punya persiapan finansial agar sebelum, menikah, dan setelahnya, kami tidak merepotkan orang tua. Mental juga perlu sekali disiapkan agar pada saat sebelum, menikah dan setelahnya kita bisa menjadi lebih bijak dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan relationship.

Saya ambil contoh kecil, tetangga saya menikah sekitar umur 16 tahun. Waktu pacaran mereka nampak bahagia. Si cewek selalu dibelikan baju, ditraktir makan, dan kebutuhan lain terpenuhi. Sampai akhirnya pasangan ini memutuskan menikah muda. Mereka nampak bahagia. Saya tahu itu, karena saya datang di acara pernikahan mereka. Buah hati pun tak lama muncul di kehidupan rumah tangga mereka.

Selang beberapa waktu kemudian, entah karena alasan apa, si cowok berhenti dari pekerjaannya dan sekarang hanya nongkrong bareng teman-teman seusianya. Sering saya lihat, si cowok hanya duduk-duduk di teras sembari merokok dan gossipnya dia suka nyamperin tempat billiard. Padahal pasangan muda ini sudah punya anak yang harus diperhatikan! Ah, kasihan sekali sebenarnya. Bisa jadi karena kurang puas menikmati masa muda, si cowok belum merasa memiliki tanggung jawab ekstra sebagai seorang suami dan sebagai ayah untuk anaknya. Endingnya, si cewek malah curhat ke saya kalau menikah dan punya anak itu ruwet!

Advertisement

Duh, piye iki Mbak, Mas Agus sudah nggak kerja?”. Curhatnya kala itu.

“Trus?”, jawab saya.

“Ya itu, anak juga sudah mulai besar. Harga susu mahal juga Mbak. Ah, pusing!”, gerutunya.

Saya bisa menangkap apa maksud dari pernyataannya itu. Dia bukan menyesali keadaannya yang sudah menikah dan mempunyai anak yang lucu, tetapi dia menyesali keputusannya menikah pada saat ia dan (calon) suaminya dulu belum memiliki pondasi yang kuat untuk membangun sebuah keluarga. Salah satu masalahnya sudah barang tentu berkaitan dengan keadaan ekonomi (masalah uang).

Beberapa saat saya terdiam. Mencoba berpikir dan mencari jawaban yang tepat atas keluhannya. Belum sempat saya menjawab, dia nyambung,

“Ah, tahu gini aku dulu nggak mau nikah Mbak!”. Wajah tetangga saya itu masih nampak kesal. Kontan saja saya kaget dan reflek melotot akan ucapannya. Gimana nggak kaget? Lha wong belum genap dua tahun menikah, dia sudah merasa menyesal.

“Lah kamu kenapa dulu kok mau diajak menikah?”, tanya saya tidak sabar setelah mendengar pernyataan yang mencengangkan dari penyesalan seorang istri yang merasa capek menghadapi kehidupan rumah tangga.

“Lah dulu Mas Agus kan uangnya banyak pas kami pacaran. Gaji bulanan selalu masuk, walau tidak seberapa juga. Maklum, Mas Agus kan buruh Mbak”. Dia terdiam sejenak, menghela napas. Saya masih menunggu kalimat selanjutnya.

“Aku dulu selalu diberi uang saat gajian, beli baju tiap kencan malam mingguan. Sering juga makan di warung gitu Mbak”. Saya masih menunggu gong-nya. Mungkin ada lagi yang akan dia keluhkan. Namun beberapa menit saya tunggu, kami malah saling diam.

“Trus kenapa sekarang kok nggak kerja lagi? Berhenti sendiri?”, tanya saya penasaran.

Perempuan polos berambut keriting di depan saya itu mengangkat bahunya, tanda bingung dan sulit menemukan jawaban.

“Dipecat?”, Tanya saya lagi. Dia menggeleng.

“Lha terus?!”, saya ngotot sekarang.

“Katanya capek. Kerjanya berat!”, jawabnya polos.

Yaelah manusia! Dimana-mana yang namanya kerja itu ya capek. Kalau nggak mau capek ya nggak usah kerja. Saya sempat heran dengan alasan suaminya berhenti kerja. Capek? Kerja berat? Kerja yang ringan itu gimana? Saya hanya geleng-geleng, nggak habis pikir.

“Kamu sebagai istri apa nggak coba ngasih solusi? Misalnya mencoba merayu dia untuk nyari kerja lainnya yang nggak berat gitu?”. Saya sok tahu, mencoba mengusulkan sesuatu yang padahal waktu itu saya juga belum menikah.

“Katanya sih mau merantau saja. Di luar Jawa katanya uangnya lebih gedhe Mbak!”. Percakapan itu berakhir seperti jemuran. Menggantung. Kami terdiam dengan pikiran masing-masing.

Akhirnya, di penghujung 2012 saya menikah. Inilah titik balik kesendirian saya. Apa yang saya pikirkan dengan matang, ternyata sudah menemui titik terang. Saya harus berjibaku dengan kegiatan mengatur keuangan rumah tangga.

Memang benar adanya, saya harus pintar-pintar mengatur hati dan pikiran. Hati. Ya saya yang temperamental masih harus belajar menata hati saat selisih pendapat dengan suami. Pikiran. Saya yang selalu meutuskan sesuatu tanpa pikir panjang, mulai sekarang harus berpikir mengatur ini-itu.

Berat tapi ringan. Ringan tapi berat. Itulah rumah tangga. Sampai suatu ketika, saya kembali mendapatkan teman-teman lama melalui media. Beberapa teman saya dengar kabarnya membahagiakan. Hamil, punya anak, dan memiliki beberapa usaha. Namun tidak sedikit saya mendapati teman saya yang harus berurusan dengan Pengadilan Agama.

Salah satu teman baim saya memutuskan berpisah dengan suaminya setelah dua tahun pernikahan. Amat disayangkan, karena saya adalah tim sukses di pernikahan mereka. Saya ikut bahagia dan terharu saat ijab qabul itu berlangsung. Saya merasa kalau pernikahan mereka sempurna, menurut kacamata awam saya waktu itu. Pesta mewah, banyak tamu yang datang, dan kedua mempelai tertawa bahagia selama acara berlangsung.

Nyatanya, tanpa sepengetahuan saya, teman saya melayangkan gugatan dengan alasan KDRT dan faktor ekonomi.Ah,lagi-lagi masalah klasik. Saya sempat merasa prihatin. Namun saya belum bisa memberi komentar, usulan, atau solusi. Saya masih shock dengan kabar tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pendengar yang baik sembari terus menerus menguatkan hati teman saya itu. Masih jelas di ingatan saat dia mencurahkan isi hatinya.

“Bayangkan, dia nggak kerja sama sekali setelah menikah!”. Suara teman saya sedikit parau. Saya lihat, suara itu merupakan kombinasi antara nyesek, jengkel, gemas, dan malu. Saya diam.

“Dibikinin usaha toko, malah habis uang. Modal nggak kembali. Malah barang-barangnya ikut habis”.

“Tabunganku juga ludes!”, lanjutnya dengan nada sedikit tinggi.

“Perasaan dulu dia kerja di leassing kan?”. Akhirnya saya angkat bicara. Teman saya mengangguk.

“Trus?”, tanya saya lagi.

“Ya gitu. Ternyata dia kerjanya nggak serius. Main PS di rental tiap hari. Kalau nggak, ya nongkrong di warung kopi. Atasannya ya nggak mau punya anak buah yang males gitu!”.

“Buat makan aja, kami masih dibantu orang tua lho! Malu juga sebenarnya. Lha wong kami sama-sama sarjana. Setelah menikah kok kayak gini!”, gerutunya lagi.

“Lah kamu dulu kok bisa memutuskan menikah? Nggak dipikir dulu apa?”, tanya saya. Saya sebenarnya tahu betul riwayat perjalanan asmara mereka. Si cowok kakak kelas saya saat SMA dan merupakan anak Kepala Sekolah, mempunyai toko dan beberapa asset. Si cewek teman baik saya saat kuliah. Selama pacaran, memang gaya hidup mereka sedikit berlebihan. Namun kala itu saya pikir kalau mereka benar-benar ada uang. Nyatanya sekarang mereka berpisah karena masalah uang.

Sudah banyak contoh yang ada di depan mata saya, bahwa untuk memutuskan hal yang bersifat ekstrim (menikah) dalam hidup haruslah dengan pemikiran yang sangat, sangat, dan sangat matang! Bukannya saya tipe perempuan yang pilih-pilih, bukan! Tapi banyak kasus menunjukkan kalau kita sudah menikah, kadar cinta hanya tinggal beberapa persen saja. Prosentase terbesar dalam rumah tangga adalah memikirkan kebutuhan dan mencapai kesejahteraan. Secara kasarnya, setelah menikah kita tidak akan bicara tentang cinta. Tidak akan kenyang makan cinta. KARENA CINTA GAK ADA DI PIRING!