Saat itu adalah hari Sabtu dan suatu Sabtu yang terasa berbeda. Bukan karena aku bisa bermalas-malasan seharian penuh karena memang aku off pada saat itu, tapi lebih tepatnya karena aku akan bertemu dengan dirimu. Hahaha sepertinya kali ini jari-jariku kembali tidak bisa lepas dari tema cinta. Mungkin kembali bercerita tentang cinta kali ini bukanlah hal yang terlalu menyebalkan, setidaknya untuk diriku sendiri.

Ada benarnya juga sih, ketika berbicara soal cinta, tak bisa lepas dari yang namanya rindu. Benar kata orang, rindu itu sangat menyiksa. Sama seperti aku saat Sabtu itu, semua rindu terasa sudah menumpuk. Hari itu aku tidak berkencan dan melepas rindu, hanya bertemu. Bertemu denganmu bukan berarti kencan kan? Karena itu memang bukan sebuah kencan. hahahaha… Lagipula mungkin kamu akan sangat keberatan jika aku menganggapnya itu adalah sebuah kencan.

Karena doa adalah caraku ungkapkan rindu langsung kepada sang pemilik hatimu.

Kau tahu, hanya bisa bertemu denganmu saja, walau hanya beberapa jam, itu bisa menjadi penawar atas apa yang kurasakan. Hebatnya, sepertinya alampun bersekongkol denganku Sabtu itu. Hujan, ya hujan benar benar membantuku. Membantuku untuk bisa melihat senyummu dari dekat dan lebih lama. Jujur saja, saat itu aku berharap hujan turun lebih lama dan reda saat petang datang. Hahahaha

Aku tahu kau tak terlalu mengerti campur aduknya perasaanku. Grogi iya, bingung iya, terpesona apalagi, sangat iya. Yang pasti, menurutku ini adalah cerita bahagia. Bahagia ketika aku bisa merasakan rindu, bahagia ketika aku bisa melihat senyummu dari dekat, dan yang paling penting adalah tetap bahagia walaupun semua ini hanya bisa dipendam tanpa sekalipun terucap. Karena tak perlulah aku mengucap rasa ini kepadamu, di depanmu dengan sejuta kata indah. Cukup semua terucap lewat doa untukmu, karena doa adalah caraku ungkapkan rindu langsung kepada sang pemilik hatimu.