A journey of a thousand miles must begin with a single step.
– Lao Tzu –

Gunung Bromo adalah salah satu tempat wisata yang sangat terkenal di Indonesia, Gunung Bromo berada di Provinsi Jawa Timur dan terletak di empat wilayah kabupaten, yaitu, kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, sebagai objek wisata yang terkenal dan paling utama di Jawa Timur, Gunung Bromo sering dikunjungi oleh banyak wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri, daya tarik Gunung Bromo adalah karena Gunung ini termasuk Gunung api yang aktif yang memiliki pemandangan yang sangat indah.

Kesempatan saya mengunjungi objek wisata ini adalah ketika saya sedang dalam proses belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri, pada bulan Juni-Juli 2015, kota Malang dapat di tempuh 2 jam dari Pare menggunakan sepeda motor melalui jalur kota Batu, dan Gunung Bromo dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam dengan transportasi dan jalur yang sama.

Dari Pare ada beberapa pilihan untuk menuju ke Bromo, yang pertama adalah menggunakan agen wisata dengan membayar Rp 350.000 para wisatawan sudah dapat semua fasilitas, dan pilihan kedua adalah dengan cara backpacker menggunakan sepeda motor sewaan Rp 75.000/hari yang banyak terdapat di Pare, ketika itu saya dan teman-teman lebih memilih menggunakan motor sewaan karena melihat harganya yang lebih murah dan dapat bebas kemana saja.

Kami berangkat ketika sedang libur, hari sabtu siang karena rencana awal adalah melihat sunset di Bromo dan menginap di sekitar Bromo, setelah mempersiapkan semuanya sesuai rencana kami berangkat dari Kampung Inggris Pare pukul 13:00 WIB, semua berjalan lancar, kami menggunakan jalur Kota Batu karena jalur ini lebih singkat dan tidak terlalu macet, jalur yang kami lewati memiliki pemandangan yang indah dengan suhu yang dingin, jalan yang berkelok-kelok ciri khas jalur perbukitan dan disuguhi pemandangan sawah yang hijau dipinggir jalan dan sungai-sungai yang airnya masih jernih, namun dalam perjalanan ternyata kami menemui beberapa masalah, masalah pertama yang muncul adalah ketika salah satu ban motor teman kami bocor, jadi harus berhenti untuk memperbaiki terlebih dahulu, membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk memperbaikinya, ketika semua sudah kembali normal, tepat setelah kami memasuki Kota Batu kami terkena razia polisi karena ternyata plat nomor kendaraan yang kami sewa tidak memenuhi standar, namun setelah bernegosiasi hingga satu jam kami dilepaskan karena kami statusnya peminjam motor dan bukan warga asli setempat, namun kejadian tersebut telah membuat waktu kami terbuang kembali karena harus berhenti beberapa saat.

Advertisement

Ketika memasuki kota Malang waktu sudah menunjukan sore hari dan cuaca saat itu mendung, sesuai rencana kami langsung menuju ke Gunung Bromo melewati Jalur Tumpang-Gubuk Klakah yang satu jalur dengan Gunung Semeru, namun rencana itu terhambat oleh faktor cuaca, karena ternyata di tengah perjalanan hujan mengguyur Kota Malang, hambatan muncul karena kami semua tidak ada satupun yang membawa jas hujan dan di motor yang kami sewa tidak tersedia itu, akhirnya kami berhenti dan menunggu hujan reda hingga 30 menit, setelah hujan reda kami melanjutkan perjalanan dengan kondisi hari yang semakin sore, dengan kembali ke rencana awal melalui jalur Tumpang-Gubuk Klakah gelap mulai datang ketika kami sedang dalam perjalanan di jalur Tumpang-Gubuk Klakah ternyata jalur ini memiliki kondisi jalan yang kurang baik terutama jika dilewati dalam kondisi gelap, karena tidak adanya penerangan dan kanan-kirinya di dominasi jurang, dan ketika sampai di pintu masuk wisata Gunung Bromo hari sudah gelap, rencana awal dari Pare untuk melihat sunset gagal, karena jalur yang berbahaya dilewati pada malam hari, kami turun kembali ke Kota Malang.

Malam hari kami habiskan di Kota malang dengan rencana melanjutkan perjalan esok paginya, karena sudah berada di Malang, kami tidak membuang waktu untuk berdiam diri, kami berjalan-jalan di Malang dan menikmati Kota Malang pada malam hari, yang membuat saya merasa nyaman dengan Kota Malang adalah karena kota ini termasuk kota yang besar namun tertata dengan rapih, tidak terlalu padat kendaraan dan suhu udara yang dingin, kota Malang juga memiliki beberapa Universitas terkenal yang sempat saya lewati, diantaranya UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), UNM (Universitas Negeri Malang), UIN (Universitas Islam Negeri) Malang, UNIBRAW (Universitas Brawijaya).

Esok paginya kami berangkat dari Malang pukul 03:00 WIB, jalur kedua yang kami lewati adalah jalur Jemplang, Ngadas, Malang, jalur ini adalah jalur pedesaan yang sangat enak untuk dilewati, di dominasi ladang di sekitarnya, matahari mulai muncul ketika kami berada diperjalanan, matahari pagi yang menyingkap embun, dan mengiringi para warga pergi ke ladang untuk bercocok tanam, udara yang dingin memang sangat cocok di dataran tinggi memang sangat cocok untuk kegiatan bercocok tanam, waktu menunjukan pukul 06:00 WIB ketika kami sampai di lautan pasir Gunung Bromo, saat itulah untuk pertama kalinya saya melihat Gunung Bromo, dengan udaha dingin khas pegunungan, kami semua sangat puas karena berhasil sampai di Bromo walaupun hanya menggunakan motor dan setelah semua kejadian kurang baik yang kami alami sejak berangkat dari Kediri, kami habiskan waktu beberapa jam di Bromo untuk bersenang-senang.

Waktu menunjukan pukl 09:00 WIB ketika kami memutuskan untuk pulang, kami pulang menggunakan jalur yang berbeda dari jalur berangkat yaitu melewati jalur Tumpang-Gubuk Klakah yang malam sebelumnya kami lewati, ketika setelah turun dari Bromo kami mampir kembali ke kota Malang dan kemudian kembali ke Kediri.