Aku masih seperti tidak bisa menerima realita saat melihatmu berjalan jauh membawa tas punggungmu yang besar, “aku pergi” , ucapmu tegas. Seolah tak ada lagi keraguan dimatamu, seolah perpisahan adalah keinginanmu yang paling mendesak saat itu.

Karna aku, aku yang selalu ingin membahagiakanmu ini, tak sanggup menahanmu, kubiarkan engkau pergi. Meskipun hatiku rasanya seperti tak lagi hidup, meskipun air mataku tak berhenti bahkan semakin deras, “bila memang jalan itu yang mau kau tempuh, pergilah, aku baik-baik saja” balasku tersenyum sendu. Aku paham dan mengerti kata-kataku tidak menggambarkan perasaanku, tapi aku harus apa? Toh engkau meninggalkanku juga.

Perseteruan-perseteruan kita mematikan perasaanmu. Tapi aku tak benar-benar tahu apakah memang masalah yang kita lalui dulu atau memang ada seseorang yang sudah mencuri hatimu. Tiada yang tau sayang.

“Aku tak bisa tanpamu” ucapku menangis, masihkah kau ingat saat aku menghubungimu detik itu juga? Aku mencoba mempertahankan hubungan kita yang mulai runtuh, kuceritakan tentang dunia-dunia yang ingin aku jelajahi, berdebat mengenai ketidakmungkinan yang kau yakini namun membuatku semakin yakin, tentang betapa jatuhnya aku pada langit malam, mars, pluto dan benda-benda angkasa lainnya. Kau terdiam, mencerna segalanya, menanyakan hal-hal yang aku sendiri bahkan tak tau dengan benar, kujawab saja semampuku untuk kembali membuatmu bahagia lagi.

“Tunggu…. Biar waktu yang mengembalikan kita” kau tumbuhkan lagi tunas-tunas harapan baru, kau genggam tanganku, aku tau kau peduli, aku tau kau cinta masih sama seperti dulu saat kau pertama kali mengakuinya. “Ada kupu-kupu di perutku, rasanya aneh” katamu. Dulu.. tak pernah kau tahu seberapa banyak kebahagiaan yang kau bawa saat kau mengakuinya. Aku memang tak pandai berkata-kata sayang, jangan cari itu di diriku. Jelas saja aku tak akan secara langsung bicara di depan wajahmu. Ku yakinkan engkau bahwa aku mencintaimu dengan caraku yang ternyata tak pernah kau sadari. Menyakitkan? Memang.

Advertisement

aku kuatkan lagi hatiku, karna percayaku tak pernah sedikitpun berkurang padamu, aku percaya aku harus menunggu seperti katamu.

ku pandangi kalender di dinding kamar, angkanya masih sama pikirku. Kuhitung permenit yang lewat, jarum jam yang seolah melambat. Menunggu bukanlah bagian dari kehidupanku. karna itu dirimu, karna aku percaya cinta, karna ku tatap terakhir kalinya matamu yang biru masih sama. Aku melihat harapan. Aku, yang terlalu bodoh ini, percaya pada cinta yang ternyata meninggalkanku sendiri.

Kau tak kunjung datang ke beranda, tapi cinta menguatkan dan aku tak lagi peduli pada jumlah jam yang terlewat begitu saja setiap harinya.

“Akhirnya!!” aku tersenyum bahagia. Kumelihat engkau berdiri disana, dengan wajah yang tak lagi kukenali. Kusapu keringatmu, “Lelah?” tanyaku peduli. Kau tak menjawab. Kau bercerita tentang ia lagi, cerita yang sebenarnya tak ingin kudengar. Namun aku harus apa? Bila itu membuatmu bahagia, aku siap menahan hatiku dengan perisai-perisai baja. Setidaknya, engkau tau aku peduli. Aku cinta.

“Kau menunggu” suaramu terdengar sedikit berbeda. Aku tau ada sesuatu yang tak semestinya. Aku kedinginan, kupeluk erat diriku. Kutatap lagi wajahmu, entah siapa kau sebenernya saat ini, aku sudah tidak lagi mengenalinya. Kusentuh pipimu yang pucat, kau tak bergerak.

“Aku berhenti mencintaimu, aku tidak tau sejak kapan. Tapi, aku tidak mencintaimu lagi mulai saat ini” katamu. Yang masih terngingang di telingaku sampai saat ini. Kebodohanku berlanjut, aku meyakinkan hatiku bahwa engkau salah mengucapkan, kuyakinkan hatiku, diriku yang bodoh ini untuk tidak percaya. Karna aku pernah percaya begitu dalam, kau mengulanginya. Sekali lagi. Dengan jelas. Tak lagi berani aku pegang hatiku. Aku, aku tak mau mendengarnya. Aku, aku percaya pada cinta yang tak semestinya.

kini, hanya ada aku, yang mencintaimu dengan begitu dalam dan bodoh, sedangkan kau melambai pergi.