"Jangan banyak pilih! Nanti jadi perawan tua, loh…"

Tak tahukah kalian ucapan itu membunuh kebebasanku? Tersita sudah waktuku hanya untuk memperbaiki hati yang menjerit karena ucapan itu. Entah kesepakatan darimana bahwa wanita yang sudah menyentuh kepala dua harus sesegera mungkin menuntaskan masa lajangnya. Bagaimana mereka bisa merasa paling tahu bahwa waktuku sudah habis untuk menggapai mimpi sendirian?

Bukankah nanti tak ada bedanya mereka yang menikah di usia muda dengan mereka yang sedikit lebih dewasa? Bukankah seharusnya asal bisa berhenti pada orang yang tepat, pernikahan akan tetap terasa hebat? Tak peduli sudah menunggu dalam waktu panjang, bila yang saling menginginkan sudah disandingkan adakah perbedaan kebahagiaanku dengan kalian yang menikah duluan?

Jadi, berhentilah berbicara seolah-olah kalian telah mencapai kesempurnaan.

Salahkah bila aku hanya ingin membuka kembali pintu hati bagi dia yang hadir tanpa ingin pergi lagi? Salahkah bila aku hanya tak ingin terluka untuk alasan yang sama meski dengan orang berbeda? Salahkan bila sampai saat ini belum aku temukan perhentian terakhirku yang membuatku berhenti berjalan sendiri? Kumohon, tak perlu lagi kalian menjadikan aku bahan pembicaraan kalian diwaktu senggang.

Advertisement

Sesungguhnya, tak ada seorangpun yang ingin hidup sendiri. Tapi bila waktuku belum tiba, haruskah aku memaki Sang Esa karena tak kunjung dihadirkan dia yang nantinya akan menemaniku hingga akhir masa?

Pada akhirnya semua hanya tentang seberapa siapkah aku membagi hidupku dengan dia yang memang sudah dipilih Tuhan. Tak ada yang lebih indah dari pernikahan yang mengantarkan kita pada pertemuan dengan dia yang datang bukan hanya untuk menyapa, tapi memilih duduk disamping kita. Membicarakan banyak hal sampai malam tiba dan berpisah hanya karena harus ada yang lebih dulu berhenti terjaga.

Aku hanya perlu menunggu sambil terus berbenah diri. Menikmati setiap proses perkembangan diri yang semakin hari semakin ditangguhkan waktu. Sampai dia datang mematahkan semua pendapat kalian tentang takaran kebahagiaan. Sampai janjinya untuk tetap bersama dalam susah maupun senangku terucap dihadapan Tuhan dan kalian yang selalu bergunjing tentang keterlambatanku mengakhiri masa lajang.

Untuk saat ini, anggap saja kita punya cara berbeda untuk berbahagia.

Kalian yang merasa lebih baik kehidupannya karena telah dapat mengabadikan gambar diri dengan bayi dalam kandungan tak perlu tertawa sinis padaku yang masih lebih memilih untuk terus menekuni hobi. Karena bagiku berkumpul dengan sahabat sampai larut malam sambil bertukar ide dan canda juga tak kalah menyenangkan.

Dan untuk para orang tua yang buah hatinya sudah dapat berkunjung kerumah membawa anak mereka. Kurasa kalian tak perlu memojokan orang tuaku atau memandang remeh mereka kemudian berkomentar \'mungkin anaknya tidak ada yang mau\'. Percayalah, sekalipun masih sendiri akupun bisa membuat mereka tertawa bahagia sampai meneteskan air mata. Bukankah itu sama? Intinya mereka bisa merasa bahagia karena telah melahirkanku ke dunia.

Jadi, kumohon berdamailah dengan perjalan hidupku. Atau paling tidak berhentilah mencampuri apa yang bukan urusanmu. Karena sesungguhnya menikah sekarang ataupun nanti, asalkan bisa bertemu dengan orang yang tepat, semua pernikahan pasti akan tetap terasa hebat.