Kamu adalah apa yang aku harapkan. Kamu begitu baik dan begitu memahamiku. Cerita teman-temanku tentang pengalaman mereka berpacaran, tentang bagaimana pacar-pacar mereka begitu posesif, annoying, bahkan kasar, sama sekali berbeda dengan kisah kita. Aku tak menemukan sedikitpun celah dirimu. Kamu mendekati sempurna. Mungkin itu sebabnya kita bahkan tak pernah bertengkar.

Tepat setahun sudah kita bersama, mulai terasa kerikil-kerikil kecil dihubungan kita. Kamu mulai berubah. Aku tak bisa lagi bebas bercengkrama dengan teman-teman sekelasku. Kemanapun aku pergi, harus dengan izinmu. Bahkan seringkali kamu ikut menemaniku. Awalnya, aku pikir kamu hanya ingin menjagaku. Aku pun tak terlalu mempersoalkannya. Kemudian aku sadar, kamu terlalu posesif.

Seorang teman pernah memberitahuku, “kalau cowok posesif, biasanya ada yang dia sembunyiin. Kalau kamu harus laporan tiap kali mau jalan sendiri, mungkin dia takut papasan sama kamu di jalan.” Setelah hampir dua tahun kita bersama, aku menemukan sisi lain dari kamu. Kamu yang awalnya seorang yang jujur, aku dapati bermain hati. Gadismu bukan hanya aku, ada yang lain.

Katamu, kamu tak ingin melepaskannya dan juga tak ingin kehilanganku. Aku yang sebenarnya terluka pun, tak ingin melepaskanmu. Aku ingin tetap di sampingmu. Lalu terucaplah janji itu, “dia hanyalah untuk sementara, sedang kamu untuk selamanya. Aku janji kembali padamu, dan kita akan bersama selamanya.” Dengan betapa bodohnya, aku percaya itu.

Kamu tetap menjadi satu-satunya lelakiku. Tak pernah terbersit dalam otakku untuk menduakanmu. Aku tetap berada di sampingmu meskipun kamu sudah tak lagi perhatian, tak lagi ada untukku seperti dulu. Hingga suatu hari kamu menghilang. Tak ada kabar darimu. Kamu menghilang, meninggalkanku bersama janjimu. Aku pun berjanji, tak akan pernah memaafkanmu.

Advertisement

Dua tahun setelah kamu menghilang, Tuhan menghendaki kita bertemu lagi. Kamu berjalan beriringan dengan seorang wanita dan menggendong seorang bayi lelaki tampan, yang kamu sapa Natha. Sementara aku, aku memegang setumpuk berkas di tangan kiriku, dan tangan kananku menggenggam secangkir kopi. Kamu menghampiriku, mengucapkan permohonan maafmu.

Maaf karena telah menghilang, karena telah meninggalkanku, karena tak sanggup menepati janjimu. Dan yang bisa aku lakukan, hanyalah tersenyum dan berlalu meninggalkanmu. Segala kata yang ingin kuucap, tertahan. Aku tak mampu lagi mengatakan apapun. Amarah, rindu, bahkan cinta yang ku rasakan bertahun-tahun, menguap begitu saja. Rasa lega kemudian menghampiriku. Akhirnya aku tahu kabarmu. Akhirnya aku tahu, kamu bahagia.

Akhirnya aku tak perlu lagi mencemaskanmu. Aku juga bahagia. Untukmu, aku memaafkanmu. Aku maafkan setiap janji yang terucap namun tak bisa kamu tepati. Aku maafkan tiap goresan luka yang kamu berikan. Aku maafkan tiap cemas yang aku rasakan selama kamu menghilang. Untukmu, terima kasih telah menjalani hidupmu dengan bahagia. Terima kasih karena telah menemukan wanita baik. Terima kasih telah menjadi ayah dari seorang George Nathanael. Tepatilah janjimu, bersama istri dan anakmu, selamanya!