Hey, kamu yang telah memilih pergi dari kota ini!

Apa kabar?

Rasanya ingin sekali aku lontarkan kalimat itu padamu yang sekarang entah dimana. Tidak terasa, tiga minggu berlalu sejak dirimu memilih meninggalkan ibu kota ini. Entah untuk berapa lamanya, aku tak tahu. Aku pun tak mengerti dengan pilihanmu. Mungkin kota metropolitan ini membuat mu terlalu lelah menjalani hidup.

Pertemuan singkat kita membuat ku belajar artinya menghargai waktu. Waktu seperti roda yang terus bergerak maju. Tidak dapat dihentikan sejenak atau dibuat mundur beberapa putaran.

Terkadang terbersit keinginan untuk melakukannya. Memutar kembali waktu, disaat kita pertama kali bertemu. Mungkin, saat itu aku akan lebih memberanikan diri menyapamu terlebih dahulu. Tapi, siapalah aku? Aku hanya manusia biasa. Aku bukan dewi atau manusia denga kekuatan super. Pencipta pun yang memiliki kuasa melakukannya, enggan berbuat demikian agar manusia belajar artinya menghargai waktu.

Advertisement

Sulit bagiku untuk berhenti membuat skenario-skenario tentang dirimu dan diriku. Mengandaikan semua itu adalah cerita dari Tuhan untuk kita. Berharap suatu saat dirimu kembali, kata aku dan kamu berubah menjadi satu kata yaitu "Kita".

Kamu tahu?

Aku masih bisa dengan jelas mengingat kalimat sederhana yang dirimu ucapkan dibumbui dengan manisnya senyuman dan hangatnya tatapan matamu. Kalimat penyemangat yang mungkin hal biasa, tapi begitu luar biasa bagi diriku.

Betapa tersentuhnya diriku saat mendengar untaian kata sederhana namun bermakna dari bibirmu yang lebih merona dibanding pria lain. Tatapan hangat yang penuh keyakinan itu mampu membuatku hilang kesadaran. Dua mutiara hitam itu mampu menghipnotis ku menjadi yakin untuk terus semangat dalam menggapai cita-citaku.

Aku tak tahu pasti. Apakah aku bisa bertemu lagi dengan mu?

Wajahmu, kenangan dengan mu, mungkin perlahan akan terhapus oleh waktu. Tapi…

Kata-kata itu akan ku simpan dalam hati sebagai pengingat dan menjadi api penyemangat diriku. Dan, jika Tuhan berkenan mempertemukan ku dan dirimu. Entah dipertemukan untuk menyampaikan perasaan ini atau hanya bertemu sebatas teman. Aku tak peduli.

Aku ingin menjadi seseorang yang berbeda dihadapan mu nanti. Bukan lagi wanita yang kehilangan arah karena luka masa lalu. Tapi, menjadi wanita yang telah berhasil menggapai cita-citanya.