Perasan yang ku rasa saat itu sekaan membuat semua hal yang ku lihat (bahkan yang kulalui) terasa indah. Menatapmu dari kejauhan, mengagumimu dalam diam, dan menyisipkan namamu dalam doa seakan menjadi hal yang seakan tak pernah lepas dalam hariku.

Pernahkah perasaan ini ku rasakan sebelumnya? Mungkin belum. Ya, ini pertama kali ku merasakan hal yang semenakjubkan ini. Rasanya lebih dalam dari apa yang banyak orang definisikan tentang itu; cinta.

Hm, apakah ini cinta?

Entahlah, tak ada kamus atau ensiklopedia manapun yang mungkin bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu.

Waktu yang lama mengenalmu, seakan hanya terhitung beberapa jam saja saat itu. Saat semua pandangan berubah drastis dalam perspektifku, saat semua harapan hanya tertuju padamu. Siapakah kau yang bisa sedemikian rupa membuat ku gila? Membuatku cemburu pada sahabatku sendiri, hingga membuatku seakan sudah memilikimu?

Satu hari saat bertemu denganmu, seakan terasa seribu detik yang k ulalui hanya untuk melihat, dan mengagumimu. Semua hal terasa lambat dalam alunan itu, alunan yang membuatku terus memuji seluruh tindak tanduk mu; semua hal yang kau lakukan.

Advertisement

Balas tatapan yang kau berikan saat ku mencoba menatapmu seakan memberikan sejuta harapan bak oasis di padang pasir tandus. Sungguh sangat nyata dan meyakinkan! Logika manapun tak akan sanggup melawan argumentasiku padamu. Kau juga menyukaiku. Itu argumen yang ku pertahankan, dan hal itu telah ku pikirkan matang-matang.

Berapa lamakah itu? Bahkan aku pun tak ingat. Saat ku tetap merasa nyaman dengan apa yang ku lakukan kepadamu, mencintaimu dalam diam dan meyakinkan diriku bahwa kau juga mempunyai perasaan yang sama.

Saat semuanya tiba, saat keberanian itu muncul, saat diriku mencoba untuk keluar dari rasa nyaman itu, sembari mencari kepastian atas apa yang kuyakini, aku mengatakan padamu. Entah apa yang ku rasa saat itu, tapi yang lebih dominan adalah rasa takut, takut kecewa atas harapan yang ku yakini. Dan akhirnya ketakutan itu menjadi sebuah hal nyata di hadapanku.

Aku mendengar jawabanmu; seakan membuatku ingin memutar waktu.

Tak ingin mendengarnya, itulah harapku saat itu. Andai semuanya tak seperti ini, andai aku tak seberani itu menyampaikannya, mungkin kecewa itu tak akan menjadi nyata.

Dia sahabat yang ku cemburui saat dekat denganmu ternyata lebih dulu menyampaikannya. Apakah diri ini terlalu bodoh untuk mengetahui hal itu? Semua tanda-tanda itu, semua yang ku yakini, ternyata hanya bayangan semu. Tak ada makna di sana.

Frustasi. Ya, itu mungkin kata yang lebih cocok menggambarkan diri ku saat itu. Dengan seluruh ego yang ku miliki, mencoba menyakinkan ku atas khayalanku sendiri, dan hal itu semua membuatku hancur.

Melepaskan adalah sebuah hal yang ku pelajari saat semuanya mulai membaik. Beberapa hari setelah kejadian itu membuat ku sadar tentang arti melepaskan. Aku belajar melepaskan seluruh egoku, keyakinan yang ku pertahankan, dan melepaskan seluruh perasaan yang sempat ada untukmu.

Akhirnya pun ku coba untuk mengerti bahwa penolakanmu saat itu memberiku sebuah makna; bahwa memantaskan diri atas apa yang ku inginkan menjadi hal yang mutlak untuk ku lakukan.

Dan satu pesan lagi buat mu; jaga dia, terima dia apa adanya. Dia sahabatku. Dia adalah orang yang baik, bahkan jauh lebih baik dariku. Bersyukurlah atas apa yang telah kau pilih.

Terakhir, terima kasih untuk semua perasaan yang pernah ada untukmu, dan untuk semua luka yang kau tinggalkan. Terima kasih untuk pembelajaran yang kau berikan.

Sekarang tak ada penyesalan. Yang tersisa hanya diri yang selalu dipenuhi dengan semangat untuk memantaskan.