Aku memang tak pernah menyadari akan hal ini ketika aku menjatuhkan hati ini padamu, sebab ini jauh lebih sakit dari patah hati. Saat dimana kau tidak bisa menghargai keberadaan ku sebagai orang baru setelah masa lalu pergi dengan kenanganmu dulu.

Mungkin karna kau belum terbiasa dengan ku atau kau yang masih berharap pada masa lalu mu, hanya ini selalu yang ada dalam pikirku selama kita menjalin hubungan yang selalu kau penuhi dengan kebohongan, entah karna kau tak memiliki rasa atau karna aku yang terlalu jauh ketika berharap, hingga aku tak paham ketika balasan mu seperti ini.

Mungkin paras ku memang tak secantik masa lalu mu, Ucapanku tak sesuci dia yang hadir lebih dulu dari aku. Tapi, aku juga punya kelebihan yang tak perlu kau bandingkan dengan masa lalu mu. Aku tau kau hanya masih terbiasa dengan masa lalumu, hingga setahun hubungan ini berjalan kau tak pernah henti melibatkan masa lalumu dalam hubungan ini.

Sungguh kuat bukan cinta yang kupunya hingga aku masih bisa berdiri setegar ini dihadapanmu bukan untuk meminta mu melepaskan dia sebagai masa lalu mu, hanya saja aku sedang memperlihatkan kelebihan yang aku punya.

Aku tau wanita hanya pandai menyembunyikan luka dan selalu ingin menyimpan rasa sepinya sendiri. Sebab ketika aku melibatkan mu bukan hal yang sama yang aku dapatkan darimu, namun rasa sakit yang teramat dalam karna perlakuan halusmu ini.

Advertisement

Dulu aku selalu menjadi bintang ketika malam mu redup karna awan hitam, namun kau tetap mengilangkan cahayaku dengan awan hitam mu, aku memang selalu kalah ketika kau membandingkan aku orang yang berharap kelak akan menjadi masa depanmu, dengan dia yang pernah menjadi masa lalu mu. Bahkan sampai saat ini pun aku menjadi terbiasa ketika haru menerima perlakuan manis itu darimu.

Sayang, lihatlah aku yang terus berjuang untukmu, lihatlah aku yang tak pernah mengeluh akan sikapmu, lihatlah aku sebagai orang yang juga ada dalam cerita mu, bukan bagian dari pelarianmu hanya untuk mendapatkan simpatik dari masa lalumu, hingga kau terlihat baik dihadapan dia.

Perjuangkanlah orang sedang memperjuangkan mu ini. Ingatlah janji yang selalu kau berikan padaku, walau aku tahu bahwa aku hanya sedang menggengam kaktus yang tajam dengan duri di sekelilingnya, semakin berdarah ketika aku menggenggam erat, dan semakin mereda ketika aku melepas genggamanku.

Terima kasih untuk waktu, luka, dan harapan yang telah kau janjikan, jika waktunya tiba aku akan mengikhlaskan segala perbuatan yang tidak baik ini yaitu dengan melepaskanmu dan membebaskan mu dari jeruji yang menutup jalanmu untuk kembali kepada masa lalumu.

Mungkin itulah yang pantas aku berikan ketika perlakuan ini yang selalu ku terima. Karna ketika aku berjalan sendiri semua luka yang aku terima akan tersembuhkan dengan sendirinya.