diammu cukup ku mengerti

Rasa cinta serupa senja. Rona jingganya memberikan kehangatan. Namun, cahayanya mengisyaratkan kesedihan. Ingin rasanya berlama-lama merasakan kehangatannya, tetapi aku tak bisa mencegah cahayanya terbenam menembus cakrawala. Seperti rasaku saat ini padamu. Sungguh hati ini ingin bisa merasakan kehangatan akan tatapan matamu lebih lama. Tetapi, ada bisikan untuk tak berharap banyak karena lengkung senyum itu untuk semua orang bukan semata tertuju padaku. Karena kamu perempuan yang dicintai banyak lelaki. Pada akhirnya, aku hanya berharap keesokan harinya aku masih bisa melihat tatapan dan senyuman itu. meski diriku sadar sepenuhnya bahwa aku tak punya hak untuk memintanya dengan sengaja.

Terimakasih telah membuatku merasakan jatuh cinta lagi. Mencintaimu membuatku sadar, bahwa aku lelaki biasa tanpa bakat istimewa. Walaupun dengan mudahnya orang bilang cinta tak harus memiliki. Tapi hati tak bisa dibohongi. Saat kamu mencintai seseorang, kamu pasti ingin bisa memilikinya. Ingin rasanya kamu berbagi ruang hati bersamanya. Dan jauh di lubuk hati yang terdalam, kamu ingin ia jadi milikmu selamanya. Begitupun aku, ingin memilikimu, namun balasanmu hanya diam.

Suatu ketika, saat terbangun dari bayang mimpi, ketika itulah dirimu datang membayangi langit-langit hati. Diammu cukup ku mengerti, cerminan sebuah batu. Keadaan semakin membebani. Mungkin inilah jalan yang harus dilalui, berbatu dan sulit dilewati.

Aku lelah, terkulai dan terpatuk dalam hatimu, dentum disetiap waktuku menunggu sapamu diantara alunan debar jantungku yang terbata dalam cakap dan tertatih disela nadiku.

Advertisement

Diammu cukup ku mengerti, resahku menitipkan senandung melodi dibingkisan syair yang tersirat dinurani hatimu. Andai tirai-tirai hatimu dapat ku tembus untuk satu yang tak terucap, yang selalu kamu bungkam. Dalam diammu, larik hatimu tak akan dapat kusinggahi hanya tentang liku-liku dihatimu, terlalu ramah dengan yang tersirat abjad-abjad kata dalam matamu.

Diammu cukup ku mengerti, walau terselip perih di hati, tapi tak ingin terlalu jauh ku mengenalmu, tak ingin terlalu jauh rasa ini terpaut walau sebenarnya aku memang terlanjur cinta.

Diam mu cukup ku mengerti, terimakasih telah menambah catatan dibuku harianku, terimakasih untuk cerita yang pernah kita rangkai. Baiklah perlahan kan ku coba menganggap semua seperti sedia kala. Perlahan tapi pasti, bahagia meranjak pergi. Sunyi ku cumbui mendekap sunyi menepis bunyi.

Kencang ku berlari meninggalkan penantian yang menghujam kelam. Saat lentera jingga mulai redup tak terasa. Saat binar cahaya tak lagi terbitkan warna. Disitulah ku tak bisa melihat senja d iatas sana.

Diammu cukup ku mengerti, dan ku pergi.