Have you ever woke up and just asked yourself pointless life questions?

Salah satu hal yang bikin masa kecil itu indah adalah karena saat kecil kita nggak pernah benar-benar memikirkan hal besar. Memang sih, hal yang namanya masalah itu udah ada sejak kecil. Soal teman sekolah yang jadi musuh kita, soal bu guru yang galak bukan main, soal pelajaran olahraga yang nggak kita suka, sampai uang bayar SPP yang nggak sengaja terpakai buat jajan. But the thing is, saat kecil permasalahan kita cuma berhenti sampai di hari itu doang. Yah, kecuali ujian. Terutama bagi kita yang masa kecilnya indah, begitu sampai rumah dan ketemu papa mama, rasanya semua masalah menguap begitu saja.

Kita bebas bermimpi tanpa harus tahu bagaimana cara mencapai mimpi itu. Kita bebas punya cita-cita tanpa harus menjamin pilihan kita itu niscaya atau mustahil. Dan kita bebas melakukan apapun tanpa harus pikir panjang soal risikonya. That's the point. Kita nggak pernah takut untuk mencoba dan bahkan berbuat salah.

Hal sederhanya aja, apa kamu pernah takut menjawab pertanyaan, "Kalau gede, kamu mau jadi apa?" Mostly, kamu akan seenak udel kasih jawaban. Ya jadi arsitek lah, astronot lah, dokter lah, penyanyi lah. Anything seemed possible.

Di saat kita dihadapkan sama pilihan, mau pulang atau main, mau jajan atau bayar SPP, kita juga nggak pernah pikir panjang soal risikonya. Kita berani ambil sikap untuk kemauan kita sendiri. Hal yang terlintas hanyalah "Ah, paling juga kena hukum" dan masalah kita selesai sampai di sana.

Advertisement

Begitu pun soal cara pandang kita sama papa mama kita. Hanya ada dua emosi yang paling dominan terhadap orang tua kita saat kecil dulu: Sayang dan marah. Udah sampa sana aja. Kita marah kalau papa sama mama ngomel karena kita sering main. Kita sayang banget ketika papa dan mama jemput kita saat sakit di sekolah.

But, do you realize that when we grow up, things are getting more complicated?

Seiring bertambahnya usia, kita jadi harus tahu dan harus mau menerima hal-hal yang ada di depan mata. Bahkan nggak sedikit yang sadar, mimpi yang dulu kita agung-agungkan nggak sesederhana kedengarannya. Kita jadi tahu bahwa untuk jadi dokter itu butuh waktu dan duit banyak. Atau untuk jadi astronot itu kita harus cari cara supaya bisa dikirim jadi bagian NASA. Nggak semudah itu.

Hal yang lantas pasti beribas sama langkah yang kita ambil. Kita jadi lebih hati-hati dalam bertindak, berpikir. Terutama soal keputusan hidup. Semakin kita dewasa, semakin kita tahu kalau semua langkah kita ada risiko yang harus dihadapi. Either it's good or not. Mau terus-terusan main dan nggak kuliah atau kerja? You will get your risk. Mau menyalahgunakan uang orang tua juga jadi pikir lagi.

Begitu pun dengan pandangan kita sama papa mama. Rasanya, setiap kali lihat wajah mama ada perasaan bersalah karena nggak punya waktu banyak buat beliau. Atau ketemu sama papa, ada dorongan kapan kita bisa balas budi baiknya. It's all on your shoulder now.

Karena apa? Saat kita dewasa, kita belajar untuk menjadi realistis dan bukan idealis. Kita belajar untuk membaca situasi dan bertindak, bukan hanya memikirkannya. Dan hal yang paling utama, kita jadi tahu bahwa apapun yang kita mau harus ada usaha untuk mencapainya. Ya. Time is the best school and life is the best teacher.