Yaa, lagi-lagi soal cinta lagi. Kali ini hatiku tertambatkan pada seorang laki-laki yang berbadan tinggi dengan paras yang tampak selalu mengayomi. Disaat hujan gerimis, aku duduk sendirian di pojok restoran malam itu. Lalu, datanglah seorang laki-laki yang menghampiri dan aku sebut itu, Kamu.

Sejak peristiwa saat itu, memang benar bahwa pertemuan kita bukan hanya sebatas kebetulan. Tapi, sudah direncanakan Tuhan.

Kamu, yang saat itu mengajakku bercerita kesana-kemari membuatku tak merasakan kegundahan lagi. Kamu datang diwaktu yang tepat, dimana aku sendirian pada malam itu. Kamu, berhasil mencuri perhatianku.

Tak perlu banyak usaha. Bertemu dengan laki-laki yang mampu menemaniku bicara tentang segalanya memang salah satu kunci yang paling besar untuk mendapatkan perhatianku.

Hari demi hari, hingga bulan berubah menjadi tahun. Kedekatan kita semakin menjadi-jadi. Tapi, tampaknya kali ini keberuntungan tidak berpihak kepadaku. Karena memang benar yang dikatakan kebanyakan orang:

Advertisement

Karena yang nyaman, enggak selalu berakhir jadian.

Entah, alasan apa yang membuat kamu pergi. Tanpa sepatah kata, kamu meninggalkanku. Sungguh, kali ini aku tidak mengerti. Lalu, untuk apa semua perhatianmu selama ini? Setelah berhasil membuatku jatuh, kemudian kamu pergi tanpa membuatku merasakan cinta?

Baiklah. Kadang, cerita Tuhan memang seperti itu. Meski harus bertemu dengan orang yang salah terlebih dulu. Yaa, aku tak paham apa yang harus aku lakukan. You left in peace, left me in pieces.

Sepertinya, tidak ada yang bisa aku lakukan selain mendoakanmu. Kenapa doa?

Karena semua akan pergi kecuali: doa.

Hey, kamu. Meski aku belum sempat benar-benar memelukmu. Tapi percayalah, cinta yang dibungkus dengan kepedulian ini, tak pernah punya alasan untuk mengemis sebuah balasan. Ia, senantiasa mendoakan.

Aku membiarkan kamu pergi, meski tak Jarang aku berharap kamu kembali. Biarkanlah aku yang sedang menikmati luka. Berpura-pura tidak suka. Sekali lagi, cinta tak pernah salah. Mungkin, waktu yang bermasalah.