Tepat empat tahun kita meninggalkan cerita yang dulu pernah kita rajut. Hari di mana kamu memasuki gerbang kehidupan barumu dengannya, dan aku? Seperti dugaan banyak orang, terpojok di sudut ruang kecewa dan rindu. Diri ini terasa kosong melompong. Apa dayaku tanpa kamu yang menemaniku.

Percakapan yang telah kita lalui, senyuman yang saling melengkapi. Kini hanya kenangan. Tatapanmu yang berusaha menahan kata, dan perlahan sosokmu menjauh dari pandangan mata. Adegan demi adegan manis pahit meramu menjadi satu dalam memori dan hati. Tak kusangka, tak kunyana bahwa kamu lebih memilih bersamanya dan menjadikanku onggokan yang terasa tak lagi berguna. Mengapa harus dia? Mengapa bukan aku saja? Jerit hatiku yang membuat keadaan tak jauh lebih baik. Mengapa kamu harus kembali lagi padanya yang kau bilang sudah masa lalu? Sementara aku tak dapat lagi menahan keinginanmu.

“Kini tak ada terdengar kabar darimu, kini kau telah menghilang jauh dari diriku. Semua tinggal cerita antara kau dan aku…..” Sayup-sayup lagu Sandhy Sandoro semakin menguatkanku tak dapat melepaskan diri dari pandangmu.

Ketika langkahmu tak dapat lagi kupahami. Aku timpang, oleng dihantam derasnya badai. Tak sanggup lagi berdiri jika tanpa topangan orang-orang terdekatku. Mereka, orang tua dan sahabat-sahabat yang tanpa syarat mencintaiku menyelematkan dari situasi ini. Aku masih saja bersikeras kamu jawaban dari setiap doaku namun mereka mengajarkanku untuk realistis. Kamu telah menjadi miliknya, yang itu berarti aku tak punya hak lagi bersamamu. Ini semua tidak adil, batinku meronta.

Berusaha bertahan untuk sebuah sikap, menangkis semua gundah dan ragu. Perih itu tetap ada, sakit itu masih membekas, tapi aku memilih untuk tetap berjalan. Tertatih menapaki hari yang terasa berat. Namun pagi selalu menawarkan cerita baru yang membuatku tahu bahwa hidup tak hanya melulu soal kamu. Menghadapi apa yang ada di depan mata, perlahan menyadarkanku akan hadirnya kebahagiaan tanpa dirimu. Tugas-tugas hidup telah memanggilku untuk diselesaikan. Aku berada di jalur yang menuntutku untuk terus bertumbuh. Menyelesaikan tugas akhir dari gelar sarjana yang ingin kuraih, bergabung dalam kelompok yang membantuku terus bertumbuh dan bermanfaat untuk orang lain. Aku tahu ini semua mungkin hanya pengalihan semata, tapi aku sungguh menikmatinya.

Advertisement

Tekadku bulat untuk terus berjalan bahkan berlari meraih mimpi-mimpi yang mulai kususun ulang. Mimpi-mimpi yang tentu saja tanpa melibatkanmu. Aku mulai bisa memandang dunia dari sisi lain. Aku percaya bahwa mentari pagi menawarkan hari yang cerah bagi siapapun, termasuk aku. Aku pun percaya bahwa malam selalu ada untuk menemani jiwa-jiwa yang sepi dan butuh ditemani, termasuk aku. Sepi itu kini tak lagi menjamuri hati ketika kulihat sosok orang-orang yang kusayangi memelukku dengan tulus. Mereka yang ada di saat aku terpuruk, melihatku bahagia meraih gelar yang kucita-citakan, bahkan dengan predikat dengan pujian. Aku tak sampai hati melukai mereka dengan tangisan egoisku karenamu, janjiku mulai saat itu.

Ketika aku memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang master, kamu telah menyelesaikan studi mastermu bersama dia yang kau puja. Kini kalian berdua telah menjadi bertiga dengan anak lucu yang ada di gendongan. Aku tersenyum tipis melihat kebahagiaan yang kalian sandang. Aku ikhlas, ucapku pada diriku. Meski sejatinya aku belum bisa benar-benar rela karena rasa sakit itu masih tersisa. Kuakui tanganku masih terasa bergetar kala melihat foto kalian di media sosial hingga membuatku sulit tidur semalaman. Inikah yang disebut gagal move on?

Aku boleh saja dibilang gagal, tetapi ini semua tentang proses. Ada jatuh bangun yang kualami di dalamnya. Mungkin saja saat ini aku lagi-lagi mengingatmu, namun aku tidak akan pernah berhenti untuk berusaha. Aku ingat tanggung jawabaku untuk meneruskan studi ini harus berakhir di garis finish. Perlahan aku mulai mengayuhkan semangat hari demi hari. Bergelut dengan harapan dan untaian doa yang tak pernah luput dari perjalanan ini. Aku tak lagi memasung diri untuk melupakan atau mengingatmu, yang aku tahu bahwa hidupku dan masa depanku jauh lebih penting dari apapun itu. Aku ingin belajar meneguk rupa pengetahuan dari segala penjuru, menjadikannya bekal dan guru. Meski terkadang kerikil dan batu sandungan ada untuk menguji, tapi aku bersyukur bahwa semua itu dapat dilalui.

Mengukir senyum di bibir orang-orang yang berada di kanan dan kiriku, membantu meringankan beban sesama menjadi prosesku untuk selalu bersyukur atas segala karunia. Aku tak mau lagi mengeluh dalam kekalutan perasaan, karena masalah-masalah orang di luar sana jauh lebih bergengsi. Tak ada lagi yang mampu menghentikanku untuk terus bertumbuh dan berproses menjadi orang yang lebih baik. Semangatku jauh lebih membara setelah berjuang dalam kehampaan yang berhasil kulalui. Aku dikelilingi oleh rentetan peristiwa dan kumpulan individu yang satu frekuensi denganku. Mereka yang menemaniku dalam jalur perjalanan yang kusebut jalan menuju masa depan. Aku tak lagi diburu oleh kalutnya rindu karena aku tidak lagi ingat persis bagaimana rasanya itu. Setapak demi setapak namun pasti mengantarkanku pada momen yang bermakna sangat dalam ini.

Hingga akhirnya satu hal kumengerti, aku butuh waktu, lebih dari aku butuh kamu. Sehingga saat semua siap tertata, “kita” akan tercipta dengan sendirinya, bersama dengan orang yang dipilihkan Tuhan untukku. Berjuang untuk seseorang yang akan ditakdirkan bersama, saat waktu itu dirasa telah tepat. Aku akan terus menekuni apa yang kusebut mimpiku, dengan belajar dan terus berbagi. Tak ada yang lebih indah ketika mendengar kondisi orang yang telah kubantu menjadi jauh lebih baik. Akan sangat membahagiakan melihat situasi menjadi damai ketika peranku dianggap sebagai hal yang berguna. Ini semua tentang menebar kebermanfaatan bagi orang lain, yang kusebut ini adalah passionku.

Momenku kehilanganmu kutandai sebagai momen di mana aku mulai menghargai arti perasaan. Aku belajar banyak dari momen itu untuk menjadikanku pribadi yang lebih tangguh. Aku bersyukur untuk nilai perjuangan atas beberapa tahun terakhir yang mengantarkanku pada momen ini, akan segera menyelesaikan studi masterku.

Aku berterima kasih kepada semesta atas kesempatan patah hati yang begitu dalam hingga akhirnya dapat bangkit dan melompat jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Hampir setiap orang pun pasti pernah mengalami hal yang sama, justru jauh lebih terpuruk dariku. Namun satu pesanku, bahwa kehilangan orang yang kau sayangi adalah momen dimana kau dapat lebih mengenal potensi terdalam dirimu.

Atas nama harapan, aku akan terus berjalan menuju masa depan. Karena masa depan yang kita tatap, tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa tahu. Aku memilih untuk memantaskan diriku bagi dia yang telah menantiku di persimpangan jalan demi mewujudkan mimpi bersama.