Kata siapa cinta tak mengenal pamrih ?

Finansial sama sekali bukan batas pamrih. Tapi lebih dari itu, keinginan untuk memiliki menjadi andil yang lebih besar. Keinginan memang tak ada habisnya, termasuk keinginan memiliki. Keinginan ingin didampingi. Keinginan diucapkan kalimat – kalimat penyemangat diri.

Tertawalah dahulu tentang kebodohanmu. Untuk setiap kebodohan tentang kemurnian cinta. Bukankah dalam nya cinta tidak mengenal kasta pamrih ? Pamrih hanya secuil bongkahan batu pengganjal yang menjelma pada pengganjal hati.

Karena pertemuan itu candu, dan perpisahan membuat kelu. Setiap putaran waktu menjadi sangat sulit dilepas pergi. Senyum itu, penguat itu, pembuat tawa itu. Semuanya ada disana, cinta.

Yang tak mau ku usik keberadaannya, yang tak mau kuajak beranjak barang satu langkah. Dunianya asyik, melebihi keasyikan kita mungkin. Jadi jangan tanya mengapa. Mengapa Ia tak lagi bersanding. Mengapa Ia tak lagi mencari jejak kaki yang pergi. Mengapa sendiri dianggap menyejukkan hati. Ya, karena cinta tak dibutuhkan lagi.

Advertisement

Untuk setiap keceriaan yang diam – diam tak sengaja ku pamrihkan dengan cinta, maaf. Telah mencampuri urusan cinta dengan pamrih. Mungkin egoku sedang berkobar.

Biarkan saja pamrih menyusup dalam aliran – aliran cinta. Memang itu adanya. Telah melekat tanpa harus direkatkan. Hanya saja akal sadar terkadang terkena hipnotis. Hingga tak sadar kalau – kalau ingin memiliki termasuk pamrih.

Jadi, masih mau mengelak akal sehatmu sedang berjalan dengan baik ketika jatuh cinta ? Kurasa tidak. Semua kelu pada waktu nya.

Hati – hati dengan cinta. Juga dengan pamrih yang tanpa sadar menyusup diam – diam. Atau tentang keinginan bersanding dan berjalan tiap putaran dunia. Kembalikan sabarmu dalam kelokan – kelokan yang benar. Salah sedikit saja, iblis – iblis cinta mudah saja menggoda.