KU NANTI CINTA DI SAJADAHKU

Rembulan sedang memamerkan senyum indahnya di atas sana, tidak seperti biasanya yang hanya malu-malu dibalik awan mengintip ke bawah, layaknya aku yang mengintip keluar dibalik tirai jendela bukan berarti aku malu terhadap sesuatu, ini hanya kebiasaanku hampir tiap malam di beberapa waktu belakangan ini, aku sedang senang-senangnya memandangi langit malam entah kenapa hanya saja aku bahagia menikmati langit meski kadang mendung, begitu banyak ku gantungkan mimpi-mimpi, begitu jauh ku sembunyikan rindu dibalik awan hingga tak terlihat. Rindu yang masih kutelusuri dari mana datangnya tapi semakin jauh nalarku untuk coba menemukan alasan justru semakin aku terjebak dalam rindu yang kian merekah bak bunga mawar yang baru saja berkamuflase dari kuncupnya. Rindu ini yang mengenalkanku pada malam, rindu yang semakin khusyuk ku utarakan jika telah sampai pada tengah malam, jika aku hendak menangis apa itu karena cengeng? Bukan ! sama skali bukan! Ini manusiawi. Nah, ada hal yang harus digarisbawahi di sini menangis kenapa? Saking rindunya? Iya,

karena air mata adalah satu-satunya cara yang dilakukan ketika lisan tak lagi mampu mengutarakan apa yang sedang terjadi dalam batin.

Aku menyebut-nyebut sebuah nama tiap kali memandang langit, seseorang di kejauhan sana yang mungkin saja sedang melihat ke arah salah satu bintang dan mungkin aku bisa bernegosiasi dengan sang bintang meminta untuk menerangi malamnya. Telah sampai pada tengah malam, awan tebal mulai mendekati rembulan mungkin ia mulai irih menyaksikan romansa percakapan kami hingga semakin khusyuk nama itu ku dekatkan dalam batin dan ku pertegas dalam memori. Saatnya berbicara ke arah bumi namun tetap terdengar oleh langit, apa itu? Berbicara seperti apa itu? Sujud panjang tengah malam, seperti itu aku menyebutnya. Konyolkah yang kulakukan ini? Terlalu berlebihankah caraku memaknai perasaanku? Terlelu menggebu-gebukah aku untuk menggapainya? Jika aku tidak diperkenankan untuk dibersamakan dengannya maka salahkah aku jika mendoakan keselamatannya? Dan salahkah juga jika sejujurnya hati kecilku selalu mengharapkan untuk dipersatukan?

“Akan ada hari dimana kugelar sajadahku dan sajadahmu kita bersujud dalam sepenggal waktu yang sama, do’a yang terucap darimu kuamini dalam hati satu shaf dibelakangmu”.

Advertisement

Harapan itu selalu ku gantungkan setinggi mungkin, hingga tak satupun yang bisa melihatnya, biarkan saja tak diketahui yang lain sampai aku bisa meraihnya.

Wahai kamu, aku menantimu di sini menyebut namamu dalam setiap sujud panjang tengah malamku, apakah kau tau itu? Sujud adalah posisi terendah yang kita lakukan sebagai wujud betapa rendahnya kita di hadapan Tuhan, mengapa justru di posisi terendah itu aku menyebut namamu?

Karena justru di posisi itu aku merasa sangat dekat dengan Tuhan kita, aku bercerita panjang lebar kepadaNYA tentangmu, aku meminta agar DIA selalu melindungimu dan merahmati setiap langkah perjalananmu.