Cinta memang merupakan anugerah. Saat ini aku mengalaminya dalam fase yang sudah menerima kasih sayang bahkan patah hati. Aku sudah mengalaminya, berbagai peristiwa, kesempatan, some people yang pernah deket sama aku dan banyak karakter yang berbeda setelah aku mengenal mereka. Namun aku merasakan pahit yang amat terdalam untuk kedua kalinya. Hati aku seperti bagaikan permainan yang seenaknya datang dan ditinggalkan begitu saja, tanpa izin. Kadang aku bepikir, apa salahku sampai aku menerima semua ini khususnya soal cinta.

Bicara soal cinta memang tak pernah ada habisnya. Dulu aku dibuat galau, boleh dikatakan si ”K”. Hampir 2 tahun aku bisa move on dari masa laluku di SMK. Perjalanan yang sulit awalnya untuk aku bisa menerima hal baru yang sesuai dengan hati. Aku dibuat fall oleh “K”, berawal dari tegur sapa di Facebook. Kalau boleh mengingat masa itu mungkin akan sangat panjang ceritanya. Tapi di sini akan aku buat sesingkat mungkin kenangan aku bersama “K”. Rasa yang membosankan dan lama-lama merindukan, itulah sikapnya dia ke aku pada saat itu. Rasa yang membosankan karena dia sering kali main kerumahku, hampir tak pernah absen.

Itu menjadi ciri khas yang membuat ku selalu ingat. Pepatah yang seringkali diingat “bisa karena terbiasa”, ya aku bisa sayang dengan dia karena kebiasaanya terus memberikan sikap tak pernah terduga. Dia dulu ngga pernah buat aku bosan. Beda dengan lelaki yang selama ini aku kenal. Komunikasi nggak pernah putus selama 2 tahun itu. Ada saja waktu untuk dia terus memberi kabar.

Padahal kami sama sekali tidak pernah membuat satu ikatan atau jadian.Terkadang kalau aku mengingatnya seakan aku sebagai wanita sangatlah bodoh. Cinta benar adanya membuat seseorang menjadi buta. Memikirkan hatiku saja aku ngga mampu. Apalagi aku untuk bisa bersamanya waktu itu. Setelah 2 tahun terlewati otomatis aku bisa melupakan seseorang yang pernah ada waktu aku SMK.

Justru lambat laun aku dibuat sakit hati, bahkan diam-diam sudah memiliki kekasih dan sudah jalan 2 bulan. Memang saat itu aku ngga berhak buat marah karena aku bukan kekasihnya yang dia kenal selama 2 tahun belakangan. Rasa sakit yang mendalam timbul ketika 1 bulan dia sudah tidak pernah melakukan komunikasi denganku. Semua berubah, berbeda saat dia pertama kali kenal denganku. Aku sadar, bahwa sebuah pengharapan hanya kepada Allah SWT.

Advertisement

Kalau sepenuhnya berharap dengan orang lain, yaaaa hasilnya seperti ini patah hati. Aku ingin dia menghargai aku, apa susahnya dia bercerita atau jujur bahwa aku hanya sebatas teman. Jadi, aku tidak merasa diberi harapan selama 2 tahun. Begitu teganya dia. Masa lalu ya masa lalu, seharusnya aku jangan mengulanginya dan aku jadikan pelajaran. Tapi aku sekarang mengalaminya kembali dengan masa laluku dengan dia masa SMK.

Hidup itu sebuah cerita, tidak akan ada cerita jika tidak ada masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Setelah aku lulus, tiba-tiba dia muncul dan membuatku bingung. Mengap? Sejujurnya aku ngga mengerti maksud ini semua. Di saat aku bisa melupakan semuanya, terutama kembali dengan aktivitasku. Aku kembali merasakan kerinduan yang tak terbalaskan.

Aku mencoba menegur dia kembali, berharap ada respon yang membuatku lega. Tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang aku inginkan. Memang diskusi aku dengan dia sangatlah baik. Ada yang berbeda, seperti ada jarak yang membuat dia meresponku seperlunya. Sangatlah simple. Betapa besar keinginan aku untuk dia punya inisiatif sekedar ingin tahu kabarku, atau mengajak meet up.

Sama sekali tidak. Aku merasa dipermainkan oleh keaadaan. Aku sangat kangen dia, obat yang mampu menyembuhkan rasa kangen hanya ada pada pertemuan. Aku tidak menuntut lebih darinya. Aku masih sayang dia, aku ungkapkan secara gamblang, namun jawabannya hanya terima kasih. Aku pun menulis bahwa aku sayang dia bukan untuk memberikan dia harapan atau mengulang kembali hubungan terdahulu yang sempat kandas, sebab aku memutuskannya.

Aku sayang dia karena itu aku merindukannya. Aku ingin memberikan dia semangat. Aku ingin menagih kata-kata dia yang ingin menunggu aku usai lulus kuliah. Aku ingin dia membuktikan bahwa dia masih tetap sayang aku meski kita sudah tak berhubungan lagi. Apakah dia sudah berubah pikiran? Sampai-sampai aku membuat tulisan yang begitu panjang sekaligus ucapan selamat ulang tahun kemarin. Dia hanya membalas dengan semua kata-kata TERIMAKASIH TERIMAKASIH TERIMAKASIH TERIMAKASIH TERIMAKASIH.

Apakah kamu tidak memahami maksud dari tulisan aku sayang?

Aku menulis itu dengan penuh penghayatan dan hati-hati. Aku sedih banget kamu hanya merespon seadanya. Tanpa tahu aku di sini sangat merindukan kamu. Sayang, kalau aku masih dikasih kesempatan, aku ngga akan sia-siakan kebaikan kamu. Kesabaran kamu. Aku rela selalu aku lebih dulu menegurmu. Ngga peduli orang beranggapan aku layaknya wanita ngga punya harga diri masih menghubungimu. Tapi kenapa kamu seperti acuh sama aku, kenapa?

Sayang, aku pengen kita ketemu. Aku ingin bicara sama kamu membahas yang terdahulu kesalahan yang aku buat. Aku ngga peduli dengan hubungan. Aku percaya akan takdir Allah S.W.T jodoh sudah ada yang mengatur. Aku cuma ingin ketemu kamu itu saja. kamu mungkin tidak pernah menyadari keaadaan aku sekarang. Kalau memang ini mau kamu. Aku terima.

Aku harus menunggu kapan waktu mengizinkan kita untuk bertemu. Untuk kamu yang di sana aku merindukanmu. Entah kamu masih ingat atau tidak tentang hal-hal yang kita jalani saat itu. Cuma aku yang mampu mengingatnya. Tanpa perlu kamu tahu. Ini semua menjadi pelajaran buat aku.