Menikah? Gagal? Itu yang pernah aku alami. Beberapa bulan sebelum hari pernikahan, hubungan percintaan kandas. Segala hal terkait acara sudah dipersiapkan, tetapi DIA berkata lain.

Semenjak kami berencana akan menikah, semuanya terlihat makin runyam. Kami sering adu mulut, saling emosi, dan lainnya. Banyak hal terjadi, yang pada akhirnya membawaku lebih dalam untuk berpikir dan merenungkan apakah ini semua pantas untuk diperjuangkan atau tidak. Aku bukan orang yang mudah untuk mengakhiri suatu hubungan, tetapi kali ini seakan otakku tak bisa berhenti berputar, kata hati berkata sudahi saja semua ini.

Kata banyak orang, saat pasangan akan melangkah ke jenjang yang lebih serius, pertengkaran memang dimungkinkan terjadi. Tetapi kembali aku berpikir, apakah separah yang aku alami. Setiap hari aku berpikir, bukan suatu yang mudah, karena ada beberapa orang yang mungkin akan kecewa dengan keputusanku.

Aku pun tidak menanyakan pendapat orang tuaku mengenai permasalahan ini, aku hanya ingin tidak ada pihak yang dipersalahkan jika nantinya aku membuat keputusan yang tidak sesuai dengan keinginan pasangan. Sekali aku hanya bertanya pada teman dekatku, salahkah dengan pemikiranku.

Setelah beberapa hari merenungkan, aku membuat keputusan untuk mengakhiri hubunganku. Mungkin ini menyakitkan, mungkin ini mengecewakan, tapi aku hanya ingin mengikuti apa kata hatiku. Rasa nyaman, aman, serta damai sudah tak lagi ku dapati. Logika pun berkata hubungan ini sudah tak bisa diperjuangkan kembali. Sudah pasti ada yang merasa tidak terima, ingin tetap melanjutkan hubungan ini.

Advertisement

Beberapa kali dia berusaha membujukku, tapi hasilnya tetap sama saja, aku tidak bisa merubah segalanya, semua sudah terjadi, dan aku katakan ini sudah terlambat. Aku memaafkan dia yang menyakitiku, tetapi tidak untuk bersama lagi.

Berkali kali dia berkata ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berubah, berkali kali pula aku berkata, silakan berubah, tapi tak perlu ada aku di sisimu.

Semua usai, aku merasa apa yang ku jalani kemarin adalah sia-sia. Aku sering meragukan bahwa di luar sana aku akan bertemu dengan pria tepat. Aku hanya mensyukuri, banyak orang baik di luar sana yang selalu mendoakanku. Terimakasih untuk kalian, andil kalian membawaku kembali ke jalanku yang seharusnya.

Kegagalanku membawaku pergi ke kota lain, dengan harap mendapatkan suasana baru. Saat hari keberangkatan, aku merasa tidak mantap untuk berpindah, tetapi semua harus di lawan. Hingga pada akhirnya aku pindah, beberapa bulan kemudian aku pulang ke kota asal untuk menikmati libur. Aku merindukan teman-temanku, orang-orang yang tidak bisa ku temukan selama di kota lain. Kami berkumpul bersama, saling becerita, bersendagurau.

Ada salah satu dari temanku yang sudah aku taksir sejak lama, tetapi dulu dia masih bersama dengan wanita lain. Setelah kami berkumpul, dia yang mengantarkanku hingga sampai rumah. Saat itu sudah semakin malam, hampir tengah malam. Di dalam kamar aku terus berpikir, bagaimana cara aku bisa mendekatinya, karena jujur, sampai aku pergi jauh pun, dia tak bisa lepas dari pikiranku.

Aku hanya terus berkata apa mungkin terjadi, karena dia adalah temanku, kita sering berkumpul bersama.

Dalam hati berkata, aku harus mengungkapkan apa yang aku rasa, apapun hasilnya, paling tidak sudah dikatakan, sehingga suatu saat nanti tidak perlu ada penyesalan.

Akhirnya aku mengikuti kata hatiku, aku katakan apa yang sudah aku pendam selama ini. Ya, aku menyukainya sejak lama, sejak pertama kali bertemu. Aku dikejutkan oleh tanggapan darinya, yang ternyata selama ini juga menyimpan rasa yang sama terhadapku. Bahagia? Tak bisa berkata apa-apa? Ya itu semua kurasakan, seakan ini jawaban atas semua doaku, seakan ini ujung atas perjalanan panjangku selama ini.

Aku hanya bisa mengucap syukur, berterimakasih, DIA memang baik.

Untukmu temanku yang sekarang menjadi kekasih hatiku, yang kuharapkan menjadi pendamping hidupku kelak, terimakasih untuk selalu ada di sana. Aku bahagia karena aku percaya apa kata hatiku. Semoga DIA selalu memegang erat hubungan kita.