écrivain et peintre. Kau tak pernah tahu, bahwa hati yakin untukmu..

Aku tak ingat, kapan, mengapa, dan bagaimana kau membuat aku jatuh cinta. Aku harus menyalahkan siapa? Aku harus meminta pertanggung jawaban dari siapa? Tidak, aku tidak harus. Mungkin ini kesalahan dari aku sendiri dan hanya aku yang bertanggung jawab atas semuanya.

Mengertikah kau apa yang aku rasa? Mengertikah kau bagaimana perasaanku saat meminum kopi di waktu senja kemudian menyadari bahwa aku telah jatuh cinta pada seorang yang seharusnya tidak aku sayangi?

Kesalahanku yang membuat kau begitu hebat meruntuhkan benteng-benteng yang aku bangun sendiri dengan sakit dan lelahku. Akupun tak mengerti mengapa dengan mudah dan cepat aku mencintaimu melebihi aku mencintai kopi.

écrivain et peintre. See, how meaningful you are.

Advertisement

Demi Tuhan, aku menyayangimu sejak kita sepakat untuk tidak saling jatuh cinta. Sekarang aku baru menyadari, benar kata orang, cinta yang cepat datang akan pergi lebih cepat juga. Kau yang mengajarkan aku hal itu. Kau yang membuat aku jatuh cinta secepat itu, kau juga yang meninggalkanku lebih cepat dari laju cahaya.

Bisa apa aku? Ketika kau mengakhiri kisah kita yang semu. Meninggalkanku yang terlanjur sukarela jatuh cinta padamu.. Kau melupakanku dan berharap aku baik-baik saja. Ironi.

Kau tahu kesalahan kedua yang aku lakukan selain jatuh cinta padamu? Tidak berbuat apa-apa ketika kau pergi meninggalkanku. Sungguh menyedihkan, bukan? Aku yang menyadari bahwa kita adalah kisah semu, namun aku juga yang menjadikannya seolah nyata.

Kadang, yang aku lakukan saat mengingat kebersamaan kita dulu adalah tertawa. Iya, tertawa bukan menangis. Tertawa, menertawakan kebodohan dan ketololan yang aku buat sendiri, menertawakan semua yang aku biarkan terjadi dan menertawakan kenyataan bahwa akhirnya aku jelas ditinggalkan si ‘écrivain et peintre’ yang dengan mudahnya membuat aku jatuh cinta.

Sejak aku jatuh cinta padamu. Aku meyakini kau sebagai ‘rumah’ tempat aku pulang dan kembali. Namun karena waktu yang kau berikan begitu singkat, pondasi yang aku buat untuk membangun rumah itu sungguh sangat rapuh. Tidak sekokoh dirimu saat meninggalkanku dengan segala kesakitan dalam dada.

Sekarang apa yang harus aku lakukan? Rumahku tak lagi menerimaku sebagai pemiliknya. Betapa menyedihkan dan menyakitkannya jadi aku, rumahku mengunci dirinya sendiri, aku tak tahu kuncinya di mana, aku tidak tahu cara membukanya bagaimana. Kemana aku harus pulang dan kembali?

Tolong, tak apa kau tidak lagi menjadi rumahku, tapi tunjukkan aku jalan keluar. Akupun tidak akan memiliki rumah baru, jadi tetaplah di sana, biarpun bukan lagi milikku, setidaknya jika kau masih di sana, aku bisa memastikan kau ada.

Hai, rumahku!

Tunjukkan aku jalan keluar, ya? Aku tersesat.

Juga berikan aku alamat toko buku yang isinya cara aku melupakanmu.

Atau tempat les yang gurunya mengajarkan aku merelakanmu!

Oh iya, tahu arti dari écrivain et peintre? Itu bahasa Prancis dari 'Penulis dan Pelukis.'

écrivain et peintre!

Aku merindukanmu. He he he.