“Do you think you are worth for me?”

Raut wajahnya datar, tidak ada emosi dalam rima ucapannya. Yang dapat kucerna dari kalimat itu adalah sama sekali tidak ada beban ketika ia mengutarakannya. Tak ada hal lain yang dapat kulakukan kala itu selain diam.

Kalimat itu adalah beberapa kalimat yang paling aku ingat dalam kurun waktu 1,5 tahun belakangan. Tentu saja kalimat itu terlontar dari sosok yang dulunya begitu aku sayangi selain keluarga dan teman-temanku. Tidak ada hal lain selain merasa kecil, tidak setara, dan merasa tidak memiliki kepantasan untuk sekadar berjalan beriringan dengannya. Walau begitu, aku pun punya andil mengapa kalimat itu sampai terlontar, maafku selalu terucap dalam sudut-sudut memori. Meski kesedihan adalah muaranya, aku justru bersyukur Tuhan memberiku sakit hati kala itu, karena kalimat itu kini sudah menjadi bahan bakarku untuk berakselerasi menuju pribadi yang lebih pantas dan berguna, tidak hanya untuk satu sosok saja, melainkan untuk semuanya.

Tidak perlu diragukan berapa besaran sakit hati yang kudapat. Memori-memori pun sering terulang tanpa kukehendaki, tapi sudahlah, aku tidak perlu melawannya, kunikmati saja, karena pada dasarnya memori manusia tidak diciptakan untuk melupakan, tapi diciptakan untuk terus berkembang dan diperbaharui dengan menambahkan memori-memori terkini. Sedangkan rasa benci? Itu juga berhasil kuselarasakan dengan narasi-narasi penuh kasih dari sosok-sosok besar seperti Muhammad dan Isa yang tak pernah menebar benci.

Bagiku kini tidak perlu sibuk mencari pengganti, karena sibuk mencari akan membuat lupa hal-hal yang lebih baik daripada sekadar mencari. Aku percaya segala sesuatunya memiliki perhitungan pasti, tidak perlu diragukan lagi. Bagiku sekarang memantaskan diri adalah sebuah cara indah yang dipilihkan Tuhan untukku.