Terkadang, cinta itu lelucon. Ketika kita begitu mencintai seseorang, tapi justru kekecewaan yang didapat. Seperti menggenggam pasir, semakin erat digenggam, semakin mudah pasir itu untuk keluar dari tangan. Tapi, ketika kita tidak terlalu begitu mencintai seseorang, justru ketidakinginan yang didapat. Selayaknya matahari yang disebalkan banyak orang di musim panas, namun diinginkan pada musim hujan.

Dan aku juga merasakan bahwa cinta itu lelucon. Meski cinta tidak untuk ditertawai, tetap saja ada keganjilan yang membuatku setidaknya tersenyum kecil. Dan itu semua berkatmu, seorang yang kucintai. Iya, seorang.

Entah apakah di harimu, pagi begitu dingin, atau malam yang begitu hangat, tapi, tak peduli soal itu, aku hanya ingin mengucap terima kasih padamu. Jangan pedulikan apa-apa yang kuucap setelah ini, sebab kuyakin, bagimu hanyalah sebuah kata-kata tidak berguna dari orang yang sudah begitu lancangnya mencintaimu sehebat ini. Bukankah sebuah ironi bagimu, ketika kamu yang begitu hebatnya, dicintai oleh orang sepertiku, yang tidak ada hebatnya sama sekali, iya?

Terima kasih karena telah mengajarkanku mencintai sebaik-sebaiknya. Iya, berkatmu, aku jadi mengerti cara mencintai seorang manusia dengan sebaik-baiknya. Bahwa mencintamu, cukuplah dengan tiga hal: mencintai dengan tulus, maka tidak butuh alasan; mencintai dengan sejati, maka tidak butuh balasan; mencintai dengan cinta, maka tulus dan sejati yang didapatkan.

Terima kasih karena telah mengajarkanku menunggu sebaik-baiknya. Iya, berkatmu, aku jadi paham rasa dari sebuah penantian terhadap orang yang kucintai. Tidak enak rasanya. Hanya bisa menunggu, menunggu, dan menunggu, semoga saja tidak menjadi dungu. Terlebih lagi, aku menanti sebuah hal yang tidak pasti. Tidak ada satupun hal yang kamu pastikan pada penantianku ini. Tidak satupun. Tapi, seperti yang kamu ketahui, aku masih menanti kamu. Sebab aku mencintaimu.

Advertisement

Terima kasih karena telah mengajarkanku tersenyum di saat hati sakit. Iya, berkatmu, aku merasa jadi orang dengan senyum seolah terbaik di tiap hari. Ketika aku di dekatmu, aku selalu berusaha untuk memberikan senyum padamu, meski perasaan sakit di hati ini sudah kutahan setengah nyawa. Sakit memang, tersenyum untuk seseorang yang tidak membalas cinta kita.

Tapi aku akan tetap demikian adanya. Karena, ketika aku mecintaimu, maka aku akan bahagia saat sudah mengetahui bahwa kamu mencintai orang yang kamu cintai. Aku pasti akan mendoakanmu dan orang yang kamu cintai, agar bahagia selamanya.

Meski hati kecilku terluka, aku akan mencoba mengobatinya. Memang bukan perkara mudah perihal mengobati hati, tapi, hatiku tidak akan pernah sembuh apabila tidak terobati, 'kan? Lagipula, siapa yang mau mengobati hatiku, kalau bukan aku sendiri si pemilik hati. Jadi, aku akan jadi penyabar dalam hal ini. Walaupun ada orang yang bilang, perkara hati yang terluka, satu-satunya obat terbaik adalah dengan jatuh cinta lagi. Aku tidak ingin seperti itu caranya. Sebab cinta bukan hal pergantian hati semata.

Akhirnya, meski kutahu kamu tidak mencintaiku, aku akan tetap mencintaimu. Bukan untuk meluluhkan hatimu, hanya saja, aku ingin jujur bahwa aku masih mecintaimu. Meski aku hanya hujan yang tidak pernah kamu inginkan kehadirannya, yang tidak pernah ingin membuat badanmu basah kuyup, tapi aku akan terus menghujani, sebab aku tahu, kamu hanya menginginkan kehadiran pelangi.

Kelak, kalau pada akhirannya memang bukan aku jodohmu, paling tidak, aku sudah memperjuangkan orang yang benar-benar aku cintai, yaitu kamu. Terima kasih, karena telah membiarkanku mencintaimu.