Banyak hal yang tak terlihat, namun bisa menjadi senjata yang mematikan. Entah itu rasanya seperti goresan, sayatan, hunusan, bahkan lebih mirip pada rasa dikuliti.

Ditujukan pada kita yang memiliki semua kelebihan dan kebaikan di antara makhluk di semesta ini.

Pada semua yang sepertinya tidak lupa bersyukur atas segala kelebihan yang dimiliki. Pada semua yang sepertinya selalu berniat untuk selalu berbuat kebaikan dengan nilai objektifitas. Pada semua yang sepertinya selalu ingin menjadi manusia berguna meski belum menemukan cara yang dikuasai untuk mewujudkannya.

Manusia yang selalu beruntung dengan pemberian yang tak terbatas, baik dengan cara yang berkeringat atau bahkan hanya berkedip untuk mendapatkannya. Namun manusia juga sering lupa untuk memasang aba-aba pada dirinya.

Untuk pemilik “mulut”, yang sering membuat hati terkesan bahkan terhujam.

Advertisement

Tak ada yang mengajarimu untuk berusaha merangkai kata kasar, menyodorkan bahasa yang tak terpelajar, atau hanya sekedar bersembunyi dengan sebuah bisikan. Yang terhormat, kamu tahu? Ada berapa luka yang terlukis saat kau mengeluarkan ucapan dengan emosi tinggi dan kau, entah sulit atau enggan mengendalikannya? Ada berapa orang yang mengelus dadanya saat kau berbicara sesuka hati, entah kau merasa benar atau mungkin kau pikir ini termasuk pada asas kebebasan? Sekarang tanyalah pada dirimu, apa untungnya pada sebuah persepsi yang kamu punya dan sudah kamu lontarkan dalam sebuah opini yang menyebar? Ada?

Sudahkah kamu sadar? Dan memenuhi sebuah tanggung jawab atas semua celotehanmu? Bukan tingkat pendidikan yang menjadi tolak ukur sebuah kelembutan berbicara, tapi fungsi otak, dan kepekaan hati yang menjadi dalangnya.

Untuk hal yang satu ini, kamu perlu menempatkan akalmu menjadi prioritas, ketimbang hati yang biasa menjadi rujukan pertama. Mengapa? Karena yang menjadi sasaran cercaanmu adalah bagian tubuh manusia yang sama, seperti yang ada pada tubuhmu. Yang sama-sama dijaga agar terhindar dari serangan luar dan kerapuhan dari dalam. Baiklah, jika kamu tidak berkemampuan atau tidak berkemauan untuk memposisikan diri menjadi orang lain, menjadi orang yang berperan sebagai korban tempat produksi kalimatmu keluar, cobalah membayangkan bahwa kamu memiliki traffict light di otakmu, bayangkan bahwa semua yang kamu cetak menjadi kalimat yang menyanyat hanya boleh meluncur jika lampu-lampumu rusak. Berapa besar kemungkinannya? Kecil, sangat kecil. Karena jika kamu melanggar satu, ada berapa sakit yang ditimbulkan? Ada berapa orang yang perasaannya terkoyak?

Ini bukan masalah lemah atau terlalu perasa, karena bagi manusia, perasaan memang harus dijaga. Melatihnya untuk menjadi kuat bukan dengan cara mencabiknya, tapi membiasakannya disiplin mental. Tahu di mana, bagaiamana merawatnya dan melatihnya.