Kita pernah menjadi bagian di mana aku adalah hidupmu dan kamu adalah hidupku. Kita pernah berjalan berdampingan, saling memeluk, menguatkan ketika salah satu diantara kita mulai rapuh. Tapi itu dulu, sebelum kamu berlalu, sebelum kamu dengan mudahnya mempersilakan masuk seorang tamu dan tanpa seizinku.

Aku tak bisa menyebutnya lancang ataupun tak sopan, toh nyatanya kamu (tuan rumah) sendirilah yang telah mengizinkan.

Ya! Kamu yang kupercaya mampu menjaga dan menutupi setitikpun celah di pintu hatimu, pada akhirnya tak kuasa juga menutupnya dengan rapat. Kamu membiarkannya lalu membukanya hingga sesosok anak manusia yang kusebut tamu itu datang untuk kamu persilakan. Untuk masalah ini boleh aku katakan kamu keterlaluan?

Bukankah ini rumah kita? Bukankah cerita ini hanya aku dan kamu saja yang pantas ada di dalamnya? Lantas kenapa kamu memasukkan orang ketiga di antara kita? Sekali lagi bolehkah aku katakan caramu itu benar-benar membuat mulutku ternganga?

Sungguh, Demi Tuhan! Atas apa-apa yang telah dengan setia aku jaga dan atas segalanya yang telah aku lakukan untuk membuatmu bahagia itu nyatanya tak sedikitpun membuatmu tetap bertahan.

Advertisement

Tidakkah kamu melihatku sekilas saja?

Seharusnya kamu sadar, sekian lama bersama dan berteman dengan jarak itu sangat memilukan. Jika boleh memilih, maka aku tak akan pernah sedikitpun menginginkan kehadiran jarak. Tapi aku bertahan dan berusaha untuk tak tergoda dengan pria-pria lain di luar sana. Kamu tahu? Aku mengingatnya, bahwa ada hati yang sedang kamu titipkan dan kamu amanahkan untuk kujaga. Aku menjaganya, aku menggenggamnya dan memeluknya dengan erat, sebelum tamu itu datang lalu merebutnya. Demi Tuhan! Kali ini kukatakan bahwa aku kehilangan.

Aku benar-benar tak pernah menginginkan kehadirannya, cukup jarak saja yang selama ini memisahkan kita. Bukan dia!

Tapi apalah daya kamu yang menyambutnya dan mengatakannya dengan lantang bahwa akulah yang harus pergi dan beranjak dari kisah ini.

Oke, aku mengerti dengan setiap kode yang kamu berikan, bahwa mulai dari sinilah aku belajar mengikhlaskan apa yang mungkin memang tak menjadi takdirku.

Karena ternyata, sekuat apapapun aku menggenggam dan memelukmu, sejauh mana aku berjalan dan berjuang untuk mempertahankan, kisah inipun tidak bisa menjadi patokan bahwa aku akan memilikimu selamanya.

Baiklah, kini aku sedang belajar mengikhlaskan. Begitu pula dengan apa yang ingin pergi, aku akan melepaskan. Mulai dari cerita ini pula, aku percaya bahwa rencana Tuhan jauh lebih indah daripada rencana-rencana yang telah kamu permainkan.