Masih sangat keras di ingatan, tentang kita yang pernah berjuang sama –sama. Kau yang pernah membuat hariku serasa berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Pagi ku yang disapa oleh pesan singkat menjadi alasan untuk selalu tersenyum menyambut hari ku.

kau yang berhasil menghadirkan semangat baru waktu itu, ketika sedang berjuang melawan derita hidup kala itu.

Aku senang sempat merasakan indahnya dunia bersama mu. Dari beberapa phatner yang pernah singgah di hidupku, kau adalah sosok yang paling ku banggakan.

Entah pupuk apa yang telah kau tabur pada itu, membuat perasaan ini masih tumbuh subur untukmu. Kau merupakan salah satu sosok pahlawan dihidupku.

Pernah membuat ku bangkit dari sakit hati yang di ciptakan seseorang kala itu.

Advertisement

Meski kini kau belum bisa ku genggam, tapi setidaknya aku masih selalu panjatkan doa ku untuk mu. Mengagumi mu adalah tugas yang selalu ku lakukan, dan merindukanmu adalah hal yang tak pernah jauh dariku, dan mencari tahu tentang mu adalah hal yang masih ku lakukan hingga saat ini. Aku tahu… mungkin merindukan mu adalah dosa bagi ku, tapi mengagumi mu merupakan doa kecil ku. Masih tertayang kuat di benak ku tentang semua skenario yang kau tinggal kan sebelum kau menghilang dariku. Entah lah… kadang aku bingung, kenapa mengagumi mu hal yang tak pernah bosan untuk ku lakukan. Seakan-akan itu seperti adelweis yang selalu abadi dan bertahan di sepanjang musim. Kau mengajarkan aku banyak hal, sangat terasa efek dari kedatangan mu di hidupku.

Jiwa bijakmu dan tutur katamu yang membuatku tak pernah merasakan kadeluarsa untuk mengagumimu.

Saat banyak orang berbicara padaku bahwa kau bukan orang yang tepat untuku, senyumku lah yang berbicara. Ada hal yang mereka tak melihatnya namun aku mampu melihatnya padamu. Aku yang tak pernah berhenti menuliskan semua tentang kita. Dan kau pembaca yang buta mengaja luka. Aku lelah bersembunyi di bilik sajak, aku memilih memperhatiakan mu di setiap coretan pena ku. kelak, abaimu akan menjadi sepasang mata yang tak hentinya menumpahkan bening rindu kepergianku.

Kini, aku hanya bisa mengenal mu dalam doa, menyebut nama mu dalam doa, mendekap mu dalam doa, merindukanmu dalam bait-bait doa, dan masih menginginkan mu dalam dunia nyataku. Kau yang sering menyebutkan kata untuk selalu bersamaku, hingga terlena dan lupa ternyata kau sudah pergi. Kau mungkin tak pernah merasakan pedihnya terabaikan sampai titik terlumpuh untuk bangkit, pedih, itu sempat terasa sebelum mati rasa. Kini aku hanyalah seorang penghayal, pengagum mimpi, pemulung rindu, yang punya hak untuk menikmati nyata kepergianmu.

Aku pun mulai memahami, perlahan menikmati, eloknya menunggu dan indahnya terabaikan. Aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk mengulang,

aku hanya bisa menoleh dan merenung. Tak ada yang perlu disesali bahkan sekali pun untuk mengingat sesuatu yang salah. Sebab yang lama akan berlalu, tidak perlu resah mengenang suatu yang MANIS.

Selalu yakin MASIH AKAN DATANG YANG LEBIH BAIK. Just hope for something!