Tulisan ini realita. Kau terhadapku, atau aku terhadapmu.

Alasannya tetap sama. Bahwa tidak dapat dipungkiri sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi juga berorientasi di lingkungan sosial membuat kau dan aku saling membutuhkan. Ah alasan klasik! Nyatanya? Aku seperti customer service yang bekerja ketika ada sesuatu saja.

Aku senang hidup di zaman sekarang.
Zaman dimana dengan bangganya manusia teriak “modern, canggih” dan dengan angkuhnya mencela “gaptek, katrok,kuno” ,

Zaman dimana gadget sudah mengalihkan pandangan manusia menjadi independen, individualisme.
Lalu karena inikah aku senang? Oh tunggu dulu!

Katanya Tugas adalah sebuah kesakralan yang penuh dengan memori. Aku yakin semua orang pasti akan meng’iya’kan hal ini. Paham? Biar aku jelaskan.

Advertisement

Kita dipertemukan oleh keadaan dan saling mengenal karenanya. Tertawa bersama karena tugas, berpikir bersama karena tugas, saling membutuhkan karena tugas, hingga pada akhirnya kita mendewasa karena tugas.

Jika ku Tanya hal apa yang paling menyentuh? Tidak ada hal yang lebih menyentuh dibandingkan tulisan ini. Terserahmu menilai ini curhatan konyol atau bahkan sebuah sindiran anekdot. Tapi tidak bagiku, bagi penulisnya.

Teruntuk kau terhadapku, Kini kita saling membutuhkan bukan karena tugas, hanya jika ada tugas.
Tak pernah tau kapan keceriaan dapat dibagi bersama lagi, keramahan akan kembali menyapa.

Sekarang keramahan juga kebersamaan menjadi misteri karena entah kapan akan pulih seperti sedia kala. Perpisahan yang tadinya sama sekali tak terbayangkan menjadi yang aku elu-elukan untuk terjadi. Karena percuma saja. Pada dasarnya kita sudah bosan.

Membuatku selalu bersyukur kepada sang Khalik karena menganugerahi ku kemampuan yang dibutuhkan orang lain, hingga aku menjadi berguna bagi sesamaku.

Dan kepada sang Tugas, aku berterima kasih banyak, karena mu kami-kami ini kembali saling mengenal, meskipun sesaat.

Kau Terharu? Sudah terlanjur.