18 September 2016,

Ya! Pada tanggal itulah hari bahagiamu tiba dan aku akan melihatmu berbahagia dengan wanita pilihanmu. Bukan hal yang mudah untukku melihatmu bersanding dengan wanita lain selain aku. Tapi saat kita memutuskan untuk berjalan masing-masing, aku rasa baik aku mapun kau memang mau tak mau harus siap untuk saling melepas.

Kita memang terbiasa bersama dari kecil hingga saat tumbuh dewasa. Kau adalah pria yang pertama kali aku kenal saat aku baru saja pindah ke kota ini. Dulu sekali saat kita masih sangat kecil, kita sering bermain bersama. Dari main kelereng, layang-layang, bahkan kau selalu ikut bermain denganku saat aku sedang asyik sendiri main masak-masakan, dan tentu saja kau pasti masih ingat permainan favorit kita dulu, monopoli. Kita juga pergi mengaji dan sekolah bersama, walau sekolahmu dan sekolahku berbeda tapi setiap pagi kita pergi bersama dan berpisah dijalan yang berbeda. Dan kitapun memiliki sebuah buku yang saling kita tukar sebagai media komunikasi kita yang kita namai dengan buku curhat.

Tanpa terasa waktu kian cepat berlalu, aku dan kau tumbuh bersama. Hingga pada saat itu kau berkata padaku kau menyanyangiku dan kau pun berkata kau suka padaku semanjak kita menginjak bangku sekolah menengah pertama. Saat itu aku merasa ada yang salah dengan ikatan kita, karna dari awal kita bertemu aku kira hubungan kita ini hanya akan sebatas sahabat. Tapi ternyata sebuah persahabatan bisa berubah menjadi cinta.

Advertisement

Karna Tuhan hanya merestui kita sebatas bersahabat saja

Namun saat kita memutuskan untuk bersama, restu itu tak pernah didapat, terutama keluargamu, ibumu. Kadang aku berpikir alasannya memang sungguh konyol. Kita tidak direstui hanya kita berdua bertetangga. Kita pernah mencoba untuk bersama, terus berusaha menyakinkan keluargamu namun restu itu tak kunjung datang. Sampai akhirnya keluargamu memaksamu untuk memilih antara aku atau keluargamu dan akupun tau kau pasti akan memilih keluargamu. Aku tau, sangat tau kau sangat terpukul dan jatuh saat itu dan akupun tak bisa melakukan apapun. Setelah semuanya terjadi alangkah mirisnya hubungan kita ini, untuk bertemu pun kita harus sembunyi-sembunyi dan saat kita berdua saling merindukan, kita hanya bisa bertemu dibalik jendela yang menghubungkan kedua rumah kita.

Karna restu yang tak pernah didapat, pada akhirnya kita memutuskan untuk bersahabat kembali. Kita berusaha bangkit bersama dan tetap berkomunikasi sebagai sahabat, saling bertukar cerita tentang seseorang yang mulai kita sukai. Aku dengan ceritaku dan kau dengan ceritamu. Aku mulai menjalin kasih dengan seorang pria dan kau pun mulai merajut kasih dengan seorang wanita yang masing-masing telah kita pilih. Namun berbeda denganmu yang hingga kini masih dengan wanitamu, aku sudah beberapa kali menjalin cinta, tapi aku selalu saja jatuh ke lubang yang sama. Beberapakali aku selalu dikecewakan oleh pria, diduakan kemudian ditinggalkan. Dan lagi kau satu-satunya sandaranku yang selalu ada, tak pernah pergi bahkan tak pernah berpikir untuk meninggalkan.

Di balik semua kisah yang pernah kita lewati bersama, sebentar lagi hari bahagiamu akan tiba, hanya tinggal menghitung hari. Entah mungkin hanya sebuah kebetulan saja tanggal yang kau pilih untuk hari bahagiamu sama dengan tanggal kelahiranku. Disatu sisi aku sempat merasa sedih karna kau meninggalkan aku sendiri disini, aku akan kehilangan satu-satunya sahabat pria terbaikku yang begitu aku sayangi. Waktunya kini akan terbagi, bukan lagi untukku. Tapi di sisi lainnya aku bahagia karna air mata itu telah sepenuhnya hilang, terganti dengan sebuah senyuman dan kini kau telah menemukan kembali kebahagiaanmu. Namun kau harus tau, bahagiaku tentu saja lebih besar dari rasa sedihku dan aku akan selalu berbahagia untukmu, terutama dihari pernikahanmu nanti.

Mungkin saat ini aku hanya perlu menitipkan kisah kita pada sang waktu dan aku berharap kita akan bersama diwaktu yang lain yang lebih indah. Berbahagialah sahabat, karna aku akan slalu berbahagia untukmu.

Dari aku, sahabat kecilmu..