Begitu banyak perjalanan hidup yang penuh warna dalam kisah ini. Karena masing-masing diciptakan dengan perasaan yang saling bertautan. Sekali lagi, perasaan bersalah ini pasti akan selalu terbawa dalam hati. Apa yang bisa dilakukan seorang wanita yang hanya memiliki satu hati. Apakah satu hati ini bisa diisi oleh dua cinta sekaligus? Sebuah kenyataan yang melawan logika dan kodrat wanita. Aku harus bertanya kepada siapa??

Belum banyak cerita yang kami ciptakan. Perbedaan yang awalnya tidak akan menghalangi cinta kami. Dan di dalam begitu banyak problema, sebesar apapun badai mengguncang, kami selalu tegar menghadapinya,. Tiada jarak yang bermakna untuk saling melengkapi cerita hidup kami. Hari-hari berlalu telah kami jalani dalam cinta bahagia,. Kejujuran dan kepolosan nya yang selalu bercerita tentang segala apa yang terjadi di setiap detiknya bernafas, mampu mengambil sebagian ruang hatiku. Hari-hari penuh warna dengan hiasan degupan jantung yang kencang ketika kami bersama,. Tawa dan senyum tersipu yang pernah setiap kali hadir di bibir kami ketika dengan tidak sengaja bertatapan mata. Dan masih banyak lagi kebahagiaan yang telah terekam dalam kisah kami. Apa ini semua, jika bukan cinta.

Sampai suatu saat, pinangan itu tiba. Pinangan yang memang sudah lama direncanakan oleh dua keluarga yang saling setuju. Tapi dengan siapa? Bukan dengan dia yang saat ini aku cintai. Kenyataan yang membuat hidupku hampir hancur.. Bagaimana dengan orang yang aku cintai.. Bagaimana kami mengukir masa indah kami lagi,. Bahkan cinta kami yang belum berlandaskan status apapun.. Apakah harus aku mengakhiri semua ini.. Apakah HARUSSSSS??!!!!!

Aku juga tidak mungkin mengkhianati keluargaku dan lari meninggalkan mereka demi cinta yang saat ini memang belum memberikan kejelasan terhadapku. Tapi kami nyaman dengan keadaan ini,. Cinta kami tumbuh tanpa direncana, hubungan kami menguat tanpa harus ada status. Karena kami saling yakin satu sama lain. Namun keadaan ini adalah kenyataannya. Tidak mungkin aku lari dari kenyataan. Dan aku takut jika aku memberitahunya sekarang, dia akan menjauhiku. Kenyataannya aku memang akan menikah. Aku tidak mau mengecewakan orang tua ku. Tapi bagaimana dengan hatiku sendiri??!! Tidak adakah kompromi atas semua ini?!

Pertemuanku dengannya menjadikanku menahan beban, haruskah aku jujur saat ini. Setiap senyum yang dia berikan terhadapku sangatlah jujur tanpa kebohongan. Senyum yang menyayat hati atas kebohongan ini.. Aku bahkan menyembunyikan hal yang sangat menyakitkan ini. Aku harus bagaimana berjalan tanpa dia.. Apalah dayaku.. Beri aku kesempatan untuk memelukmu lagi.. Ingin sekali kuteriakkan ini di hari terakhir kebohonganku terhadapnya.

Advertisement

Dan sampai detik itu, waktu di mana aku harus jujur dengan sebuah undangan di tanganku. Dia menyambut tangan ku dengan senyum tersungging di wajahnya. Betapa aku takut untuk pertama kalinya melihat ekpresinya. Aku takut untuk melihat kenyataan bagaimana selanjutnya kami. Begitu banyak cinta dan kasih sayang yang telah dia berikan selama ini. Iya, dan aku melihatnya saat ini.

Wajah yang semula riang, berubah menjadi sayu dengan mimik bertanya, ada apa ini. Dengan tangisku aku menjelaskan semua yang harus terjadi. Dia hanya membalas semua penjelasanku dengan usapan lembut tangan nya di kepalaku. Dia berbisik, "Mulailah dengannya, karena dia tidak bersalah atas semua ini. Semoga kamu bahagia tapi aku tak akan pernah bahagia bersama yang lain, karena aku tak sanggup menggantikanmu dengan yang lain."

Langkah kaki nya perlahan berjalan menjauhiku. Dan aku hanya bisa terdiam di saat dia menghilang menyimpan seribu kenangan. Dari kejauhan aku melihat tangan nya mengusap air mata yang tadi sempat tertahan untuk menguatkan ku. Aku terisak dan tak berhenti terisak. Dan kini dia tak akan menghapus air mata ini.

******

Hari ini pernikahanku tiba. Aku sangat tidak berharap dia datang. Dia akan memberiku rasa bersalah dengan kedatangannya. Tapi, samar-samar kulihat dari kejauhan senyum yang sangat kukenal.. Senyum yang berusaha dia sunggingkan walaupun aku tau dia bohong dengan senyumnya. Wajah riang yang sangat akrab denganku berusaha menutupi apa yang terjadi. Tapi aku tau dia.. Perlahan dia naik ke pelaminan. Menjabat tangan pria yang kini menjadi pendamping hidupku. Dan sekarang dia menjabat tangan ku dengan berbisik "Harusnya aku yang berada di sini mendampingi kamu," ditutup dengan senyuman pahitnya. Hanya tetes air mata yang tak mampu kutahan keluar dari mataku.

Dan kami berakhir. Cinta kami tidak dapat kami ukir lagi. Kisah kami berhenti sampai disini. Aku tau dia terluka. Tapi ini bukan kehendakku juga bukan kehendaknya. Bukankah jodoh tak ada yang tau. Mungkin ini yang disebut Cinta Tak Harus Memiliki. Ini pahit membuat kami terluka. Maafkan aku yang harus mematahkan sayapmu bahkan sebelum kita pernah terbang bersama. Tapi Cinta ini tidak akan terhapus dari hati ini. Dia akan bersemayam di hati dan menjadi kisah masa lalu yang pernah terukir indah di hidup kami.