Kucoba ingat ingat awal salam hangat perkenalan kita, kala itu aku yang tak pernah beniat sama sekali menyapamu , melirikmu, apalagi melihat lebih dalam siapa dirimu. Hingga pada masanya Tuhan berikan jalan agar kita saling menyapa, saling bersua. Kini dibawah teriknya mentari sore hari, kucoba kembali merapal semua yang terjadi. Layaknya roda-roda motor yang melaju kencang dihadapku, berputar tiada henti silih berganti.

Begitupun kenangan yang terus saja menghantam pikiran dan menghantui

Hai.

Apakah Tuhan mengirimmu sebagai bidadari bak Arjuna penakluk hati ? Entahlah, saat ini aku hanya terjebak pada permainan hatiku sendiri. Walau sedari awal kusadari, permainan ini beresiko dan tentunya akan saling menyakiti. Sungguh aku tak percaya, ingin rasanya aku melepas semuanya. Kuhamburkan ringan bak kapas-kapas beterbangan.

Tentunya masih lekat dibenak bukan, bagaimana kita merancang asa. Bagaimana kita menuliskan bermilyar-milyar cita-cita. Setelah sekian lama kita menanti dari bulan , minggu, hari , jam , menit , detik hingga tiba masanya kita saling berjumpa, kau memilih diam seribu bahasa. Mengalahkan kicauan binatang malam yg saling bersua dan dingin sikapmu bak es yang membeku.

Advertisement

Saban hari kurapalkan doa-doa untukmu.

Bukan lagi doa agar kita dapat bersatu, tentang doa yg melebihi rasa cintaku padamu

Rapal-rapal itu bak terapi hati, agar aku lebih memahami bahwa kau memang tak selayaknya kumiliki.

Sayang, rasa ini sungguh menyeruak di dalam jiwa. Bait-bait cinta yg kita bangun bersama seketika runtuh di hempas gelombang samudra. Kuingat bagaimana kau katakan hendak menua bersama, tentangmu yang akan setia, meski rambut putih yang telah menghiasi kepala.

Tentang kesiapanku menjaga amanah putra-putrimu yg hendak kau titipkan dipundakku.

Tentang ucapan manismu yang berlabel "selamanya" yang harusnya kata itu sakral untuk kita. Kau sungguh ahli persuasi atau mungkin diriku yg terlalu dungu hingga mudah larut dalam suasana haru.

Kamu yang masih saja berjibaku dengan diammu itu , cobalah mendekat, jika kau tak kuasa melihat, tutuplah matamu, asal jangan kau tutup hatimu. Tak perlu serapi itu kau berusaha bersembunyi dariku. Mendekatlah, akan kubisikkan sesuatu padamu.

"Tenanglah, jangankan menghubungimu, menyapamupun sudah tak bergairah bagiku 🙂