Aku ingat betul, sore itu ketika aku membaca rangkaian kata yang kau tulis yang aku yakin benar benar dari dalam hatimu. Sederetan kata itu tiba-tiba ingin membuatku lebih mengenalmu. Benar saja, dirimu lebih menarik dari yg kufikir. Ada rasa ingin lebih mengetahui apa akar permasalahanmu sehingga jemarimu mampu merangkai kata sedemikian rupa. Awalnya aku tertarik pada ceritamu, ya hanya pada ceritamu itu. Bak naskah film yg dihasilkan dari tangan dingin sang penulis, pengalamanmu lebih menarik dari itu, langsung di sutradarai oleh Tuhan Sang Pencipta Segala Rasa.

Kau bahkan telah merasakan pahit sepahit pahitnya cinta, dalam sedalam dalamnya kecewa. Dan entah kenapa hati ini tergerak untuk menyembuhkan lukamu. Diriku yg tiba-tiba saja datang, membawa penawar bagi laramu. Membuka pintu hatimu, dan memaksa masuk tanpa permisi. Entah kenapa aku ingin mengembalikan senyummu, aku merasa berkewajiban untuk itu. Aku peduli, awalnya seperti itu. Dan setelah cukup waktu aku mengenalmu, perlahan peduli itu berkembang, bermertamorfosis menjadi perasaan yg orang sebut itu cinta. Tapi bagiku ini lebih dari sekedar cinta, ini lebih rumit dari cinta.

Karna pada saat yang sama, ada seseorang yang hampir saja menyematkan cincin dijariku. Seakan tak peduli akan hal itu, aku terus saja memupuk rasaku padamu. Aku tahu apa yang kulakukan adalah salah, mempersilahkanmu masuk kedalam ruang hatiku yang telah berpenghuni. Tapi biarkan hal ini menjadi salahku, bukan kamu, apalagi cinta. Karna cinta takkan pernah salah. Cinta tau dimana ia harus tinggal, meski dihati orang yang raganya tidak bisa menetap di atap yang sama.

Sayang, begitu biasa aku memanggilmu. Entah harus bagaimana aku mengatakannya. Aku berjanji akan tetap menempatkanmu diposisi paling dalam dihatiku, bahkan setelah cincin itu terpasang. Maaf karena aku mencintaimu. Sekali lagi, ini salahku. Dan jangan pernah kau salahkan cinta diantara kita.

Dariku,

Advertisement

Yg masih memimpikan hidup bersamamu.